[PoH]Cemburu

Sunday, April 29, 2012

Rhyme A. Black
PresenT
A NaruHina Fanfic
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Warning : AU. OOC. OOC. OOC.
Enjoy this!
Pict from here

"Tak bisakah bila di matamu hanya ada aku?"
~0o0~
Kamu masih sibuk mengoceh tentang pertandingan Volly kemarin. Sekolah kita bisa melaju ke babak semifinal Kejuaraan Antarsekolah, dan itu semua berkat dirimu. Kau terus bercerita tetang betapa alotnya pertandingan kemarin. Padahal, tanpa kau ceritakan pun aku sudah tahu, aku pun kemarin turut dalam tim pendukung sekolah kita. Meskipun aku hanya bisa duduk di bangku penonton, aku selalu bisa merasakan semangatmu yang akan bertanding. Seolah-olah akulah yang berdiri di tengah lapangan sana.
"Dan kemarin, gila! Smashernya tim SMA 8 itu udah badannya ged——"
"Naruto! Hinata!" ada suara lain yang menginterupsi ceritamu, lalu kita sama-sama berbalik dan mendapati temanmu yang berambut model eighties itu sedang berlari-lari kecil ke arah kita berdua.
"Tunggu..." Katanya.
"Kenapa lo?"
"Nih... Buat Hinata."
"Lo naksir Hinata?" kau berkacak pinggang sambil memelototi temanmu itu.

[PoH]Kamu Tetap Manis, Kok.

Sunday, April 22, 2012



R
hyme A. Black
PresenT
NaruHina Fanfic
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Warning : AU. OOC. OOC. OOC kakaaa'
Enjoy this story!

pict from here

"Apa pun yang kau pakai, kau tetap terlihat manis di mataku..."
 ~0o0~


"Wakakakak... kamu lucu banget, ih... khikhikhi..."

"Naru-kun!" aku merenggut kesal kepadamu yang sedari tadi terus menerus menertawaiku, tak urung, buku paket kimia yang sedang aku baca, kupakai untuk menimpuk kepala pirangmu itu.

"Tapi beneran loh Hime, muka kamu jadi aneh gitu." ejekmu lagi diikuti suara gelak tawamu itu yang kini membuatku bimbang, antara ingin memukulmu lagi atau mendiamkanmu saja.

Berusaha mengabaikanmu, aku kembali memusatkan perhatianku pada materi Alkana dan Turunannya yang tadi sempat terinterupsi karena kau yang tiba-tiba saja muncul dan langsung menghinaku tadi.

"Hime, senyum dong... sedikit aja..." katamu lagi. Dan kini konsentrasiku pun mulai membuyar. Sekuat apapun aku berusaha untuk mengabaikanmu, suaramu yang berat itu terus saja mengusik telingaku.

"Hime, beneran deh aku gak bakalan ketawa kok. Suerrr..."

Aku hanya melemparkan sekilas pandang padamu, lalu kembali berusaha menseriusi bacaanku.

"Aku gak nyangka aja kamu mau pake yang begituan juga," ocehmu lagi. "Himeeee... jangan pelit gitu dong, aku mau liat lagi."

"Nggak mau ih!" tukasku, menutup setengah wajahku dengan buku tulis yang ada di sampingku.

"Yaa, Hinata-hime gitu ih. Padahal lucu loh, kamu kalau senyum jadi cling-cling gitu. Hahahha..."

Feel Pressed

Tuesday, April 17, 2012

Guys, sumpah UN hari ini gue depresi banget. Bukan karena jawabannya,
tapi karena masalah biodatanya.

Sumpah, gue takut banget, jangan sampe LJUN gue kenapa-kenapa or gak beres.

Tadi kan gue lagi ngisi biodata, nah pas udah sampe kolom tanda lahir
Listening Section buat bahasa Inggris udah mulai. Nah otomatis gue
berhenti buat dengerin kasetnya kan. Nah, selama ngerjainnya itu gue
lempeng aja. Don't have any problem untill time end.

Pas keluar ruangan, gue kasih tahu Gerlan, temen gue kalau dia salah
isi paket di absen ujian tadi. Terus kita istirahat deh, nunggu buat
Fisika.

Terus, waktu istirahat habis, pengawas datang, LJUN dibagikan, soal
dibagikan. Nah, pas di sini paket teracak lagi, tapi langsung
dibenerin. Dan soalnya dikerjain dah.

Soal Fisika tadi, antara di bumi dan neraka kakiku. Tuhan saja yang
tahu apa yang terjadi. Entah, berapa jonga yang gue 'tembak' tadi.

Dan, pas tinggal lima menit lagi, kita diingatkan untuk memeriksa
kembali biodata yang kita isi.

Dan di sini lah gue feel pressed.

Endingnya nomor ujian gue belum gue isi! Angka 6-nya belum gue
lingkarin. Kamfret. Sumpah gue langsung panik. #apadeh

Setelah mengatasi kepanikan gue selama sepersekian detik, gue
cepat-cepat mbuletin tuh angka enam. Dan setelahnya...
Gue galau.

Gue mikir, apakah gue tadi pas Bahasa Inggris ngisi juga endingnya
nomor ujian gue? Gue buletin atau nggak?
Arghrgh! Sumpah pressed banget! Perasaan gue gak tenang sampe di
rumah. Belum lagi di rumah tambah di-press sama Bunda,
disalah-salahin. Padahal gue ini lagi butuh didukung! Bukan tambah
didepresi-in. Belum lagi adek-adek gue yang ngusik, tambah nge-press
nih gue. Otak, badan, perasaan. Capek. Capek semua.

Guys, mohon doanya ya. Yakin bahwa gue udah ngisi biodata dengan benar.
Please, I need a ton of 'keyakinan'.

Doain gue ya. :'(

#Ya Allah, please help me. Love You.

Selangkah Demi Selangkah, Menjemput Akhir

Saturday, April 7, 2012

Saya tidak sadar ada apa dengan hari ini sampai Pak Lambaru menutup
materi pelajarannya hari ini. Tentang materi Integral Trigonometri
yang tadi saya tanyakan.
Saya tidak sadar sampai beliau sendiri yang mengatakan bahwa hari ini
adalah kali terakhir kami bertatap muka dalam suasana PBM.
Saya tertegun, beberapa teman kelas pun begitu. TeenSquad tidak
menyadari hal ini.
Ini adalah akhir pertemuan yang memiliki dua sisi. Satu sisi dia
menyadarkan kita untuk menyongsong harapan, namun di sisi lain begitu
menyakitkan.
Hari ini, di kelas ini, kami berpisah dengan dua guru. Saling melepas
dan dilepas satu persatu. Hari ini adalah awal, bahwa esok kami akan
melangkah dengan kaki kami sendiri. Berbekal ilmu yang telah diberikan
oleh bapak dan ibu kami. Dengan sedikit petuahnya, mereka mengantar
kami menjemput matahari.
Hari ini. Kami melepas satu-satu.



[PoH] Hal Manis Itu Bernama Kenangan

Saturday, March 31, 2012

Rhyme A. Black
PrensenT
A NaruHina fanfic
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Warning : AU. OOC. OOC. OOC kakaaa’
Pict from here
"Karena setiap hal yang kita lalui akan menjadi sebuah kenangan yang berharga..."

~0o0~
Saat ini aku sedang mempersiapkan bekal makan siangku. Setelah memasak sarapan, aku bergegas mencari tempat makan di lemari penyimpanan dapur. Karena kemarin aku begitu terburu-buru untuk pulang, tempat bekal yang biasanya kubawa tertinggal dalam laci mejaku. Tanganku sibuk membongkar-bongkar susunan rantang dan beberapa tempat makan. Sampai akhirnya mataku tertumbuk pada sebuah tempat plastik berbentuk kotak berwarna kuning dan bergambar Mickey Mouse. Tanpa sadar, seulas senyum terbit di bibirku. Kotak makan dengan gambar kekanak-kanakan ini punya sebuah kenangan. Kenangan yang sekarang ini terasa begitu manis. 

Apa Maumu?

Wednesday, March 28, 2012

Apa maumu sayang?

Tinggi salah, rendah salah.

Usaha pun tak kau dengarkan.
Kau anggap mulutku sama dengan mulut-mulut yang recoki telingamu

Apa maumu sayang?
Apa?

[PoH]Untuk Kamu yang Selalu Lupa

Friday, March 23, 2012


Rhyme A. Black
PresenT
A NaruHina Fanfiction
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei.
WARNING : always, OOC. OOC. OOC. AU.
Hope You Enjoy It!! ^_^

Pict from here

"Karena kisah tentangmu tak akan bisa kulupakan..."
~0o0~

"Kamu di mana?!" suaramu terdengar marah, meski samar-samar kutemukan ada nada khawatir di sana. Mungkin saat ini kamu telah bersiap memaki diriku, pula akan mengomel lagi karena kesalahan yang berulang kali aku perbuat.
Buta arah.
Kesalahan yang paling sering kulakukan ketika bepergian sendiri adalah selalu lupa jalan pulang. Kamu selalu memarahi diriku karena hal ini, tak jarang pula kau mengataiku sebagai 'si jelek yang tak punya rumah' karena seringnya aku kesasar. Seharusnya aku tahu diri, tahu kalau akan dimarahi olehmu. Tapi jari-jari ini selalu memiliki kehendak sendiri untuk memencet deret nomor ponselmu dan memanggilmu untuk menjemputku yang hilang ini.
Maaf, merepotkanmu...
"Hime? Oiii... kamu gak diculikkan?" suaramu membangunkanku dari lamunan tentangmu yang selalu muncul tanpa mengenal waktu dan tempat.
"Ah? Eh... engg... enggak... enggak kok, Naru-kun."
"Kamu di mana?" tanyamu lagi, dengan suara yang disabar-sabarkan.
"Nggak... nggak tahu..." jawabku sedikit ketakutan. Senja telah lewat dan tempatku berada sekarang sudah mulai sepi.
"Deskripsikan tempatmu." perintahmu.
"Engg... banyak pohon-pohonnya..."
"Kamu di tengah hutan?" potongmu.
"Bu-bukan! engg... terus... ada warung kecil, dekat kolam ikan... engg... terus ada... ada... papan rusak yang tulisannya 'dilarang buang sampah di sini'." jelasku panjang lebar, dan berharap semoga saja kau mengerti.
Kudengar suara helaan napasmu di seberang sana, " Hime jelek, selain buta arah ternyata kamu juga gak cocok jadi penulis."
Aku merenggut kesal, terkadang hinaanmu itu menyakitkan.