Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

[Cerita-Cerita] Percakapan Pertama dan Absen Kata-Kata Makian

Tuesday, October 6, 2015

here
Atap apartemen ini hampir tidak memiliki pengunjung kecuali kita berdua. Kadang aku hanya sendirian di sini bila kamu sedang sibuk-sibuknya di rumah sakit. Kadang kita berdua, bila aku tidak mendapat jadwal siaran tengah malam dan kamu sedang tidak mendapat giliran jaga atau operasi di rumah sakit (yang sangat jarang terjadi).
Atap tidak memiliki penerangan yang cukup, hanya ada satu lampu yang sekarat di dekat pintu masuk, yang menjadi sumber cahaya besar adalah lampu-lampu dari apartemen lain, lampu kendaraan-kendaraan yang berebut lahan di jalan raya yang ramai, dan kerlap lampu mercusuar di ujung pantai yang jauh di ujung sana. Kadang kala, bulan dan bintang turut memberi sedekah cahaya bila langit sedang bahagia.

Dua Bungkus Mie Instan Soto Koya yang Kita Makan Berdua [pt. 1]

Saturday, April 18, 2015

Soto koya adalah hidangan favoritku. Baik yang instan, maupun yang dihidangkan di rumah makan. Rumah makan andalanku tentu saja warung soto yang terletak di dekat bundaran kota, Warung Soto. Pemiliknya seperti sudah kehabisan nama, atau mungkin enggan untuk lebih kreatif lagi  sehingga warung sotonya diberi nama Warung Soto, warung yang menjual beragam macam soto dan sop. Soto banjar, soto betawi, beraneka macam sop dan pastinya, soto koya.

Lelaki yang di Bibirnya Ada bulan Sabit

Thursday, September 5, 2013


here
~0o0~
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halamanku, menempuh perjalanan sendiri dengan kereta api yang berangkat malam. Gerbong kelas 2 sudah mulai penuh dengan penumpang, sebagian bercengkrama dengan penumpang sebangkunya, sebagian memakan makan malamnya, sebagian lagi memilih menutup mata dengan tubuh yang dibungkus sarung rapat-rapat. Ramai suara ibu-ibu dan anak remaja menjajakan dagangan mereka, beberapa kali aku ditawari  nasi bungkus dan majalah namun aku menggeleng saja. Sekarang aku hanya ingin mengistirahatkan kakiku. Aku berjalan pelan di lorong gerbong, sedikit kerepotan dengan backpack besar yang kubawa dibahuku.
Kursi 13A.
Akhirnya. Segera kuhempaskan backpack-ku, menggerak-gerakkan sedikit bahuku, lalu mengangkat lagi tas besar itu dan memasukkannya ke dalam kabin. Lekas aku dudukkan diriku, menatap ke luar jendela. Bintang-bintang berjejer membentuk timbangan, rasi bintang libra sedang berdampingan dengan bulan sabit malam ini. Aku tersenyum tipis, menghembuskan napas perlahan. Jejak-jejak itu masih kentara di dalam kepalaku, terlebih pada hati yang tiba-tiba menghangat. Bulan, pada malam ini telah mengingatkanku pada dirinya.
Sosok yang lengkungan senyumnya seperti bulan sabit.
"Kamu Fara, kan?"
Sebuah suara mengagetkanku. Bukan karena ditanyai tiba-tiba, tetapi karena suara itu terasa akrab ditelingaku. Nyaring dan penuh rasa pencaya diri.
Aku menolehkan kepala, meski hati sudah mengatisipasi namun kejut tetap saja mengaliri seluruh tubuhku. Sosok bulan sabit yang baru saja kupikirkan kini berdiri dihadapanku. Telunjuknya terangkat ke arahku, mata coklatnya menatapku dengan binar cerah. Bibirnya, melengkungkan bulan sabit.
Aku masih terpana menatapnya. Ini benar-benar dia?

Perempuan yang Kutemui di Depan Kedai Kopi

Wednesday, August 21, 2013


here

Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, berjalan menyusuri kota menuju stasiun kereta api. Salju sedang turun di bulannya yang kedua, langit tampak kelabu, begitu kontras dengan jalan-jalan yang berkerlap-kerlip dan atap-atap gedung serta tepi jalan yang putih tertutupi salju. Jalan mulai sepi, wajar saja karena sekarang ini waktu hampir menunjukkan dini hari.
Aku berbelok menuruni tangga yang membawaku ke arah stasiun, menempelkan kartu pass-ku pada mesin berpalang dan melangkahkan kaki begitu tabung melintang di depanku itu bergeser membuka. Aku menghela napas sejenak, menoleh ke kanan kiri dan mendapati hanya beberapa orang yang sedang menunggu kereta terakhir datang. Aku kembali melangkahkan kakiku, menuju kedai kopi kecil yang berada di sisi kiri stasiun kereta api.
Setidaknya, aku butuh teman untuk perjalanan pulangku sebentar.
Aku baru saja meraih kenop pintu ketika ada tangan lain yang berada di atas tanganku—hendak masuk juga mungkin ke dalam kedai ini. Kurasakan dingin merambat masuk ke dalam sarung tangan kulit yang kukenakan. Sontak, aku menoleh ke arah tangan kananku. sebuah tangan putih mulus berjemari lentik yang tertangkap mataku, lalu aku melirik ke atas dan mendapati sesosok perempuan tengah tersenyum ke arahku.
"Maaf," katanya pelan.

The Feeling [Second Pieces]

Wednesday, May 15, 2013



here
Sudah hari ketiga sejak percakapanku dan Rhea tempo hari di perpustakaan kampus. Tiga hari pula Rhea tampak sedang menjaga jarak denganku. Entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan diriku, dengan kejadian hari itu, dengan perkataanku, dengan perasaanku. Di dalam hatiku aku merasa ucapanku begitu keterlaluan, dan jauh di dalamnya lagi, di bagian paling dasar aku merasa sedang mengingkari sesuatu.
Aku tidak tahu mengapa aku merasa seperti ini, merasa merindukan suara Rhea yang bercerita tentang lelaki-lelaki yang ia kagumi, yang ia suka, yang ia dekati atau yang sedang ia jauhi. Aku rindu pada anak-anak rambutnya yang jatuh di pipinya, atau pada wajah jahilnya, atau pada matanya yang menyipit curiga. Aku rindu pada senyum cerianya ketika tengah berkisah tentang petualangan hatinya, meski ada rasa iri yang kadang hinggap padaku. Aissshh sialan! Kenapa omonganku jadi kedengaran kayak orang habis putus cinta?

The Feeling [First Pieces]

Monday, May 13, 2013



"When I see you, I fell in love with you. And you smile because you know it."

-Arrigo Boito-

Aku tidak bisa mengerti Rhea.
Rhea, si gadis yang begitu mudah jatuh cinta pada setiap laki-laki yang ia anggap baik, tampan, kaya, cerdas, sekalipun orang laki-laki itu baru sepersekian detik ia temui. Dalam satu perkenalan dia bisa mengidentifikasi laki-laki mana saja yang bisa ia taksir mana yang tidak. Dia seperti punya radar tersendiri untuk laki-laki yang ia angggap memenuhi kriterianya. Tinggi. Atletis. Beralis tebal. Baik hati. Penyayang. Sempurna. Kriteria tipikal yang akan disebutkan setiap wanita bila diminta untuk mendeskripsikan laki-laki idaman mereka. Tapi bagi Rhea berrbeda, ia tidak terlalu memperhitungkan fisik yang mumpuni meskipun terkadang pesona raga lelaki menahan matanya sesaat. Ia tidak akan kenyang dengan melihat bungkusnya saja, ia perlu tahu isinya juga. Dalam hal ini. Otaknya. Kepalanya. Kecerdasan. Tidak perlu sekelas Einstein, cukup untuk bisa menandingin lontaran kalimat dari Rhea yang kadang-kadang perlu imajinasi tinggi serta daya analitis yang kuat, dijamin Rhea rela menghabiskan berjam-jam bersama lelaki 'nyaris Einstein' itu.
Tapi kembali lagi. Rhea begitu mudah jatuh cinta pada fisik sekalipun fisik bukan incaran pertamanya. Bingungkan? Saya saja yang sudah bertahun-tahun jadi sahabatnya bingung dengan konsep hati Rhea yang aneh.
Kakak seniornya di sekolah menengah. Tampan, anggota Paskibraka, ahli pelajaran eksak. Ada sekian minggu Rhea berusaha untuk menambah tinggi badannya agar bisa masuk dalam pasukan pengibar bendera pada acara17-an di sekolahnya. Dengan melibatkan tiang gantungan, obat cina, melakukan gerakan-gerakan menarik-narik kaki dan tangan, pada akhirnya ia bisa sukses masuk ke lingkarna paskibra. Endingnya? dia bisa dekat dengan senior incarannya itu. Ujungnya? baru tiga hari perkenalan dia sudah ogah bertemu cowok tinggi itu. Alasannya?
"Tuh cowok nggak bisa diajak ngomongin Dan Brown, larinya malah ngomongin girl band. Kampret."
Atau yang sedang terjadi sekarang ini. Rhea seorang gitaris band indie jebolan kampus tetangga. Alasan ketertarikan; bisa main gitar, alisnya tebal, tampang oriental ala boyband korea. Dia bela-belain beli gitar ratusan ribu, belajar main gitar sampai jari-jarinya melepuh, beli buku chord-chord gitar, dan si gitaris mulai memperhatikannya saat dia manggung di sebuah festival musik kampus dengan skill pas-pasannya. Endingnya? Dia makin dekat sama cowok gitaris itu, malah sempat diajari main gitar dengan cara picisan film-film Hollywood. Biasalah, si cowok di belakang, sambil memposisikan tangannya pada tangan si gadis, sesekali dengan gerakan yang tidak disengaja tapi sebenarnya disengaja si cowok menyentuh jemari si cewek yang sedang berusaha membentuk kunci C G A Minor dengan tangan yang gemetaran. Lalu mereka saling berpandangan, tersenyum, lalu seisi dunia menghilang dan menyisakan mereka berdua sebagai pemilik bumi ini.

Melepas Cinta

Friday, April 5, 2013

Hola haiiiii!!
I come back again with my new short love story.
Hihihi, ini tuh tugas dari salah satu forum menulis yang aku ikuti, yaitu Forum Lingkar Pena (FLP) ranting UNM. Nah pada saat mengikuti 'karantina', kami para kader ini di suruh buat bikin cerpen, essay, opini dan puisi. Nah, this is my short story.
Hope you enjoy this!
***
here

Melepas Cinta
"Bila di dalam hubungan ini hanya aku yang merasa cinta, aku rela melepasmu. Aku tak akan menahan hati seseorang yang sudah tidak mencintaiku lagi."
***
Sayup-sayup lagu klasik bernada sendu mengalun di dalam kedai kopi itu. Aroma pekat kopi menguasai udara, suara-suara seduhan kopi, gemerisik-redam suara penggiling kopi meningkahi suasana kedai yang sepi. Hanya ada seorang wanita yang sedang sibuk dengan gadget-nya, dua lelaki awal duapuluhan yang tampaknya baru saja pulang kantor, sepasang remaja yang sedang asyik saling menatap satu sama lain di sudut kafe, dengan tangan yang saling menggenggam. Ah romansa masa muda, makanya masih dikelilingi aura merah muda. Belum ada birunya curiga yang memercaki, belum ada hitamnya patah hati yang menodai.
Tidak seperti dia, wanita berbaju merah yang duduk di sudut yang bersebrangan dengan sepasang muda-mudi tadi. Kepalanya bolak-balik mengecek jam tangan dan mendonggak menatap kaca jendela, berharap agar seseorang yang ia tunggu akan datang. Dihelanya napas panjang, untuk kali kesekian dia telah menunggu seseorang sebegitu gelisahnya.
Memorinya kembali memutar kejadian seminggu yang lalu.
***
Waktu itu dia sedang melihat foto-foto liburan mereka berdua di handphone kekasihnya. Ia tengah mengagumi keindahan panorama pantai yang saat itu menjadi latar belakang foto mereka berdua kala sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone kekasihnya. Tanpa nama. Dia yang biasanya begitu menghargai privasi orang lain, entah mengapa begitu tertarik untuk melihat isi pesan singkat itu. Padahal biasanya, ia cuek saja kalau ada pesan yang masuk ke dalam handphone kekasihnya itu.
'Say, Aku kangen banget sama kamu. Janji nonton berdua malam ini jadikan? Love you :*'
Keningnya berkerut membaca pesan singkat bernada mesra itu, seketika perasaan was-was muncul di hatinya. Pikirannya mulai membuat spekulasi-spekulasi, mengira-ngira apa saja yang di lakukan oleh kekasihnya itu di belakangnya.
Apa dia selingkuh?

Cinta, Tak semudah yang Terucap

Tuesday, August 9, 2011

Hohooiii... Nih, ada cerpen baru lagi dari Rhyme. Temanya rada-rada 'dark' gitu. Hehehe... coznya gue habis baca cerpen-cerpennya Mbak Skylashtar Maryam. Sumpah! Cerpen-cerpennya tuh keren bangetttsss. Dan salah satu cerpennya berhasil menginsipirasi gue, yaaa... meskipun cerita di bawah ini sangat melenceng dari tema awal. Tapi, gak apa deh...
Happy reading friendsss! ^_^
~0o0~

Cinta, Tak semudah yang Terucap
oleh Rhynnierhyme

Cinta... beragam bentuk menjelma menjadi kata yang sarat akan emosi itu. Segala sesuatu yang akan menjadi lumpuh karenanya, dan kecerdasan manusia yang paling tinggi pun akan tumpul di hadapnnya. Menyembah bersujud pada cinta, memujanya. Kadang ia menjadikanmu tertawa bahagia bagai seorang ratu, namun kadang pula ia menjebakmu terbungkuk-bungkuk seperti budak. Kadang kau menjunjungnya, kadang pula kau injak-injak ia. Cinta... beragam rupa dan bentuk yang setiap orang memiliki tafsiran yang berbeda-beda tentangnya. Manis. Pahit. Tawar.
Cinta adalah sesuatu yang tak memiliki pendirian, ketidak konsistenan pada hati yang merasa, mengakibatkan banyaknya hati yang terbelah-belah menjadi potongan-potongan yang hanya memiliki sedikit cinta.

Dulu Masjid Itu Kecil

Sunday, August 7, 2011

Hmmm, kali ini gue mau share cerpen gue di sini.gak tahu nih cerpen gajeee... buuuhhh....
Yow, enjoy reading!


~0o0~
Dulu Masjid Itu Kecil
oleh Rhyme



Pict from here

Dulu Masjid Itu Kecil
Dulu masjid itu kecil. Dengan  kubah peraknya yang berkilau tertimpa sinar terik matahari, atap sengnya yang mulai berkarat di sana-sini, lantai marmer dan dindingnya yang mulai pudar warna catnya. Bila musim kemarau, sangat menyenangkan bisa berbaring di lantainya yang dingin. Sejuk di dalam masjid itu bukan karena kipas angin, melainkan angin sepoi-sepoi yang yang datang membelai sukma. Bila musim penghujan, shaf-shaf sholat akan benar-benar rapat. Bukan karena masjid itu kecil, melainkan karena genangan air yang senantiasa ada di sana karena atap masjid yang bocor.
Itu dulu.
Dulu di dalam masjid kecil itu di setiap sorenya ramai terdengar suara anak-anak yang belajar mengaji, setiap minggu selalu diadakan kajian ilmu di dalam sana. Ada nafas-nafas pembangun bangsa di sana. Ada jiwa-jiwa pejuang jihad yang bersujud di sana. Ada detak-detak jantung para penerus khalifah yang bertafakur di sana. Masjid itu kecil, tapi ia hidup.
Itu dulu.
Dulu sebelum aku meninggalkan kota dengan masjidnya yang kecil itu. Masjid yang telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin umat yang bersahaja dan para penghapal-penghapal Al-Qur’an. Itu enam tahun yang lalu, sebelum aku meninggalkan kota dengan masjid kecilnya untuk menuntut ilmu. Agar kelak aku bisa menjadi sederetan nama yang bisa mengibarkan asma Allah di bawah naungannya.
Itu dulu.
Namun, sekembalinya aku dari tanah para nabi dengan membawa gelar yang kuyakin membuat bangga abi dan ummiku telah kulihat perubahan besar dari masjid yang dulunya kecil. Ia tak lagi berdiri rapuh di atas sepetak tanah. Masjid itu kini berdiri kokoh dan megah, ia luas tak terkira. Dinding-dindingnya seputih pualam, dengan jendela yang berkisi-kisi emas. Tak lagi ada karat di atapnya, berganti dengan kubah besar berpuncak lafaz Allah yang menantang langit. Lantai-lantainya berkilauan dengan langit-langit yang tinggi,  ditopang tiang-tiang yang kokoh dan berhiaskan ukiran-ukiran yang indah.

Dreams : Sky

Monday, February 7, 2011

"Langit itu indah ya, seperti kamu."
Pict from here

"Ahahahahaha!"
"Radiiitttt!!! jangan kencang-kencangg!!"
"Ahahahaha! ini hebat Riiettt!"
"Ta-ttapi.. a-aakuu.. ta-ta-takuuuttt."
"Ahahahaha!!!" tawa pemuda berambut cepak itu makin kencang, sekencang laju sepeda yang mereka naiki itu menuruni bukit. Dua anak manusia itu baru saja pulang sekolah, pelajaran tambahan karena akan menghadapi UN mengharuskan mereka pulang sore. Tapi tak apa, itu menjadi momen manis untuk mereka berdua.
Raditya, pemuda yang duduk di sadel depan sepeda itu tertawa riang saat angin menerpa wajahnya, menuruni bukit dengan sepeda yang berkecepatan tinggi sudah menjadi hobinya sejak kecil. Dia sudah anti dengan segala ketakutan akan jatuh, tergelincir, rem blong, atau apapun namanya. Berbeda dengan gadis yang sedang memeluk erat pinggangnya. Gadis itu semakin mempererat pelukannya dan memejamkan matanya kala laju sepeda itu semakin kencang.
"Ririet.. ke pantai yuk." ajak pemuda itu, mata coklat kehitamannya menangkap siluet pesisir pantai yang kini tidak jauh darinya. Gadis yang dipanggil Ririet itu mengangguk dalam diam, masih berkosentrasi untuk tetap mempererat pelukannya. Oh.. rupanya sekarang pelukan itu butuh konsentrasi.
Pemuda bertubuh jakung itu memperlambat laju sepeda hitam bermotif kobaran api miliknya. Menarik napas lega ketika maniknya memandang lurus pada hamparan pasir putih yang tersapu buih ombak. Segaris senyum tipis terukir di wajahnya, kemudian diapun menoleh pada gadis yang masih terus saja mencengkram bagian depan kemeja sekolahnya itu.
"Oiii.. oiii Ririet, udah nyampe nih. Jangan nyuri kesempatan terus dong buat meluk-meluk gue."
Bletak!
"Wadaaawww.. kok gue dijitak sih?" tanya Radit sembari mengelus-elus kepalanya.
"Emangnya yang nyuri kesempatan siapa? Weekkkk.." gadis berlesung pipit itu memeletkan lidahnya, turun dari sadel sepeda dan berlari-lari kecil menyongsong angin. Radit tersenyum, menatap pada salah satu maha karya Tuhan itu. Disandarkannya sepeda miliknya pada salah satu pohon kepala yang tumbuh di sana, sebelum akhirnya berlari menyusul gadis yang terlebih dahulu bermain dengan ombak.

“Radit.. boleh nanya sesuatu nggak?” Tanya Ririet
“Boleh… boleh, mau nanya apa?”
“Kenapa kau begitu menyukai langit?” tanya Ririet.
“Karena…” pemuda itu berhenti sejenak, memandang pada sepasang bola, mata bening yang balas memandanginya dengan rasa penasaran. Mengintip sejenak dibalik manik yang bagai berlian itu, “karena langit adalah hidupku..” jawab Radit dengan tangan yang direntangkan matanya terpejam seolah meminta agar angin sore membawanya ke langit, “aku ingin agar angin membawaku padanya… aku sangat mencintai langit. Dan aku berjanji, suatu saat nanti aku akan terbang kepadanya.”
Ririet terdiam. Kemudian Radit membuka matanya, memperlihatkan suatu pengharapan pada Ririet
“Riet…” Radit memanggilnya pelan, “kamu mau kan jadi langitku?”
~0o0~
THE END.
Setan yang rasuki saia pas bikin nih cerita gaje… hahahaha.

Keponakan, oh... Keponakan.

Saturday, September 18, 2010

Burung-burung telah pulang kembali ke sarang mereka, langit telah membiru gelap dan sayup-sayup kumandang adzan terdengar dari toa mesjid. Saat ini, aku sedang asyik menonton Tv bersama adik-adikku. Yeah, walaupun suara bising mesin jahit bundaku terdengar di telinga kami, setidaknya aku masih bisa menikmati acara Tv yang sedang ditayangkan salah satu stasiun Tv swasta tanah air. Aku beberapa minggu yang lalu mendapat kunjungan dari keponakanku yang datang dari Sinjai. Namanya Ismail Makmur, tapi biasa kami panggil dengan sebutan Aco, dan dia datang ke sini bersama-sama dengan neneknya. Namun, aku lain lagi, aku pasti memanggilnya dengan sebutan Tao Ugi. Habis, dia lancar banget dalam berbahasa Bugis, maklumlah diakan datang dari daerah. Umurnya baru sekitar lima tahun, anaknya bila dilihat secara sekilas terlihat lugu dan polos. Itu baru sekilas, lain lagi kalau secara seksama…
“ACOOO!!!” terdengar teriakan dari adik perempuanku, Nur. Saat ini dia tengah bergulat dengan Aco yang sedang merebut boneka lumba-lumbanya. Aku dan adikku yang laki-laki, Alan, hanya diam mematung tanpa ekspresi, lalu kemudian mengalihkan perhatian kami pada layar televisi lagi. Kasihan Nur, tak ada yang menolongnya, hihihi…
Kemudian, datanglah neneknya dari dapur sembari mengelap tangannya yang basah karena cuci piring dengan baju dasternya, dia langsung menarik tangan Aco dari boneka lumba-lumba Nur.
“Eh, Aco, lokka no ko cemme!!” ucap neneknya dalam bahasa Bugis yang kira-kira artinya adalah ‘Aco, Pergi cepat mandi!”. Maklumlah, Aco seharian penuh bermain-main di luar rumah, mainnnya macem-macemlah. Mulai dari main pasir, main mobil-mobilan, main kejar-kejaran, sampai nyanyi-nyanyi gak jelas di halaman rumah. Jadi bisa ditahu dong gimana baunya tuh anak? Assem abis!
“Ihhh, nda mau ka’ saya mandi..” gerutunya sembari meronta dari cengkraman neneknya. Aku sontak menoleh kaget.
“Apa? Kamu nda mau mandi? Eh, Tao Ugi, bau asemnya kau disitu baru kau nda mau mandi. Pergi mandi sana.” Ucapku sambil memelototiya. Eh, tuh anak bukannya takut malah senyum-senyum gak jelas memperlihatkan giginya yang rata, rata ompongnya!. Ughhh nyebelin banget tahu gak. Akhirnya dengan perasaan terpaksa Aco menurut saja saat diseret ke kamar mandi dengan neneknya.
Eh, aku kira anak itu sudah gak mau berbuat macem-macem lagi. Ehhh, ternyata malah makin menjadi-jadi. Disaat neneknya sedang membuka keran air dan melepaskan pakaian Aco, si Aco malah loncat-loncat dengan penuh semangat empat lima di dalam kamar mandi. Jelas neneknya kerepotan, akhirnya dia dipukul lagi. Tapi dipukul dengan pelan dan penuh kelembutan. Nggak mau dong, kalo ini nanti masuk tivi gara-gara ada kekerasan cucu dalam acara mandi, ya gak?
Lalu, acara mandipun terus berlanjut. Sementara Aco mandi, aku dan adik-adikku kembali memelototi layar tivi. Bundaku juga masih stay menjahit gorden pesanan orang. Tapi seketika, Aco berteriak-teriak dari kamar mandi, gak tahu dia teriak-teriak karena apa, mungkin karena gak mau disampoin kali ya sama neneknya.
“Ihhh, nda mau, nda mau… nda mauuuu!!!” teriaknya dari dalam kamar mandi dan meronta-ronta.
Entah, apa karena bundaku lagi bad mood atau apa, langsung saja si Aco dia teriaki.
“EHHH! ACO! APAKAH INI BERTERIAK TERUS?!!”
Si Aco, yang diteriaki seperti itu langsung mingkem. Kami semua hanya tersenyum melihat ekspresinya, kemudian dia berbicara pelan-pelan.
“Ihhh, suaranya Tante Ani seperti suaranya Mungkar Nakir…” ucapnya dengan polos dan sembari tersenyum.
Wuapaaa? Mungkar Nakir? Langsung saja Kami semua yang mendengar hal itu tertawa terbahak-bahak. Bahkan bundaku yang lagi bad mood pun ikut-ikutan tertawa. Ckckckc, tuh anak ngomongin Mungkar Nakir. Emang dia udah pernah yang ketemu sama malaikat Mungkar dan Nakir sampe dia ngomong kalo suaranya bundaku seperti suara dua malaikat penjaga kubur itu?
Wuhhhh, gak tahu deh…

THE END