Ahoyyy... La... La... La...

Monday, June 13, 2011

Ahahahah....
senangnya hatiku, sduah selesai ulangan
ini saatnya untuk bersenang-senang... #nyanyialaababil.

Ah, kayaknya, gak cuma itu aja deh yang buat gue senang hari ini. Well, tadi tante gue dateng and gue dikasih... money. jiakakakka... assik dah ada tambahan finansial baut beli novel baru. jiakakakka...
Trus... hal lain yang bikin gue senang hari ini adalah gue bisa onlen sepuasnya hari ini, trus tadi, pas buka-buka inbox e-mail, kebeneran gue dapet email masuk dari FFn. Duh, senangnya hatiku... tralalalalla... ternyata, Fanfic-fanfic gue yang udah lawas ternyata masih ada yang berminat buat baca and ripiu. xixiixix...
sampe akhirnya gue nyadar juga, udah lama gue gak bikin fic baru lagi. Duh, jadi kangen neh.
tadi juga, gue sempet baca-baca fic-fic gue yang pertama, yang judulnya Gara-Gara Puisi. Astaga!! sumpah nah, pas gue baca-baca ulang lagi tuh fic, gue nyadar banget kalo ternyata gue itu cetek banget dalam hal nulis fanfic. Wuhhh, EYD gak gue perhatiin, kebanyakaan cuap-cuap (sampe sekarang juga sih), de lele. Well, sekarang gue mau nyoba buat lebih meningkatkan skill (ceileh bahasanya) nulis gue. Xiiiixiixiixix... kali aja gue bisa jadi penulis terkenal kayak mbak J.K Rowling...

FKM (Fisika, Kimia, Matematika) Telah Berlalu

Wednesday, June 8, 2011


Ahaahahahahah...
Pengen rasanya gue tertawa bebas hari ini. cause what? Karena hari ini ulangan yang ada kaitannya dengan itung-itungan udah selesaiiiii. It’s over!. Fisika, Kimia, dan Matematika udah gue lewatin semua, walaupun dengan kesuksesan yang sedikit diragukan. Ahahahah... tapi, semoga saja hasilnya memuaskan dan nilai-nilai gue bisa lulus KKM. Terutama kimia.
 
Well, menurut gue, ulangan semester tahun ini rada beda. Bukan mekanisme ulangannya, tapi guenya yang beda. Udah gak bawa masuk Hape lagi (gak tau deh buat ulangan besok, :p wakakakkaka). Padahal biasanya tuh yee, kalo pelajaran itung-itungan kayak FKM (Fisika, Kimia, dan Matematika) pandang bagi gue kalo gak bawa Hape untuk dipake kalkulatornya. Dan ternyataaa.... yeaaah!!! Gue sukses gak pake kalkulator!!! Uhuyyyyy....
Duh, kasih selamat ke gue dong. Wekssss....
Akhirnya, usaha gue, kerja keras gue untuk bisa melalui FKM dengan selamat sentosa telah berakhir. Gue tinggal Berpasrah ria ajja sama Yang Di Atas, and memohon supaya usaha gue ini gak sia-sia.
Well...
Nah, besok ntu ulangan Sejarah sama Bahasa Indonesia. Tapi gue sekarang malah assik masyuk nge-net (dasar!). abisss, udah tiga hari gak buka Mozilla, jadi aneh rasanya hari-hari gue (alahhh... dasar I-net Addict!)

Yoshhh!! Kalau kayak gini... jadi ingat kata-katanya Ricci "Go! Go! Go! Berjuang!! Berjuang!! Berjuang!!!" 
Ahahahah.....

Bung Hatta dan Sepatu Bally

Saturday, June 4, 2011

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan.
Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.
"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri", kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.
Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.


sumber : Kaskus.us


Hmmm, sepertinya, pejabat-pejabat sekarang butuh banyak-banyak membaca buku sejarah dan biografi pemimpin-pemimpin di masa lalu. Supaya mereka bisa belajar!