Ulang Tahun Mama: Apa jii Hari Ibu, Maaf yang Tidak Sampai, Serta Harapan Untuk Hari Esok

Sunday, December 27, 2015


Aku tahu, hari ini tidak tepat kelahiranmu.  Angka 27 Desember hanya asal-asalan kau tulis ketika gurumu meminta mu pulang bertanya kepada nenek.  Jalan pulang terlalu jauh, sementara tanggal kelahiran dibutuhkan sekarang.  Baru beberapa meter dari sekolah kau berhenti, lantas memilih dengan asal di antara angka 1 sampai 31 dan kau memilih 27 entah mengapa. 
Namun, meskipun sejarah penanggalan kelahiranmu seperti ini, aku mengikut saja. Karena begitu menyedihkan rasanya tidak bisa merayakan apa-apa.
Bagaimana keadaan di akhirat? 
Jangan menjawab karena aku hanya iseng bertanya. 
Bagaimana Tuhan? 
Marah kah ia pada anak gadis mu ini? yang bahkan ketika kau hendak pergi dia tak ada di sampingmu? 
Hidup memang bajingan. 
Aku paling tua dan paling singkat di sampingmu.
Terlalu bodoh untuk sekedar menebak pertanda.
Tapi, penyesalan memang tidak ada gunanya dan aku harap mama mau berdoa di sana agar anak-anakmu tegar. Agar kami tidak tumbuh menyusahkan orang lain. Cukup Mama saja yang kami buat susah, tidak perlu orang lain.
Ma, Mama pergi di saat aku belum siap. Meskipun aku sudah berada dalam dua puluh lingkaran umur, kedewasaanku sama sekali nol. Rasanya, aku dipaksa dewasa ketika aku masih ingin bermanja-manja denganmu. Kita mengalami kebersamaan yang sangat singkat.
Saat ini, anak-anak gadis yang lain mungkin sedang bermanja-manja dengan ibu mereka. Bercerita tentang lelaki yang mereka sukai, pula tentang lelaki yang mengejar-ngejar mereka. Tapi aku di sini hanya mampu bercerita di depan layar kaca. Berharap kamu membacanya dari atas sana.
Aku gila mungkin. Mana mungkin di alam bazrah tersedia laptop dan jaringan internet.
Tapi, aku tulis saja lah, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tentang hidupku setelah Mama pergi. Semoga Tuhan menyampaikan. Tuhan punya banyak cara untuk melihat, pula mengajakmu melihat anak-anakmu.
Ma, bulan desember ini adalah bulan yang berat. Terlebih lagi tanggal dua  satu, yang katanya hari ibu. Ingin kuhilangkan tanggal itu dari bulan desember. Tidak perlu ada dua satu, langsung dua-dua saja dan bulan desember genap bertigapuluh hari. Hari itu semua orang mengganti display picture mereka dengan foto bersama ibu mereka, dengan ucapan selamat hari ibu.
Sementara aku, di sore harinya dibuat menangis oleh adik sendiri. Alan. Alan menelpon, kupikir ada sesuatu yang gawat terjadi di rumah. Ternyata, dia hanya ingin menelpon saja.
“Rin,”
“Apa?”
“Hari ibu ini hari.” Katanya. Aku ingin langsung menjawab, tapi entah mengapa, leherku tercekat. Aku berusaha sebaik mungkin mengatur napas, dan menelan duri di tenggorokan. Namun Alan dengan cepat menanggapi jeda sunyi di percakapan telepon kami. “Yaaaaa kasihan…. Da menangis eeeee….”
Pecah.
Saat itu, aku tidak peduli bahwa aku tidak menutup pintu kamarku, sehingga teman kostku dengan mudahnya melihat aku menangis.  Aku pun tidak peduli menjadi kakak yang lemah di  hadapan adikku sendiri. Aku menangis saja. Sedikit meraung-raung kemudian sesenggukan. Lantas mengutuk kehidupan yang brengsek.
Mengapa tidak ada lagi yang bisa ku sms bila uang di ATM sudah tidak ada?
Mengapa tidak ada lagi yang bisa kudengar gosipnya setiap akhir minggu lewat telepon?
Mengapa tidak ada sosok yang menjadi alasan utama aku menginstal aplikasi ‘Skype’ di laptopku?
Mengapa aku harus menjadi yatim piatu?
Mengapa orang-orang yang bisa kupanggil ‘Pak’ dan ‘Bu’ adalah guru-guruku.
Mengapa begitu sulit bilang Mama, Papa?
Mengapa aku tidak bisa menghadiahimu kue, dengan angka 48 (gila!) di atasnya, dengan gonjrengan gitar Alan yang mengiringi lagu selamat ulang tahun yang Aku nyanyikan bersama Nur? Mungkin aku akan kabur dari perkuliahan demi membawa sekotak kue ulang tahun untukmu, yang kemudian akan kamu marahi namun ujung-ujungnya kamu tidak bisa berlaku apa-apa lagi karena aku yang nekat hasil turunan sifat nekat darimu datang dengan ceria.
Ma, kini aku tumbuh sendiri. Seperti sebatang pohon yang hanya satu-satunya di muka bumi. Berada di hutan belantara tanpa teman satu spesies. Aku terluka dan menyembuhkan diri sendiri. Berkelana seorang diri, terlalu takut menjadi beban hidup orang lain. Tidak ada tempat untuk bersandar karena tempatku bermanja-manja sudah pergi.
Kehidupan ini ingin kukutuk tapi aku terlalu pengecut kepada Tuhan.
Ingin marah tapi tolol rasanya memaki takdir.
Jadi kukatupkan bibir rapat-rapat dengan geligi yang saling bergesek lantas menyumpah dalam hati ‘kenapa?’
Aku tahu, banyak yang lebih sial dari pada diriku. Lebih mengerikan jalan hidupnya disbanding diriku.
Tapi aku tidak ingin melihat ke bawah.
Aku ingin melihat ke atas.
Ma, aku bingung menetukan arah hidupku. Setidaknya, bila engkau ada segalanya bisa lebih mudah. Sekarang, semua harapan dan beban ada di pundakkku. Dan hidupku tidak lagi milikku sendiri. AKu tidak bisa berlaku sesuka diriku dan semuanya menyiksa. Kadang ada keinginan untuk kabur dan menghilang, berharap alien menginvasi bumi, dan aku diculik, dibawa pergi ke galaksi yang jauh.
Setidaknya dengan begitu semua harapan orang-orang dan beban yang mereka layangkan apdaku bisa menghilang.
Egois aku ya?
Betapa menyakitkan bagi diriku yang paling singkat berada di sampingmu ketika kau menderita sakit. Berikut pula kekurang ajaranku selama merawatmu.
Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang kejam bukan kepalang?
Bahkan,
Astaga sial.
Maaf pun tak sempat kuucapkan padamu.
Sadis.
Dan aku sungguh malu kepada mata orang-orang yang selalu saja menanyakan, “Apa pesan terakhir mamamu?”
Aku hanya mampu menggeleng, dan berkata, “tidak ada pesan apa-apa. Dia pergi dengan tenang.”
Lalu mereka berkata, “Kasihan.”
Kasihan.
Apa maksud?
Mereka orang-orang yang terlalu terbiasa pada drama-drama anak yatim piatu di televisi, yang termakan pada cerita-cerita kejam atau kisah-kisah inspiratif dari mereka yang tidak berbapak dan beribu.
Kalau bukan yang yatim piatu di timpa musibah bertubi-tubi,
Ya mereka akan mengukir prestasi seluas langit setinggi jagad raya.
Kalau bukan dikasihani, ya dikagumi dengan cara yang menyakitkan.
Kami anak-anakmu seperti piala yang dipandang-pandangi dengan rasa iba yang ganjil.
Mereka menaruh harapan yang harus kami penuhi.
Itu terlalu berat untukku, Ma.
Aku ragu pada diriku sendiri.
Aku tidak suka.
Ma, kedewasaanku, Alan, dan Nur tumbuh tidak pada waktunya. Kedewasaan datang terlalu cepat. Kami mulai membahas hal-hal yang tidak seharusnya kami bahas. Pikiran-pikiran kami mulai tercemar.
Masalah pembagian harta, tanah, uang. Orang-orang mulai meracuni kami dengan hal-hal gono-gini.
Bayangkan.
Maaaaaa….
Kenapa kamu pergi cepat sekali?
Aku masih ingin pelukan, juga nasi goreng lezat bukan kepalang buatanmu.

Don't Take All The Responsibilities

Monday, December 14, 2015


There is a time, when I think that something goes wrong is my fault. Like, I can caused my friends come late to class because I didn't tell them to come on time. If a lecturer angry with my class, that's my fault. If a friends look so angry or texting something emotionally, it's my fault. I know it doesn't normal. It's weird actually. But, I feel it. It's torturing. It's like, you know world spinning around you, and problems too. They come to you or you just like a person who bring all the problems in the world.
I don't know why I feel like that.
It's like, I tends to make everyone happy.
And the worlds know, the person that want to please everybody is the worst person.
Sadly, I am.
I take everything personally, seriously. I also really, really really really sensitive with other feeling or emotion. When you don't smile to me when I smile to you, it's torturing me. When you give me a not-so-nice-look, even it not for me, I feel so depressed about it. If people near me shout angrily, or send message with negative emotion, it's really give big effect to my emotion. Even if that person was just kidding or something, like menyinggung.
Being hypersensitive with other person feeling, its... Aiih i don't like it.

Formulir

Saturday, November 21, 2015

here
Cowok di depannya mengambil formulir yang dimaksudkan sahabatnya.  Masih dengan sumpit yang tertahan di depan wajahnya, dia melongok ke arah formulir itu. 
"Formulir apa?" tanyanya.
"Sekolah Penerbangan." sahut cowok di hadapannya, menaruh tiga lembar kertas itu di sisi kiri kotak makan siang mereka.  Sekolah penerbangan? 
"Kamu mau jadi pilot?“
"Hmmm.  Begitu lah.  Keren kan?“
Dia tidak menjawab.  
Menjadi pilot artinya akan ada banyak waktu tanpa pertemuan.  Tiba-tiba saja pikirannya memproses banyak kemungkinan di masa depan, waktu-waktu yang kosong, serta rindu yang menghantui beserta kecurigaan yang akan diciptakan oleh jarak.  Bagaimana mungkin dia bisa bertahan dengan semua itu? 
Dia memandangi formulir itu dengan tatapan yang penuh. Rasanya dia ingin memiliki kekuatan untuk mengubah kertas menjadi abu.
Ah, betapa sesuatu yang kecil mampu menciptakan gelombang yang besar.

Sudah Waktunya

Friday, November 20, 2015

here

Sudah waktunya.
Segala tentangmu
dihimpun
dimasukkan dalam kotak
dipak sebaik-baiknya.
diselotip.
ditulisi atasnya dengan spidol hitam.
'Cinta terlama yang pernah kumiliki sampai usia 21'

Bertahun-tahun kamu lenyap bersembunyi.
Lantas suatu hari kamu muncul.
Bayanganmu jadi nyata.
Lalu berbulan-bulan kamu mendiami lagi tempat yang lama.
Berbulan-bulan menjadi gelombang besar.
Berbulan-bulan menebar guncangan.
Melakukan vandalisme di setiap sudut kepalaku.

Sudah waktunya.
Coretan-coretan yang kau buat dihapus.
Bukan berarti aku tidak menyukaimu lagi.
Namun setiap hal punya masa dan tempat.
Masamu sudah habis.
Tapi tempatmu masih istimewa.
Kamu yang paling baik di mataku.
Sampai saat ini.

Maka kau kusimpan baik-baik.
Dalam kotak kenangan dengan ukiran paling indah.
Dan tempatnya paling tinggi.

Sekalipun kau cuma kenangan.
Paling baik.
Sekalipun cuma kenangan.

Aku tahu,
Mengubah rasa menjadi kenangan tidak akan mudah.
Apa lagi ini kamu.
Tapi, harus tetap berusaha kan?

Biarlah,
Perasaanku, kamu,
Pula alasan-alasan mengapa kau kusukai
Dan mengapa hanya kujadikan kenangan saja
Menjadi cerita paling dalam.

It's Okay

Saturday, November 14, 2015

here

Sometimes I take a wrong step. 
and I can't go back to make it better and right. 
It’s hurt and torturing.
In the end,
I just curled up and everything will fade away.
Even my self.
Drown.
Lost.
I need a person to bring me from this anxiety. 
but, how can I know there's a person?  
person that will go back and take me with.
to tell me it's okay if I lose, 
do something wrong,
and everything not in their place. 
it's okay to make a mistake.
not to be perfect. 
it's okay if I be a kids with imagination
 and not a perfect robot.

Apaan Bangke.

Friday, November 13, 2015



here

Pertama.
Bawa perasaan gara-gara baca buku.
Kampret plot twistnya sinting. Nggilani. Bener-bener aaakkkkk.
Kedua.
Patah hati gara-gara baca status dan komentar seseorang.
Kampret lagi.
Ketiga.

My Feelings is So....

Thursday, November 12, 2015

ketika gue ngelakuin sesuatu, pasti bakalan ada aja perasaan yang aneh aneh hadir.  Pas tadi gue lagi dengerin lagu romantis dan hati gue menghangat. Dan gue jadi ingat hal-hal yang membuat gue jatuh cinta.  Kemudian gue denger teman kost lagi telepon sama emaknya dan kemudian dia  bilang "ih!"  dan kemudian gue teringat sesuatu di masa lalu dan tiba-tiba hatiku sedih.

Why why my mood my feeling like this?

When We Know

Monday, October 26, 2015

here
When we know something
We'll see everything differently
intention in every move
attention in every gaze
hope
and we'll talk in the way we never think before
smile for little things
and figure out never ending story
but how could we know

[Bukan Review] To All Boys I've Loved Before dan PS I Still Love You by Jenny Han

Tuesday, October 20, 2015

Diselesaikan dalam sehari semalam
Seharusnya, kemarin gue mengerjakan tugas presentasi bioteknologi, namun kemarin sore setelah selesai kuliah gue mendapati diri gue membaca buku yang sudah berminggu-minggu gue abaikan. Judulnya To All Boys I've Loved Before. Buku ini ngehits banget di internet selama setahun yang lalu dan gue baru bisa baca sekarang. Buku ini ebrcerita tentangs eorang gadis yang bernama Lara Jean yang selalu menulis surat cinta ke setiap cowok yang pernah dia sukai dan selalu menaruh surat-surat cinta itu dalam kotak topi milik ibunya. Dan suatu ketika, kotak topi dan surat-surat itu menghilang dan semua cowok yang pernah disukai Lara Jean menerima surat cinta itu dan BOOM! Hidup Lara Jean berubah. Well gue nggak bakalan nulis bagaimana isi blurb di belakang kovernya, kalian bisa baca di sini ataupun menulis review tentang apa kelebihan dan kekurangan buku ini, kalian bisa menemukannya di tempat lain.

I just wanna share my feeling when I read this book.

Tuesday, October 6, 2015

Kapan terakhir kali kamu naksir-naksir cowok ganteng yang secara acak melintas di hadapanmu?
Kapan terakhir kali kamu menemukan inspirasi setiap kali membaca buku keren? artikel keren? cerpen keren?
Kapan terakhir kali kamu merasa asyik mendengarkan curhatan orang lain dan memanipulasinya menjadi tulisan?
Kapan terakhir kali kamu merasa begitu bersemangat akan hal baru?
Kapan terakhir kali kamu joget-joget nggak jelas sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas di dalam kamar?
Kapan terakhir kali kamu merasa terinsipirasi akan pikiran orang-orang?
Kapan terakhir kali kamu merasa begitu awesome?
Kapan terakhir kali kamu menulis dengan begitu bebas tanpa beban tanpa perasaan ingin memukau orang lain?
Kapan terakhir kali kamu merasa memiliki visi?
Kapan terakhir kali kamu berharap keliling dunia?
Kapan terakhir kali kamu tertawa tanpa beban?
Kapan terakhir kali kamu menangis tanpa malu-malu?
Kapan terakhir....
Kapan.....
Kapa....
Kap...
Ka..
K?

[Cerita-Cerita] Percakapan Pertama dan Absen Kata-Kata Makian

here
Atap apartemen ini hampir tidak memiliki pengunjung kecuali kita berdua. Kadang aku hanya sendirian di sini bila kamu sedang sibuk-sibuknya di rumah sakit. Kadang kita berdua, bila aku tidak mendapat jadwal siaran tengah malam dan kamu sedang tidak mendapat giliran jaga atau operasi di rumah sakit (yang sangat jarang terjadi).
Atap tidak memiliki penerangan yang cukup, hanya ada satu lampu yang sekarat di dekat pintu masuk, yang menjadi sumber cahaya besar adalah lampu-lampu dari apartemen lain, lampu kendaraan-kendaraan yang berebut lahan di jalan raya yang ramai, dan kerlap lampu mercusuar di ujung pantai yang jauh di ujung sana. Kadang kala, bulan dan bintang turut memberi sedekah cahaya bila langit sedang bahagia.

Membeli Hadiah

Sunday, October 4, 2015

Maybe this think will sound pathetic, but this is the real thing I do. I give a birthday gift for myself. Maybe you will think, what kind of person that give them self a birthday gift? I can't answer that question because I'm not really sure what kind of person I am. I know, I'm still figuring it out.
Today I bought an Umberto Eco’s book, The Prague Cemetery. I don't know what the meaning of the title because it didn't translated to Indonesia language. And I'm especially didn't know who Umberto Eco. I just know his name from several articles I've been read in several website.
The only thing I know about him, he is a great writer, because you know, his name always mentioned in some articles. And I already know, now, that he is a philosophers and lecturer in Bologna University. I even don't know if he still alive. He was born in 1932.
Actually this kind of book is not my cup of coffee, but I want to try something new. New genre for read, thinking more deeply, and, yeah, tried to read a cool book. And this book I found in sale, sell in half of the real price. So, why not? Why I’m not trying something new that sell with cheap price?
Why I telling you this? I don't know.
I just want write about this. To reducing my patheticness (I even didn't know, again, if that words exist), as person that want to be noticed but didn't want to be noticed.

So that is, my birthday gift. I hope I enjoy it. Because I bought it without knowing what bought.

The Year of Desperation, Lost, and Finding My Self Again

Friday, October 2, 2015

here
Hola!
Selamat Dua Oktober, Rin!
Tahun ini menjadi tahun yang panjang, membosankan, dan meledak-ledak.
Segala hal di luar sana berjalan begitu cepat, sementara aku terus menghentak-hentakkan kaki di tempat. Setiap orang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama dan aku pun masih memberikan jawaban yang itu-itu saja. Ada banyak guncangan, satu ledakan besar, dan waktu berlalu biasa saja.
Harusnya tahun ini, aku melaju secepat kilat. Namun sayangnya, jiwaku lumpuh untuk sementara waktu yang sementaranya entah sampai kapan.
Harusnya. Harusnya. Harusnya. Namun. Namun. Namun.

Patah Hati Dari Dunia Paralel

Sunday, September 27, 2015

here
Saat menghadap ke komputerku dan termenung menatap kolom postingan di dashboard blogger, aku merasakan ada ngilu aneh yang tiba-tiba merambati jantungku. Kadang pula saat aku tengah termenung di dalam angkot, saat mengamati nama-nama makanan ringan di supermarket, atau ketika sedang menulis jawaban soal essai saat ujian. Ia merambat dengan lambat, menyebarkan gelombang aneh di area perut dan menghujam jantung dalam ngilu panjang yang samar-samar. Aku tidak punya riwayat penyakit jantung, tidak ayahku, tidak ibuku, tidak pula kakek-nenekku. Aku periksa ke dokter, dan dokter bilang tidak ada masalah apa-apa dengan jantungku.
Aku sehat.
Namun, mengapa?

[The Realities of Loving Someone Silently] Don't

Saturday, September 19, 2015


Don't give so high expectation for this kind of feeling
Don't pour to much hope for this kind of love
Because to much didn't make for this thing.

You don't have to feel so special
because little things he do to you
Smile and say hay
He do it for everyone else
You,
Just one in million people he know.

You, can't expect he know your feel
because you, didn't ever show him
You can't just send 
a random signal 
a weak wave
an awkward smile
and want him to know you

You, need to do more.
If you can't
Then don't.

Bi

Friday, September 18, 2015

Layaknya jalan raya dengan dua jalur.
Perasaan kita hanya bisa saling melewati namun tak bisa beriringan.
Layaknya dua sisi koin.

Kita hanya mampu saling membelakangi dan memeluk diri-sendiri.

Paradoks! Paradoks! Paradoks!

Thursday, September 17, 2015

here
Don't think! Don't think! Don't think! But you keep thinking
Don't over do! Don't over do! Don't over do! But you keep over doing it.

Sebenarnya, aku ingin kamu seperti ini. Namun sebaiknya, kamu jangan seperti ini.

Bagaimana mungkin pada saat yang sama, kamu menginginkan dua hal yang saling bertentangan?

Sebenarnya, ada aku punya harapan yang besar dengan dirimu. Namun, setiap kali harapan-harapan itu mulai berkembang, selalu saja ada yang membuatnya mati.

Hati: Aihhhh.... mau ma' lupakan iii (sudah mau saya lupakan dia)
Otak: Bagus, lupakammi saja. Na susai ko saja, dia terus jii mau diingat-ingat (Bikin susah saja dia terus yang diingat-ingat)
*Kemudian objek yang sedang dibicarakan melintas*
Hati: Aihhhhhhhhhh ndak bisa ka' ndak bisa ka' (Ahhhh, tak bisa aku melupakannya)
Otak: Cih. Dasar lemmmmah!

#KemudianGulingGulingSampaiZimbabwe

Aissshhh, apa ini.
Hang on! Hang on! Hang on saja lah!


Kejadian Malam Ini

here
Malam ini di kost suasananya jadi agak-agak horor.
Dua orang kesurupan. Satu di lantai atas, satu di lantai bawah
Dan pada awalnya anak-anak bingung mau ngapain.
Untungnya, ada tetangga yang bisa menangani. Langsung minta air sama bawang 'tunggal garis miring bawang merah yang tumbuh sendiri tanpa gabung sama sodara-sodaranya (?)
Gue jelas nggak ngerti apa korelasi antara bawang merah sama orang kesurupan.

Tentang Perasaan yang Berlayar Sendiri

Wednesday, September 16, 2015

here
Malam ini begitu sepi
dan hatiku kebas
kau begitu jauh
dan bahagia

Genggamanmu tak lagi kosong
Jok belakang motormu tak lagi sering kosong
handphonemu selalu ribut
kabar yang sampai padaku

Doa yang Bijak

Tuesday, September 15, 2015

here
Tuhan, kalau dia adalah jodohku,
Dekatkan lah ia padaku.
Kalau dia bukan jodohku,
Tolong beritahukan jodohku yang sesungguhnya, aku lelah menunggunya.
Sa keriput miii kasihaaaannn!!!
---------------------
Entah mengapa tiba-tiba menulis seperti ini setelah membaca banyak artikel tentang jodoh. Huh! Internet!

In The Rainy Night

Saturday, September 12, 2015

here
It's rainy night
we sat in the cafe
jazzy music play along
with the smell of cafein

You look at me
with question mark in your face
me, looking down
have no brave to stare back

I Can't Tell Anybody

Tuesday, September 8, 2015

Dini hari ini aku merasa benar-benar picik.
Manusia licik.
Menulis sebuah status, menggunakan kesialan dalam hidupku dengan harapan bisa menarik perhatian seseorang yang spesifik. Gila. Psiko banget nggak tuh? Bisa-bisanya aku menggunakan kepergian seseorang untuk menarik atensi orang lain. Aku merasa seperti psiko yang selalu menjadi tokoh utama dalam tes psikologi dalam satu percakapan basa-basi.
"Seorang gadis kehilangan Ibunya. Kini dia hanya tinggal berdua dengan adiknya. Ketika di pemakaman, dia bertemu dengan seseorang yang sangat tampan dan ia pun jatuh cinta. Menurutmu, apa yang akan dia lakukan untuk bertemu dengan seseorang itu lagi?"

Too Early Life Crisis : Sekedar Lupa Tujuan Hidup

Saturday, September 5, 2015

Struggleee!!!

Ketika semua orang di sekitarmu sudah menentukan ke mana mereka melangkah kemudian sementara engkau masih menjadi orang yang berkeliling menanyakan arah entah pada siapa, bagaimana rasanya?
Tertinggal lah.
Orang-orang sudah sibuk menyiapkan perbekalan menuju mars dan bersiap membangun koloni, seseorang masih saja sibuk mengurusi perkara sepele 'hari ini bikin status FB apa lagi ya?'.

Nyeri-nyeri di Hati

Sunday, August 23, 2015


Entah kenapa, hatiku nyeri.
ketika mengingat sesuatu.
ketika memikirkan sesuatu.
ketika membayangkan sesuatu.
ketika mengharapkan sesuatu yang rasanya begitu mustahil terjadi.

namun,
hatiku enggan mengakhiri segala nyeri itu.
kepalaku terus-terusan memutar bayangan-bayangan yang membuat ngeri
membuat nyeri membuat sesak yang sialan yang begitu setengah-setengah menyiksa

aneh benar memiliki tubuh yang mengkhianati pemiliknya.
mereka, kepala dan hati  punya pemikiran sendiri.
yang begitu rewel dan menjengkelkan,
membuat si pemilik asli menjadi tiddak berdaya dan bodoh dan bodoh dan bodoh.

mengapa ada manusia yang hidupnya menyeramkan benar?

Apakah yang Paling Disukai Cacing Buku?

Sunday, August 16, 2015

Apakah yang Paling Disukai Cacing Buku?

Diskon! Diskon! Diskon besar-besaran!!!
Hal yang mampu membuat setiap Cacing Buku meneteskan air mata bahagia dan haru dan meledak-ledak karena buku yang diincar atau setidaknya buku yang genrenya adalah makanan sehari-hari berada potongan sekian-sekian puluh persen. Diskon buku yang dirasakan oleh para Cacing Buku sama seperti yang dirasakan ketika para Shopaholic melihat kata 'Sale' di gerai Prada, Gucci, Balenciaga, Mango... Avocado... Banana....