Akward di Dalam Kelas dan Harapan Untuk Bisa All Kill

Sunday, February 28, 2016


Minggu ini menjadi minggu paling awkward dan juga paling panik sejauh sejarah semester enam padahal delapan gue ini. Gue sudah memulai semester baru, memprogram mata kuliah wajib semester enam sementara sebagian besar teman-teman gue sudah berangkat untuk melakukan pengabdian masyarakat dan praktik mengajar (KKN-PPL) di kabupaten seberang #halah. Perasaan yang menguasai hati gue selama seminggu ini adalah perasaan canggung karena harus masuk ke dalam komunitas yang baru yaitu mahasiswa-mahasiswa angkatan 2013 dan perasaan panik duluan dengan alasan gimana nanti nasibb gueeeehhhh???.

Manfaat Makanan Pedas dan Koleksi Fim Sedih

Friday, February 5, 2016

Ada kalanya,
hal-hal yang tidak terduga, bisa menjadi tameng bagi perasaan.
dua di antaranya adalah makanan pelas dan belasan giga film sedih di hard disk laptop.
ketika beban di pundak terasa begitu berat
keadaan yang berjalan tak sesuai keinginan
kenyataan begitu jauh dari harapan
kadang,
kita memang butuh pelarian.
pelampiasan.

Mutlak I

Thursday, February 4, 2016

ada tiga hal yang mutlak
di muka bumi ini

kematian
hambatan
kangen

sedikit demi sedikit
lama-lama air mata.

[Cerita-cerita] Menenangkan Diri Sendiri

here


Ini mungkin karena dia selalu merasa sendirian,yang kemudian mengirimnya dalam lembah kesepian. Ia menjadi gemar menenangkan dirinya sendiri. Tingkah anehnya, katanya, telah berkali-kali ia lakukan. Dan meskipun tidak benar-benar tenang, setidaknya dia merasa menjadi lebih baik. Kadang kala, katanya, dia hanya memberi sugesti pada dirinya sendiri, seperti salah satu tokoh dalam film India terkenal dia akan membisikkan kata-kata positif dalam kepalanya, mencoba agar neuron-neuron di dalam otaknya bekerja untuk mem-blok pikiran-pikiran sialan yang mengganggu jalan pikirannya. Satu kali pada masa yang sulit,

Enggan Marah

Monday, February 1, 2016

"Mil, gue...  gue pengen sendiri aja sekarang.  Bisa kan?"

"Maksud kamu apa?"

"Kita pisah ya?  Gue lagi nggak pengen terlibat hubungan apa-apa sekarang. Nggak pengen terlibat sama siapa-siapa."

Wajah gadis di hadapannya berubah pias .  Padahal, baru tadi mereka tertawa beraama-sama, saling bergandengan tangan, masih belum hilang rasa hangat itu dari genggaman tangan mereka berdua dan sekarang lelaki itu minta mereka untuk berpisah?

"Bisa ya?"

Reza bangkit dari duduknya, ia bahkan tidak menunggu sampai Mila mengeluarkan persetujuannya.  Baginya, tidak perlu lagi meminta persetujuan ketika kebenaran telah terungkap.  Dia lelah berkubang dalam kebohongan.  Keputusannya, sama seperti ketika dia membaca sms di handphone Mila, telah dia pikirkan baik-baik. 

"Nggak ada orang ketiga kan?"
Tanya Mila.  Ini terlalu mendadak baginya.

Langka kaki Reza terhenti.  Pemuda itu menoleh, menatap kembali gadis yang dulu ia sayang.  Sekarang pun masih, tapi kecewa berikut marah telah memenuhi hatinya.  Pertanyaan macam apa itu?!

"Harusnya, kamu menanyakan pertanyaan itu ke dirimu sendiri. Kamu pasti udah tahu jawabannya kan?"

Kejut menguasai Mila.  Kini Reza merasa selesai dengan perempuan itu.  Sudah waktunya ia melepaskan perasaannya.
Tidak perlu membalas dendam.