[Cerita-cerita] Menenangkan Diri Sendiri

Thursday, February 4, 2016

here


Ini mungkin karena dia selalu merasa sendirian,yang kemudian mengirimnya dalam lembah kesepian. Ia menjadi gemar menenangkan dirinya sendiri. Tingkah anehnya, katanya, telah berkali-kali ia lakukan. Dan meskipun tidak benar-benar tenang, setidaknya dia merasa menjadi lebih baik. Kadang kala, katanya, dia hanya memberi sugesti pada dirinya sendiri, seperti salah satu tokoh dalam film India terkenal dia akan membisikkan kata-kata positif dalam kepalanya, mencoba agar neuron-neuron di dalam otaknya bekerja untuk mem-blok pikiran-pikiran sialan yang mengganggu jalan pikirannya. Satu kali pada masa yang sulit,
ia menenangkan dirinya sendiri  dengan membisikkan sugesti positif, bahwa segalanya akan baik-baik saja dan kemudian menepuk-nepuk pelan dirinya sendiri dalam gestur yang menabahkan hati.
Ia menyadari bahwa dirinya berlaku seperti orang gila, lantas kemudian semakin mengasihani dirinya sendiri, yang mana pada akhirnya, segala usahanya untuk menenangkan diri gagal total.
Ia semakin terpuruk, menyadari dirinya benar-benar kesepian.
Dia sulit membicarakan perasaannya pada orang lain, bahkan, dirinya sendiri pun kadang dibuat bingung oleh perasaan dan keinginannya. Ada gap antara kemauan hati dan pikiran. Ada banyak suara di dalam kepalanya. Ada dua orang yang suka bertengkar dan bermusuhan begitu dahsyat di dalam dirinya, pula dua orang itu kadang kala begitu akrab dan kompak mengejek dirinya.
Aku pun, ketika mendengar dia berbicara begitu, mulai merasa ada yang salah dengan orang ini. Tapi untuk apa kupikirkan? Dia hanyalah salah satu dari ribuan penumpang di kereta yang super padat ini. Kepalaku pun sudah penuh dengan masalah, juga peracakapan-percakapan aneh di kepalaku yang bahkan tidak kumengerti pun sudah membuatku padat. Jadi cukup, kudenagrkan saja ocehan ngawur gadis di sampingku ini.
 Namun, lanjutnya di tengah hiruk-pikuk laju kereta, masih lebih baik menenangkan diri sendiri daripada tidak sama sekali. Memang tidak ada orang lain di samping dirinya, pula tidak ada yang bisa ia minta berbagi kekhawatiran--karena dirinya yang punya kecenderungan khawatir berlebih dan hal itu memberi penagruh buruk pada orang banyak--dan memberikannya tepukan di bahu (atau dia sendiri yang merasa seperti itu), namun untunglah dia masih memiliki dirinya sendiri.
Ya, memiliki dirinya sendiri.
Sekalipun ia merasa terpuruk, dirinya tidak kehilangan diri sendiri. Dia masih menjadi dia. Aku masih menjadi aku. Dengan segala kegilaan yang ada, kelebihan dan kekurangan, tak ada yang lebih ikhlas menerima selain diri sendiri. Sebaik apa pun, sejelek apa pun.  Diri sendiri masih tetap bersamamu dan mendekapmu, sekalipun ada dua orang yang bermusuhan kadang akrab seperti Tom and Jerry di dalam tubuhmu.
Masih lebih baik.
Dibandingkan orang yang kehilangan dirinya sendiri.
Yang kesepian, dan bahkan tidak memiliki dirinya untuk saling menenangkan.


here

No comments:

Post a Comment

Kalau menurutmu, bagaimana?