Lelaki yang di Bibirnya Ada bulan Sabit

Thursday, September 5, 2013


here
~0o0~
Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halamanku, menempuh perjalanan sendiri dengan kereta api yang berangkat malam. Gerbong kelas 2 sudah mulai penuh dengan penumpang, sebagian bercengkrama dengan penumpang sebangkunya, sebagian memakan makan malamnya, sebagian lagi memilih menutup mata dengan tubuh yang dibungkus sarung rapat-rapat. Ramai suara ibu-ibu dan anak remaja menjajakan dagangan mereka, beberapa kali aku ditawari  nasi bungkus dan majalah namun aku menggeleng saja. Sekarang aku hanya ingin mengistirahatkan kakiku. Aku berjalan pelan di lorong gerbong, sedikit kerepotan dengan backpack besar yang kubawa dibahuku.
Kursi 13A.
Akhirnya. Segera kuhempaskan backpack-ku, menggerak-gerakkan sedikit bahuku, lalu mengangkat lagi tas besar itu dan memasukkannya ke dalam kabin. Lekas aku dudukkan diriku, menatap ke luar jendela. Bintang-bintang berjejer membentuk timbangan, rasi bintang libra sedang berdampingan dengan bulan sabit malam ini. Aku tersenyum tipis, menghembuskan napas perlahan. Jejak-jejak itu masih kentara di dalam kepalaku, terlebih pada hati yang tiba-tiba menghangat. Bulan, pada malam ini telah mengingatkanku pada dirinya.
Sosok yang lengkungan senyumnya seperti bulan sabit.
"Kamu Fara, kan?"
Sebuah suara mengagetkanku. Bukan karena ditanyai tiba-tiba, tetapi karena suara itu terasa akrab ditelingaku. Nyaring dan penuh rasa pencaya diri.
Aku menolehkan kepala, meski hati sudah mengatisipasi namun kejut tetap saja mengaliri seluruh tubuhku. Sosok bulan sabit yang baru saja kupikirkan kini berdiri dihadapanku. Telunjuknya terangkat ke arahku, mata coklatnya menatapku dengan binar cerah. Bibirnya, melengkungkan bulan sabit.
Aku masih terpana menatapnya. Ini benar-benar dia?
Ia melempar tas ranselnya ke bawah bangku, tahu-tahu saja ia duduk di depanku. "Masih ingat aku? Farid?" ia menunjuk dirinya sendiri. Tangannya mengacak-acak rambutnya yang agak gondrong, mungkin berusaha kembali menciptakan image anak SMA badung yang selama tiga tahun menemani masa-masa SMA-ku.
Aku masih memandanginya. Bukan karena lupa, namun karena masih tak percaya pada sosok laki-laki ini. Laki-laki yang kurus dan tinggi menjulang ini.
Aku tidak akan lupa sosoknya.
Hari pertama MOS waktu SMA dulu, dia sudah berani cari gara-gara dengan senior. Hanya karena perkara tidak mau berjalan di parit depan sekolah. Sebagai gantinya, dia disuruh menyanyikan sebuah lagu. Beberapa siswa baru ditarik secara acak oleh panitia MOS untuk menjadi penari latarnya. Kami yang siswa baru langsung gelisah sendiri, antara takut dipanggil dan penasaran sekaligus lucu membayangkan apa yang akan terjadi di depan kami.
Lima anak laki-laki berkepala plontos berjejer di belakangnya, beberapa panitia MOS mengatur-atur mereka, mewanti-wanti agar mereka benar-benar menjadi 'penari'. Berikut berpesan pada si pembuat perkara agar menyanyikan lagu dengan benar. Aku pikir, mereka akan langsung beraksi. Namun, tiba-tiba saja lenganku ditarik oleh seorang panitia bertampang judes. Ia mengiringku ke depan lapangan, tanpa  tahu apa kesalahanku. Ratusan pasang mata menatapku. Beberapa dari  pemilik mata itu cekikikan.
"Nah, lo, Korek Api."Ia menyebut nama julukan si pembuat perkara itu, lalu menunjuk-nunjuk diriku. "Lo nyanyi buat dia ya, si itik. Dan lo, itik, lo harus menghayati juga ya apa yang dia nyanyiin."
Sontak saja wajahku memerah karena malu, kakiku sudah gemetaran dan keringat dingin mulai keluar membasahi pelipisku.
"Ngerti kan, dek?"
"Siap! Ngerti kak!" enam anak laki-laki di sampingku berdiri tegap.
"Eh, ini kenapa yang cewek malah diam? Mau disuruh duet aja ya?" seseorang berteriak di telingaku. Aku menggeleng cepat-cepat. Kalau disuruh menyanyi aku bisa-bisa pingsan.
Riuh panitia menyorak-nyoraki, namun kakak panitia yang bertanggung jawab untuk kelompokku berusaha menyudahi dan meminta agar kami segera menyelesaikan hukuman.
"Aksi ya! Satu... dua... tiga!"
"Ehem..." si korek api berdehem, lima di belakangnya mengangkat jempol.
Anggur merah yang selalu memabukkan diriku
Kuanggap belum seberapaaa...
Dahsyatnya!
Bila dibandingkan dengan senyumanmu
Yang membuatku jatuh bangun...
Aku tak lagi berfokus untuk mendengar lagu itu, terlebih lagi untuk ikut-ikutan 'menghayati'. Aku sibuk menenangkan diriku yang semakin gemetaran. Siswa-siswa baru yang ada dibarisan tertawa sembunyi-sembunyi melihat Si Korek Api dan penari latarnya berrgoyang dangdut, beberapa diantara mereka bahkan ada yang terpingkal-pingkal (seolah tak takut), kakak panitia ada yang bergabung joget dan mengulurkan tangan ke arahku.
Aku?
Aku hanya berdiri kaku. Wajahku panas sekali dan air mata berdesakan ingin keluar. Aku tidak salah namun ikut-ikutan terpanggil. Aku menunduk dalam-dalam, malu memperlihatkan wajahku.
"Dahsyatnya!" lirik terakhir, lalu. "SIAP! SUDAH KAK!"
"Bagus! Eh, tapi ini yang cewek kok diem-diem aja sih.  Pasti iri nih, mau nyanyi juga kan?" Kakak Panitia bermuka judes tadi meneriakiku, aku tetap saja diam. Tak mampu lagi bersuara. "Kalau ditanya itu harus dijawab, dek. Mau disuruh nyanyi juga?"
"S—ssiap... tidak kak...."
"Ih, nggak mau?"
"Kak, udah dong kak. Kasihan, kak..." satu suara khas remaja baru puber, suara yang tadi menyanyikan lagu Anggur Merah itu terdengar. Teralih sudah perhatian orang-orang dariku.
"Kamu belain dia? Ihhhh... so sweet bangettt." suara kakak judes mengejek.
Lalu satu suara lagi menimpali, suara yang lebih berkharisma dari si kakak judes. "Sudah-sudah, ini sudah mau penyampaian materi. Ntar guru-guru marah kalau kita telat masuk. Nih yang lima, balik ke barisan masing-masing. Dan buat lo, Korek Api, anterin Si Itik balik ke barisannya. Cepetan!"
"Siap! Iya Kak!"
Tahu-tahu saja, sebuah lengan mendorong bahuku pelan. Aku ikut saja berjalan. Banyak tatapan yang mendarat padaku, cepat-cepat aku melangkah masuk barisan.
"Sori ya, buat yang tadi." Si Korek Api berkata pelan.
Aku mendonggakkan kepalaku, dan aku mendapati dia menatap sembari tersenyum padaku. Senyum yang melengkung indah seperti bulan sabit, dengan dekik di pipi kirinya.
Saat itu, gelombang rasa yang aneh melandaku. Entah aku harus merasa menyesal atau beruntung telah membalas tatapannya.

Satu insiden memalukan itu mengawali keterikatanku  dengannya. Esok harinya, aku tidak lagi dipanggil Si Itik atau Fara, melainkan Anggur Merah. Kadang ada yang bermaksud main-main, namun ada pula yang kedengarannya mengejekku. Kalau sudah begitu, aku akan segera mempercepat apa pun yang kulakukan, agar bisa menghindari panggilan itu. Waktu belajar menjadi tamengku dan perpustakaan menjadi bunker perlindunganku. Aku yang memang dari sananya pendiam menjadi sosok yang tertutup dan kurang pergaulan selama SMA, temanku tidak sampai jari setangan untuk dihitung, itu pun tidak akrab-akrab amat. Aku terasing dalam kehidupan di mana aku seharusnya mengalami masa-masa yang paling indah.
Namun, masa-masa yang suram itu sedikit tercerahkan dengan kehadirannya, Si Korek Api yang belakangan kutahu namanya adalah Farid. Entah mengapa perasaanku senang sekali bila dia melintas di depan kelasku, atau dia yang berpapasan denganku ketika dari kantin. Saat itulah, dia menyempatkan melepaskan satu lengkungan bulan sabitnya kepadaku. untuk apa, aku tidak tahu. Aku hanya membalas senyumannya dengan kikuk.
Dua tahun berlalu, masa bermain-main berganti dengan masa ujian dan ujian. Di kelas tiga, kelas ujian, kelas paling sulit, semesta kembali mempertemukanku dengan Si Korek Api. Tidak tanggung-tanggung, dia duduk tepat di sampingku. Aku yang selama ini duduk sendiri kini memiliki teman sebangku. Hari-hariku tercerahkan dengan kehadirannya. Dia yang begitu aktif berbicara, auranya yang menyenangkan, terlebih lagi senyumnya... senyum bulan sabit dengan dekik di pipi kirinya.
Senyum yang entah mengapa selalu berhasil membuatku salah tingkah.
"Fara, bisa bantu ngerjain PR Bahasa Inggris?" tanyanya suatu waktu, aku mengangguk dan dia duduk di sampingku. Buku LKS Bahasa Inggris beserta satu John Echols menjadi tali penghubung interaksiku dengannnya. Ia selalu memintaku untuk membantunya mengerjakan PR, bukan menyontek pekerjaanku sekalipun aku memberikannya dengan suka rela.
"Pasti asyik deh, kalau bisa jadi pacarnya Fara." celetuknya santai.
Tanganku yang sibuk membolak-balik kamus terhenti seketika karena perkataannya, Debaran di dadaku semakin jadi. "Maksud kamu apa?"
Ia mengangkat bahu, "Fara kan orangnya pintar, baik, pasti banyak deh yang mau sama Fara."
"Memangnya ada yang mau sama aku?" aku memberanikan diri untuk bertanya, pertanyaan paling bodoh yang pernah keluar dari bibirku. Karena jawaban yang kuterima tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Kalau aku bilang, aku mau sama Fara. Kira-kira, Fara mau nggak sama aku?"
Aku menatapnya, dia nyengir.
Jemariku bergetar di atas lembar kamus, entah adrenalin atau serotonin mengalir deras di aliran darahku. Kini ia bergerak gelisah, cengirannya lama-lama memudar melihatku yang hanya diam menatapnya, lalu dia tertawa pelan.
"Yee, nggak usah bodoh gitu dong mukanya. Just kidding aja gue. Hahaha..." tangannya mengibas poniku, gelenyar asing namun menyenangkan singgah di keningku. Aku menunduk di atas kamus, mencari kata-kata. What should I do now?
Sisa jam istirahat kuhabiskan bersamanya untuk membantunya mengerjakan tugas, begitu pula hari-hari berikutnya. Tak ada lagi yang membahas tentang perasaan sejak percakapan kikuk itu. Kami jadi semakin akrab dan sering bersama-sama. Sering makan siang di kantin, kadang kala kami sama-sama belajar, memecahkan soal-soal latihan, sesekali bercanda dan melempar pertanyaan-pertanyaan konyol.
Namun, aku menyimpan beberapa pertanyaan untuk diriku sendiri.
Misalnya, mengapa aku selalu ingin berada di dekatnya? Mengapa aku selalu begitu bahagia setiap ada yang memanggilku 'anggur merah' dan ada dia yang memelototi orang yang memanggilku? Mengapa jemariku selalu saja bergetar setiap kali dia merangkul bahuku? Mengapa wajahku selalu saja memanas setiap kali dia memberikanku lengkungan bulan sabitnya?
Mengapa-mengapa itu tak pernah terjawab, sampai hari kelulusan tiba dan kami berpisah. Aku mengejar cita-cita untuk menjadi guru TK, sementara dia entah pergi ke mana. Pertanyaan-pertanyaan itu masih mengusik sudut-sudut kepalaku sekali pun tujuh tahun telah berlalu. Mengapa yang selama bertahun-tahun telah tumbuh dan berakar menghujam diriku.
Mengapa aku semakin sering memikirkannya?
Mengapa aku sesak napas tiap kali mengingatnya?
Mengapa aku selalu memejamkan mata dan berharap dia ada di sampingku ketika aku membuka mata?
Mengapa bayangan bulan sabutnya selalu muncul di kaca jendela setiap kali aku melamun?
Dia tidak lebih dari seorang teman, sosok jahil yang menyanyikan lagu dangdut ketika MOS SMA, sosok yang menjadi teman sebangku, sosok yang membuat masa SMA-ku memiliki pelangi di ujungnya.
Tapi aku... selama tujuh tahun aku tanpa kehadirannya, dialah yang kupikirkan sebelum aku tidur. Dialah, selain keluargaku yang menjadi alasanku untuk pulang kampung, untuk menghadiri reuni sekolah.
Tapi aku tak pernah menemukannya.
Sampai saat ini, dia duduk di depanku, Menatapku dengan mata cemerlangnya dan lengkung bulan sabit di wajahnya
Dan aku bergeming di tempatku.
"Halo, Fara?" raut excitednya berubah khawatir, lalu tangannnya bergerak gelisah menggaruki tengkuknya. "Atau aku jangan-jangan salah orangnya? Tapi aku yakin kamu Fara. Kamu nggak mau diganggu ya? Atau ada orang lain yang mau duduk di sini? Aduh sorry banget, aku nggak tahu. Mending aku pindah aja ya, aduh sorry ya, sorry—"
"Nggak ada yang mau duduk di situ, dan kamu nggak perlu pindah. Aku nggak terganggu kok." ujarku akhirnya, setelah lima menit terdiam. Jantungku masih jumpalitan.
Dia yang tadinya grasa-grusu mengangkut bawaannya langsung berhenti. Bulan sabitnya terlihat lagi, dekik manis pipinya semakin dalam. "Kamu yang melamun bikin aku grogi, tahu nggak. Ini beneran Fara kan?"
"Iya, ini aku."
"Ah, untung deh. Aku kira tadi aku halusinasi liat orang yang mirip kamu." dia nyengir kuda, "saking seringnya mikirin kamu."
"Hah?"
"Apa?"
"Tadi kamu bilang apa?"
"Ah nggak kok, aku senang aja bisa ketemu kamu lagi. Udah berapa lama sih kita lulus SMA?"
"Tujuh tahun."
"Ah, iya tujuh tahun."
Sesaat hanya suara roda kereta yang mengisi diam di antara kami berdua. Aku meremas jemariku yang berkeringat. Aku terus memandangi langit lewat jendela, sekalipun apa yang ada di hadapanku ini lebih menarik untuk kupandang.
Entah mengapa, aku tak berani. Wajahku selalu saja membara setiap kali kulirikkan ekor mataku dan mendapatinya menatapku dengan tajam.
"Fara makin cantik deh."
Dan kamu juga makin mempesona.
"Udah ada yang punya?"
"Hah?" aku cepat menoleh, lesung pipinya muncul ketika nyengir.
"Maksudku apa kamu udah punya pacar, atau suami mungkin?"
Aku tertawa geli mendengarnya, rautnya penuh harap. Dan pipiku semakin memanas, lidahku kelu, jadi aku menggeleng saja.
"Baguslah."
Dia berdehem.
Aku menahan senyum.
Kali ini, akan kupastikan 'Pertanyaan Mengapaku' terjawab.
~O0O~

4 comments:

  1. :h sdh lm gak lihat tulisan rhyme, tahu2 dapat yang so sweet kayak gini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhahahhhaha.... tapi akhir-akhir ini semakin hilang imajinasiku sodara....
      soalnya semakin jarang lagi sa liat cowok ganteng... T.T

      Delete

Kalau menurutmu, bagaimana?