Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Menjadi Ratu Sehari

Tuesday, May 15, 2012

Pict from here

Ahaaaa... waktu hari sabtu kemarin, gue ngerasa jadi ratu aaaa... Hahahaha...
Why?
Ini bukan karena gue kedatengan tim Make Over yang merubah penampilan gue dari Si-Itik-Yang-Udah-Cantik-Dari-Sononya ke Putri-Yang-Makin-Cantik-Jelita. Pengen muntah? silaken...

Ini karena sabtu kemarin gue dapat rejeki yang astaga naga banyak bangettt jumlahnya!!
Aaaaa gue kaya! gue kayaaa!! gue kayaaa!! #nari-nari gila #minta ditabok
Udududu, kayaknya kalian pasti sudah bisa menebak kalau rejeki itu adalah uang kan? Hahaha... uuuuu... pokoknya gue bahagia, bahagiaaa banget! Nah, setelah gue terima rejeki itu,  gue ngacir ke Gramedia. Beli bukuuu!! Memborong gue. Kalau seandainya gue gak inget yang namanya 'manner of girl', di mana setiap cewek itu harus bisa jaga sikap di mana pun dan kapan pun dia berada, mungkin gue udah nari-nari gila, gelendotan-gelendotan kayak monyet di rak-rak buku yang ada di Gramedia. Gue kayak sakau buku, man! Uang di tangan gue segini banyaknya (ada 450 ribu) dan jujur aja gue gak pernah megang uang sebanyak itu, dan itu yang bikin gue bingung. Gue bingung mau beli yang mana.

Dulu aps duit gue ngepas, gue gak bingung-bingung amat kalau mau beli buku. Karena pasti range gue buat harga buku cuma di sekitaran 50-100 ribu doang. Dan sekarang, ketika duitnya ada, gue kayak pengen beli semuanyaaa!! Aaaaa...
Akhirnya, pilihan gue jatuh pada novel; Permainan Maut, Daisyflo, My Ridicculous Romantic Obsession, dan Sherlock Holmes & 5 Kasus Paling Misterius. Aaaa... padahal tadinya mau beli La Petit Prince sama Joker juga, tapi jangan dulu deh. Kalau gue nggak mikir yang namanya masa depan juga tuh duit pasti udah habis sekarang.

Nah, pas di Gramedia juga temenku nyusul. Ada Lhia, Een, sama Cony. Mereka juga dapat rejeki yang sama kayak gue. Hehehe... mereka nysul gue ke Gramed karena katanya mau beli buku latihan untuk SNMPTN Tulis. Awwweee... saia saja saia belum pikirkan itu SNMPTN, entah mengapa jadi ndak ada gairahku mau buka buku and belajar. Haduhhh #mental gila. Pas mereka liat gue megang empat novel sekaligus, mereka cuma bisa geleng-geleng kepala doang.
"Mentang-mentang lagi kayaaa..."
Yee, kayak mereka gak lagi kaya juga! Huh.

Aaaa... habis itu, setelah bayar buku-buku yang kita beli, kita keliling-keliling Rabam Mall dulu. Terus pulang deh. Pas pulang, gue singgah lagi Ke Nusantara buat beli minuman sama kopi instan. Dan setelah itu, go back to home, locked my bed room, layin' in my bed, and start to read my novels!! Uwaaaa... senangnya hatiku!! Dan emang novel-novel yang gue beli juga bagus-bagus semua. Bikin jatuh cinta deh sama tokoh-tokoh utamanya. Ada Markus dan Tony di Permainan maut (yaa ampunnn mereka keren banget), ada Alexander dan Junot di Daisyflo (mereka charming dan baik hati, sumpah!) dan juga ada Ben di My Ridicculous Romantic Obsessin yang kerena, ganteng, dan perhatian. Uuuu...

Nih sekarang lagi nyelesain si Sherlock Holmes, Uhhh! Seru!

Yeaaa, See you ini another gaje post!!

Resensi Buku, Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur!

Sunday, November 28, 2010

Huahhhh... lega rasanya saia habis ngerjain nih tugas Bahasa Indonesia, yaitu meresensi buku. Nah... silahkan dinikmati hasil resensi dari saia yang kacangan ini. heuheuheu...

Resensi Buku
Pemberontakan seorang Muslimah

Judul Buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Nama pengarang :Muhidin M. Dahlan
Jenis buku : Fiksi
Penerbit : ScriPtaManent bekerja sama dengan Melibas, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2003, Cetakan 12, april 2008
Tebal Buku : 264 hlm. ISBN : 979-99461-1-5

Muhidin M Dahlan, atau biasa disapa dengan sebutan Gus Muh adalah seseorang yang sehari-harinya, selain terus membaca, menulis dan jalan-jalan, juga bergiat di indonesia buku (iBUKU) jakarta. Pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PPI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sepertinya, Muhidin M Dahlan tidak pernah lelah mengguncang dunia tulis menulis tanah air kita dengan karya-karyanya yang kontroversi. Selain novel ‘Adam Hawa’ dan ‘Kabar Buruk Dari Langit’, penulis yang pernah menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, kembali mengeluarkan novel terbarunya berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!’
Nidah Kirani, seorang muslimah yang taat dan tegas dalam menegakkan syari’at islam. Seorang muslimah yang kesehariannya beputar antara shalat, tadarus Al-quran, dan berdzikir. Masuk ke sebuah pesantren mahasiswa demi meraih impiannya menjadi seorang muslimah yang islam secara kaffah.
Pertemuannya dengan salah satu aktivis kampus, membawanya berkelana ke dalam sebuah perjalanan sufi yang begitu diimpikannya. Melalui jalan dakwah dan jemaah yang diikutinya, dia mengukuhkan niatnya untuk menegakkan syariat islam di bumi pertiwi ini. Namun, bongkahan-bongkahan kekecewanan menimpa dirinya, organisasi garis keras dimana ia mengharapkan pencapaian tegaknya syariat islam di Indonesia malam merampas pemikiran kritis dan juga imannya. Dirinya yang selama ini selalu didikte olah dogma-dogma agama mulai merasa gerah dengan semua aturan-aturan yang merontokkan sifat kritisnya. Bahkan, Tuhan yang selama ini ia sembah dan agung-agungkan layaknya tidak mendengarkan doa-doa dan pengaduannya.
Sampai akhirnya kekosongan batin menyerang dirinya, pertahanan agamanya runtuh dan dengan mudah tergantikan dengan pemikiran bahwa “ Tuhan itu bullshit!”. Dirinya memberontak. Tidak ada lagi sembah-menyembah menghadap kiblat, atau lantunan suara merdunya membaca ayat-ayat Tuhan. Yang ada hanyalah rasa frustasi yang dilampiaskan kepada free sex dan obat-obat terlarang. Dari segala yang dilaluinya itulah ia pun mengenal hitam-putih dunia yang begitu keras berkoar-koar meneriakkan penegakkan moralitas. Terbukalah semua topeng-topeng kemunafikan dari aktivis-aktivis yang pernah menjamahnya. Bahkan, seorang dosen bersedia menjadi germonya dalam dunia malam, yang ternyata adalah anggota DPRD yang bersikeras berjuang menegakkan syariat islam di Indonesia.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh kita yang mau diajak berpiir kritis, turut membuka hitam-putih perjuangan penegakan syariat islam. Menampilkan logika-logika yang luar biasa, buku ini mengungkap hal-hal yang tabu di masyarakat, membongkar kemunafikan manusia yang berdiri di atas perjuangan agama, ideologi, dan penegakkan syariat.
Sayangnya, imajinasi dari novel ini agak sedikit memaksa, diksi yang sedikit vulgar, dan juga buku ini dikemas dalam bahasa yang cukup padat dan masih banyak istilah-stilah yang asing didengar oleh telinga kita. Sehingga membutuhkan pemikiran dan penalaran yang cukup tinggi dalam membaca buku ini.
Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini memberikan warna baru dalam perjuangan penegakan agama. Buku ini mengajarkan kepada kita bahwa beragama harus ikhlas agar tidak tertimpa kekecewaan sebagaimana tokoh di dalam buku ini.
---------------------------------------------------------------------------

Brrrrr.... rada-rada merinding saia baca and nulis resensi buat nih buku, wuaaaawwww

Beli Buku... hohoho...

Tuesday, September 7, 2010

Hai-hai maaannnn...
Akhirnya, setelah berminggu-minggu nggak ngurusin nih blog yang kagak jelas isinya gue kembali lagi membawa curhatan gue yang aneh bin gak jelas gue lagi. Akhirnya gue kembali duduk didepan meja belajar gue, nyalain laptop, nungguin proses booting, buka Ms Word, dengerin ‘Kaskus Anthem’nya Saykoji,nyolong pulsa, nungguin internet yang koneksinya ‘agak-agak’ gitu deh, dan ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggg.... balap ngetik dah sekarang.
Weeeiiisshhhh, gak kerasa nih yah Bulan Ramadhan udah memasuki tanggal ke dua puluh delapan, dan dua hari kedepan nih bulan yang suci bin barokah bakalan ninggalin kita-kita menuju kefitrahan. Gak lama lagi, gue bakalan duduk di dapur *yang jarang banget gue datangi kecuali mau nyari makan* bantuin bunda bikin burasa, bikin kue, lappa-lappa, opor ayam, ketupat, de lele. Dan yeah, gue rada sangsi ma iman gue yang kayaknya naik turun ini, gue masih susah nahan nafsu man, eeiiitttsss bukan nafsu dalam artian yang negatif, tapi nafsu belanja, nafsu nggak bisa nahan marah, nafsu pengen molor mulu, nafsu malakin sepupu, om, sama tante yang datang berkunjung kesini *hahaaaii, apa coba?*.
Ya, kayak nih hari, guekan dah janji mau nemenin adik gue, Alan pergi ke Gramedia beli buku, ya udah gue sanggupin aja, secara gitu kapan lagi gue jalan bebas. Dan emang dari dasarnya kali ya adik gue itu rada aneh bin sableng gitu. Nih anak, bukannya diakhir ramadhan itu pada tongkrongin mal buat berburu baju baru, ini malah tongkrongin toko buku. Mana dia ngibrit banget lagi beli komik yang sangat penuh pro dan kontra dimasa lalu yaitu... Crayon Sinchan!. Tapi seenggaknya itu jadi berkah tersendiri buat gue, secara gitu gue kan jadi kecipratan rejekinya juga. Biarpun Cuma nganterin gue dikasih duit Rp. 55.000 ribu man. Dan bagi gue duit yang warnanya biru dan selembar duit yang warnanya kuning gak jelas itu punya arti banyak buat gue karena itu tandanya gue bisa beli buku baru lagi! Yeaaahhhhaaaa!!! Tapi ya emang sih, guenya berat diongkos, haduhhh! Pulang pergi dari Gramedia ke rumah gue itu kan enam belas ribu, lha dah tinggal berapa tuh duit gue.
Wokeh langsung aja, kita cabut dari rumah sekitar jam sebelas siang disaat matahari dengan semangat empat limanya menebar sinar kuning kemuning berhawa panas yang menggoda iman *?* di tengah hari puasa ini, naik angkot dua kali, dan yap! Sampailah kita di Rabam Mall. Pas gitu, gue dan Alan naik ke lantai dua tempat Gramedia berada. Dan aku sama adikku pun langsung pisah, dia ke comic section, gue ke novel section, gue coba-coba nyari novel yang judulnya ‘Malu Bertanya, Ma’ gue menjawab’ gak tahu tuh karangan siapa tapi yang jelas katanya tuh novel isinya asyik gitu. And let’s see what I find...

Yeah, meskipun gak dapat ntu novel yang gue cari-cari, tapi gue dapat novel yang isinya lucu gila man. Novelnya Arham_Kendari, ‘Dumba-Dumba Gleter’ sama Rahmat Rijadi ‘Tom Jengkol’ yang langsung aja gue sambar pas ngeliat harganya yang cocok di kocek gue. Nah, langsung dah gue ngacir ke kasir dengan membawa satu komik Sinchan punya adik gue sama dua novel lainnya ditangan gue. Awalnya sih gue mau beli Sherlock Holmes and... and apaan gitu gue lupa, kan gue suka juga sama novel-novel yang ngajak kita mikir kayak gitu *aneh*. Tapi niat gue malah batal setelah melihat dua novel ngocol yang ada ditangan gue. Oh man.... bye-bye Sherlock Holmes, I will come back for you and bring you into mbak-mbak kasir, I promise man... *yaampunlebaybanget*.
Wokeh pas itu gue setor tuh tiga buku ke kasir, mbak-mbak kasirnya senyum-senyum sama gue, dia ngetik dikomputer, baca barcode-nya tuh buku dan harga totalpun muncul di kompie... WHAT THE KAMPREETTT??! Huweeee, duit gue gak cukup. Ternyata setelah ditotal-total, harganya ntu buku 86.300 ribu rupiah, huhuhu, masa’ gue ngambil lagi tuh buku trus dibalikin ke raknya sih, no mannn... tengsin abis dah. Akhirnya dengan sangat terpaksa dengan rasa gengsi yang diturunin dikit gue minjem duit ama adik gue dua puluh lima ribu. Huhuhu.. demi nafsu belanja and rasa tengsin *sungguh contoh yang gak baik buat ditiru nih* gue minjem dah. Dan setelah itu, gue sama adik gue bergegas buat pulang kerumah saking ngebetnya pengen ngebaca tuh buku. Naik angkot sekali dan naik ojek berdua—bertiga ma tukang ojeknya—, masuk kamar, banting pintu, dan ngadem sambil baca buku dikamar. But, impian gue buat ngadem mesti direm dulu karena adik geu yang paling kecil—Nur—, pas gue baru melangkahkan kaki ke dalam rumah dia langsung jejeritan gake jelas, sambil natap dan nunjuk-nunjuk gue sama Alan. Buseeet dah nih anak, nafsu banget yah dia nunjukkin kita?. Ooohhh, ternyata, selidik punya selidik, dia ternyata cemburu sodara-sodara..... sekali lagi cemburu sodara-sodara.... hahahahahaha... sebenarnya gue pengen ngakak ngeliat aksinya itu. yang gegulingan gak jelas dilantai yang udah berapa minggu gak dipel, mukanya lengket kena air mata, suaranya serak karena teriak-teriak, dan masih banyak lagi. Tapi gue juga mesti liat sikonnya juga yang terlihat gak memungkikan banget buat ngakak karena hal itu, wkwkwkwkw. So gue ngakak disini aja, wkwkwkkw. Si adik gue yang paling bontot itu ngomong, sambil jejeritan bahwa gue gak mentingin dia lah, gak sayang dialah, apalah... sambil nendang-nendang pintu kamar gue *biarin aja dah, toh bukan kaki gue yang sakit*. Ya ampun dek, kalo lu tau kakak lo nih juga ngutang buat bisa beli buku sist! Jangan lebay gitu dah. Dan akhirnya, setelah beberapa menit dia jejeritan dan kita berdua Alan malah masuk kamar masing-masing sambil bawa belanjaan dia malah makin keras menangisnya karena gak ada yang peduliin jeritannya. Oh, poor sista...
Sambil membiarkan tangisan sista gue yang akhrinya mereda dengan sendirinya, dan diselingi dengan jeda ibadah dzuhur, gue lompat kekasur gue yang gak ada empuk-empuknya, ngambil bantal and sarung, dan sreeekkkk.... breeettt.... plastik ntu buku ngocol gue buka sodara-sodara... and gue pun tenggelam dalam bacaan gue sambil sesekali ngikik tertahan. Kenapa tertahan? Ya kalo gue ngikiknya keras-keras alias ngakak ntar gue dikira sarap lagi... heuheu...