Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Enggan Marah

Monday, February 1, 2016

"Mil, gue...  gue pengen sendiri aja sekarang.  Bisa kan?"

"Maksud kamu apa?"

"Kita pisah ya?  Gue lagi nggak pengen terlibat hubungan apa-apa sekarang. Nggak pengen terlibat sama siapa-siapa."

Wajah gadis di hadapannya berubah pias .  Padahal, baru tadi mereka tertawa beraama-sama, saling bergandengan tangan, masih belum hilang rasa hangat itu dari genggaman tangan mereka berdua dan sekarang lelaki itu minta mereka untuk berpisah?

"Bisa ya?"

Reza bangkit dari duduknya, ia bahkan tidak menunggu sampai Mila mengeluarkan persetujuannya.  Baginya, tidak perlu lagi meminta persetujuan ketika kebenaran telah terungkap.  Dia lelah berkubang dalam kebohongan.  Keputusannya, sama seperti ketika dia membaca sms di handphone Mila, telah dia pikirkan baik-baik. 

"Nggak ada orang ketiga kan?"
Tanya Mila.  Ini terlalu mendadak baginya.

Langka kaki Reza terhenti.  Pemuda itu menoleh, menatap kembali gadis yang dulu ia sayang.  Sekarang pun masih, tapi kecewa berikut marah telah memenuhi hatinya.  Pertanyaan macam apa itu?!

"Harusnya, kamu menanyakan pertanyaan itu ke dirimu sendiri. Kamu pasti udah tahu jawabannya kan?"

Kejut menguasai Mila.  Kini Reza merasa selesai dengan perempuan itu.  Sudah waktunya ia melepaskan perasaannya.
Tidak perlu membalas dendam.

Formulir

Saturday, November 21, 2015

here
Cowok di depannya mengambil formulir yang dimaksudkan sahabatnya.  Masih dengan sumpit yang tertahan di depan wajahnya, dia melongok ke arah formulir itu. 
"Formulir apa?" tanyanya.
"Sekolah Penerbangan." sahut cowok di hadapannya, menaruh tiga lembar kertas itu di sisi kiri kotak makan siang mereka.  Sekolah penerbangan? 
"Kamu mau jadi pilot?“
"Hmmm.  Begitu lah.  Keren kan?“
Dia tidak menjawab.  
Menjadi pilot artinya akan ada banyak waktu tanpa pertemuan.  Tiba-tiba saja pikirannya memproses banyak kemungkinan di masa depan, waktu-waktu yang kosong, serta rindu yang menghantui beserta kecurigaan yang akan diciptakan oleh jarak.  Bagaimana mungkin dia bisa bertahan dengan semua itu? 
Dia memandangi formulir itu dengan tatapan yang penuh. Rasanya dia ingin memiliki kekuatan untuk mengubah kertas menjadi abu.
Ah, betapa sesuatu yang kecil mampu menciptakan gelombang yang besar.

Patah Hati Dari Dunia Paralel

Sunday, September 27, 2015

here
Saat menghadap ke komputerku dan termenung menatap kolom postingan di dashboard blogger, aku merasakan ada ngilu aneh yang tiba-tiba merambati jantungku. Kadang pula saat aku tengah termenung di dalam angkot, saat mengamati nama-nama makanan ringan di supermarket, atau ketika sedang menulis jawaban soal essai saat ujian. Ia merambat dengan lambat, menyebarkan gelombang aneh di area perut dan menghujam jantung dalam ngilu panjang yang samar-samar. Aku tidak punya riwayat penyakit jantung, tidak ayahku, tidak ibuku, tidak pula kakek-nenekku. Aku periksa ke dokter, dan dokter bilang tidak ada masalah apa-apa dengan jantungku.
Aku sehat.
Namun, mengapa?

The Bride y.1.uTLD

Saturday, November 22, 2014

here

Kupikir, kisah yang seperti itu hanya ada di film-film, sinetron cengeng, atau FTV saja. kisah tentang pengantin wanita yang ditingggal mati mempelai pria di hari pernikahan mereka. Namun kini, aku benar-benar melihat produk asli dari film-film romantis cengeng itu. Sosok asli mempelai wanita yang digambarkan menyedihkan dan juga...
Cantik.

Tahun pertama.
Dia datang dengan berantakan.

Itu adalah kalimat pertama yang muncul di benakku saat kulihat dia muncul di hadapanku. Malam itu, aku bertugas untuk menutup kafe. Aku tinggal membalikkan kursi dan mengangkat sapu untuk bersih-bersih ketika ia datang dengan gaun pengantin yang basah dan kotor

Entahlah [Ini Intinya Apa]

Thursday, September 11, 2014

here
Pikiran Radit mulai meliar. Baginya perempuan yang sedang patah hati itu bisa berbahaya, tidak terkecuali Rhea. Terutama Rhea. Setelah berhari-hari gadis itu mengurung diri di dalam apartemennya, kini gadis itu sama sekali tak nampak batang hidungnya di sudut mana pun Radit mencarinya. Sama seperti hari-hari kemarin sejak Rhea patah hati setelah putus dari pacarnya yang tukang selingkuh itu, Radit rutin mengunjungi rumahnya hanya untuk tahu bagaimana keadaan gadis itu. Well, meskipun kekecewaan yang selalu ia dapati karena Rhea tak kunjung mau membukakan pintu untuknya, tidak mau membagi luka dengannya. Dia sudah lelah dengan beratus-ratus nada sambung yang terputus dari teleponnya dan juga sudah putus asa mengirimi sms-sms tak berbalas ke Rhea. Dan sekarang ia merasa seperti menghadapi bencana.

Bangun Pagi-Pagi

Thursday, August 21, 2014

Aku bangun dengan jantung yang melonjak kaget dan tangan yang refleks meraba-raba sebelah tempat tidur. Ku temukan tanganmu di sana. Dan pikiranku semakin terlonjak membuat mataku terbuka sepenuhnya. Benar-benar kurasakan kerut-kerut seprai karena beban tubuhmu, lalu hangat yang menjalar karena kau berbalik ke samping, memberiku keleluasaan untuk menatap wajah tidurmu.
Di sini.
Di dalam kamar yang gelap, yang tirainya pelan-pelan terang karena sinar matahari pagi. Ada kamu di sampingku, balas menggenggam tanganku dalam tidur. Pupil

Model

Friday, March 14, 2014

here
Jam 00.00 dini hari, pelan-pelan aku mengendap. Kunci pintu sudah di kantong, sepatu high hellsku sudah kucopot. Sebentuk bulat kue blackforest kesukaanmu sudah kupegang.
Aku berjalan menuju koridor, memasukkan anak kunci ke dalam lubang pintu. Dibaliknya, kamu biasa berkutat dengan kamera dan lampu sorot.
SUPRISE!!
Kamu kaget! Pasti tak menyangka.
Begitu pula aku. Begitu pula perempuan bugil di depanmu.
Tandukku muncul.
Malam ini, aku yang jadi fotografernya, kamu jadi modelnya.
Model peti mati.



Siapa Bilang Jatuh Cinta Itu Enak?

Monday, March 3, 2014

here
Jatuh cinta itu nggak enak.
Terlebih lagi ketika perasaan itu hadir tanpa mengenal waktu, tempat, kondisi, dan kepada siapa perasaan itu jatuh. Mengerikan dan tidak tahu diri. Menyebalkan dan bikin susah. Semuanya jadi serba salah. Dan mendadak kita menginginkan segala hal menjadi sempurna. Tatanan rambut lah, pakaian lah, tampang lah, bahkan sampai sikap pun berubah karena perasaan itu.
Shit.

Menunggu

Thursday, January 9, 2014

Ia tidak pernah diperlakukan dengan seperti ini.
Semua orang memperlakukannya dengan baik, menghormatinya, menyayanginya, dan tak pernah melukai dirinya. Ia begitu disayangi dan disanjung. Semua orang akan memberikan jalan untuknya ketika ia lewat, setiap pria akan menarikkan pintu, menggeser kursi, memegang lengannya ketika ia turun dari mobil. Ia tidak pernah ditinggalkan, dia lah yang meninggalkan. Dia tidak pernah mengejar, dia lah yang dikejar. Dia tidak  pernah menunggu, dia lah yang ditunggui.

Sebut Saja Ini Mimpi yang Sempurna

Monday, October 7, 2013

here

Sebut saja ini mimpi yang sempurna. 
Tentang purnama yang begitu sempurna, jelmaan lampu tidur raksasa pada langit-langit kamar yang menggelap. Tentang jalan panjang yang berkilauan, meliuk seperti naga. Tentang bukit hijau yang menghampar luas, yang dibingkai pohon-pohon dedalu dari kejauhan, dibercaki dengan satu-dua warna bunga daffodil.
Ini tentang kita, yang berbagi selimut untuk menghangatkan jari-jari kaki yang menggigil. Ini tentang kamu yang bersandar di bahuku, mendonggak menatap perpaduan kilau di atas sana, lalu mengangkat tangan berusaha menggapai. Dan aku yang merangkulmu,

Lugu.

Saturday, September 21, 2013

here
Sebagai lelaki yang sudah berkali-kali berselingkuh, menyeleweng, menikung, dan mendua-mentiga-mengempat, seharusnya dia sadar, cerdas dan dia tahu untuk menyembunyikan segala hubungan busuknya. Ala bisa karena biasa, istilahnya. Kejayaan dan kemenangannya dalam menghancurkan hati dan membuat parit-parit air mata di pipi perempuan akhirnya luruh oleh waktu. Lama-lama dia semakin bodoh dalam menjalin hubungan.
Pada akhirnya dia jatuh pada seorang perempuan. Sejenis perempuan diam, lugu, manis, terlalu kosong dan putih untuk dibercaki gombalan gulali.

Dari Hati yang Selalu Diam

Wednesday, June 5, 2013


here
~0o0~
'Tidak capek, suka sama dia?
Hari itu, sisi rasional diriku bertanya, seusai diriku mendapati dirimu bersenda gurau dengan orang lain. Rasa ini seperti sebuah kesalahan, menyakiti diriku sendiri dan membuat diriku memaki diri sendiri. Lelah menyimpan rasa ini, tapi enggan untuk mengutarakan semuanya. Takut bila nantinya kamu akan menjauh, terlebih lagi malu. Aku bukanlah seseorang yang mudah untuk mengatakan apa yang kurasa.
Aku lelah dengan perasaan ini. Lelah menyukaimu dari jauh, namun perasaan ini tak mau pergi. Setiap kali kau ada, duduk di sampingku, tersenyum padaku, bercanda denganku, rasa berdesir-desir itu kembali hadir meskipun aku telah berusaha untuk membuang rasa yang dulu kusimpan dalam-dalam. Aku hampir berhasil melupakanmu, tapi hatiku seolah menjadi Judas untuk diriku. Berkhianat. Hal-hal yang membuatku menyukaimu datang kembali seperti putaran film yang melambat, setiap kenangan-kenangan itu seperti adegan slow motion yang dibuat seolah-olah

Akhir yang Tak Pernah Kita Tahu

Friday, March 29, 2013

Ching-Teng Ko:  “ In fact, when you really like a girl, you’d be happy for her. When you see her finding her Mr. Right,  you will want them to be together and to live happily ever after “
Kita tidak pernah tahu, kemana takdir membawa kehidupan ini.
Aku yang dulu tak pernah memperhatikan dirimu, aku yang begitu sibuk dengan hidupku, kesenanganku, terlena dalam egoku, bermain-main dengan hidup.
Aku tak pernah tahu seperti apa rasanya menyayangi seseorang sampai kau hadir di dalam hidupku, mengusikku dengan tingkahmu yang lembut dan malu-malu. Kamulah yang mengajarkanku rasa kasih ini, kamulah yang menciptakan banyak warna di dalam kehidupanku, kamulah yang menjadikannya sempurna.

Buku-buku tebal. Detensi. Sepi.
Adalah tiga hal yang mempertemukan diriku denganmu. Pertemuan Pertama, setiap kali aku mengingatnya selalu membuatku malu pada diriku sendiri.
"Maaf..." gumammu ketika itu, tak sengaja menjatuhkan sebuah buku tebal hard cover di kakiku. Sukses membuatku mengaduh kesakitan.

Pisau

Saturday, February 18, 2012

Lagi.
Kulihat kau di sana. Duduk sendiri di sudut paling dalam perpustakaan. Pisau tajam di tangan kananku mengkilat karena keringat yang menetes dari pelipisku, kuangkat menghujam pada udara di belakangmu.

Membunuh waktu. Agar aku bisa menikmati wajahmu selamanya.

#FF
#8Minggu menjelang Ujian Nasional
#apaaahubungannyaaa?
#stresss