Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

[Movie] Inside Out, Animasi Tentang Emosi di Dalam Kepala

Saturday, August 15, 2015

Source

Haloooooo....
Guys, udah berapa hari ini gue nggak posting lagi? Hohoho....
Harusnya tuh hari ini gue udah ngepost dua postingan, satu tentang kamar mandi dan satu flashfiction, but gue kena distraksi saat menulis dan sepanjang hari ini gue dengar lagu galaunya Fiersa Besari yang berjudul Waktu yang Salah. Gara-gara si Anggi nih, jadinya gue dengerin terus tuh lagu dan ujung-ujungnya jadi baper. Hadehhhh.
But, let's forget about the posts that not yet come and galau song, now we will talk about a movie that I already wacthed.

Ngenye, Capek, dan Respek

Friday, April 26, 2013


Warning sebelum dibaca: ini tulisan dibuat dalam keadaan labil, jadi  maklumi saja apa bila ada yang aneh dalam tulisan ini.

Gue nggak bakalan buka postingan ini dengan awalan hari ini matahari bersinar cerah, karena gue nggak bangun pagi dan nggak ada waktu buat mandangin matahari. Yeah, seperti biasa hari ini dilewati dengan berbagai 'acara' yang jadwalnya jarang-jarang kayak gigi Nenek yang sudah ompong. Siang praktikum, sorenya Responsi. Well, lagi-lagi sisi kampret gue tergugah untuk nulis something like this, opini miring-subjektif dari cewek labil.
Tadi sore adalah jadwal responsi dadakan di kelas gue, untuk praktikum. Biasanya, kita-kita anak MIPA ini kalau mau praktikum, biasanya di adakan Respon dan Asistensi (Responsi) utuk menguji kesiapan kita saat akan melakukan praktikum nanti.Nah, untuk asistensi itu kita akan dibimbing dan 'diuji' oleh kakak Asisten (yang mendampingi saat praktikum).
Dan di sinilah, miskomunikasi, capek, ngenye, dan emosi berbaur menjadi satu masalah.
Pertama. Teman-teman gue tahunya hari ini tuh mau asistensi aja, nggak respon. Which mean, kita bakalan dikasih informasi dan dibimbing. Nggak ditanya-tanya.
Kedua. Pas di tempat asistensi, kakak asistennya bilang kalau bakalan ada respon juga.
Ngek.
It’s make the situation became chaos.
Mulai dah itu, yang nggak belajar buat respon, yang nggak siap, yang masih bau iler datang ke kampus buat asistensi pada ribut ala-ala lebah yang diganggu sarangnya. Mulai banyak yang protes, ini kok malah ada respon juga, padahal kan berdasarkan pemberitahuannya cuma asistensi doang.
Grasa-grusu. Bisik-bisik. Protes-protes. Include me, of course. Helllo, daku nggak belajar ini kenapa langsung ada infonya kalau respon?
Sang asisten mulai garuk-garuk kepala. Tampang masih cooling down.
Sabar-sabar-sabar.
Sang Asisten mulai menjelaskan, bilang kalau hari ini kelas gue bakalan direspon juga, gak cuma asistensi. Kakak Asisten sudah repot-repot menjelaskan, eh cuma sebagian orang aja yang dengar.
Sisanya? Grasa-grusu, pada ngomel-ngomel kecil ini kenapa jadi dadakan gitu responnya??!
And then, karena nggak siap direspon jadilah acara tawar-menawar ala  pasar ikan. The people start to make opinion. Nggak usah diresponlah... Atau modeel responnya yang diganti, dari yang awalnya mau respon tertulis, menjadi respon lisan aja. Setelah perdebatan yang cukup alot, yang melibatkan banyak energi, waktu, pikiran, dan amilase terbuang, didapatkanlah keputusan bahwa model respon diganti. Dari yang respon tertulis menjadi respon lisan perkelompok, dalam hal ini responnya menggunakan alat bantu tertentu.
Dan yaaa...
Again. Di sinilah terjadi kebingungan plus ke-plin-plan-an. begitu melihat kakak asisten gotong-gotong alat bantu, si temen-temen pada hectic lagi. Grasa-grusu lagi, sebagian ngomel, protes, sisanya diam.
Ini kenapa pada gotong-gotong alat bantu?
Ini Model responnya kayak gimana sih sebenarnya?

Give me little pause in here.
Tahu kan ya, kalo lo udah seharian di kampus. Pengen pulang, sudah badan bau naga, pengen mandi, kelaparan, ngantuk, nyesek. Dan ada saat di mana kepulangan lo harus tertunda karena seuatu kewajiban yang nggak bisa lo tangguhkan. Dan ketika lo pengen memenuhi kewajiban itu banyak banget hal yang bikin lo emosi, bikin kepulangan dan segala urusan lo tertunda.
Gimana perasaan lo?
Gue begitu, temen-temen gue begitu. Nyesek pengen pulang.
Tapi mungkin, lebih nyesek si kakak asisten yaa. Udah bela-belain buat
asistensi, ehhh dapatnya malah diprotes-protesin.
Oke, push the Next Button.

Daaannnn...
Saat itulah si kakak bertanduk—eh, kamsudnya si kakak mulai kelihatan emosi...
Suasana yang tadi chaos, berangsur-angsur mulai diam gegara ada hawa-hawa malaikat Izrafil bakalan niup Sangkakala. Itu si kakak Asisten udah pasang muka bete, nada bicaranya mulai ditekan-tekan, gerakan tangannya sudah mulai kaku.
Bah, keluar dah tuh emosi.
Endingnya, model respon yang tadi mau lisan dan pakai alat bantu balik ke rencana awal, jadi respon tertulis. Dan gue dan temen-temen gue melaksanakan respon tertulis dengan suasana yang... ehem... mencekam.
Itu kita berasa kayak ikutan pertarungan hidup dan mati a la The Hunger Games tahu nggak. Responnya dikasih waktu, lewat batas waktu udah nggak boleh nulis jawabannya lagi, pulpen harus dilepas, kalau pulpen nggak dilepas yaa konsekuensinya jawaban lo dianggap kayak nasi kelamaan diangkat, hangus.
Well, maybe for some people who read this post will think 'Ah, itu mah biasa aja, gue pernah dapat yang lebih parah daripada itu.', tapi buat kita-kita yang masih mahasiswa bau kencur ini diperlakukan seperti itu pasti bakalan mikir 'Ini si kakak kenapa sihhhh?' (diucapkan dengan nada paling rese pokoknya).
Well, gue nggak bakalan protes-nyumpahin-meratapi hasil respon gue di postingan ini. Gue cuma mau berbagi pikiran gue aja.
Kita, praktikan dan juga asisten itu sama-sama capek. Sama-sama punya kewajiban yang ingin dipenuhi. Sama-sama punya jadwal tersendiri. Punya deadline. Punya urusan. Ya mbok saling mengertilah. Untuk menyampaikan informasi, ya silakan diperjelas. Supaya tidak ada kesalahan informasi lagi mengenai jadwal yang akan dilakukan. Di dalam hal ini, kalau untuk orang-orang yang mengerti bahwa asistensi dan respon itu satu paket yang nggak apa-apalah kalau cuma bilang asistensi aja. Tapi kalau buat mahasiswa kemarin sore, yang masih labil dan belum ngerti apa-apa ya silakan diperjelas sejelas-jelasnya jadwal asistesi/respon/ResponSi.
Dan ini nih...
Buat teman-teman sesama mahasiswa, praktikan. Apapun deh.
Terkadang kita sering mengeluh karena jadwal yang semena-mena. Namun ada kalanya kita mesti berhenti berkeluh kesah dan melihat orang lain. Tadi sore, adalah kali kesekian di mana gue melihat ketidak-respek-an sekelompok orang terhadap orang lain. Kakak asisten cuma satu sementara kita hampir satu batalyon di dalam sana. Dalam keadaan seperti itu, sekalipun kita akrab dengan orang yang akan 'membimbing' kita, ya kasih respek sedikit lah. Tidak mungkin satu mulut menenangkan puluhan mulut lainnya yang sibuk berkicau.
Kita selalu menuntut untuk dimengerti, menuntut untuk dipahami. Namun saat orang lain meminta pengertian kita, kita malah tidak mau berhenti untuk mendengarkan. Orang lain yang 'berhak' berbicara di depan kita, kita kebiri haknya dengan ego kita. Memotong ucapan orang lain, berbicara saat ada orang lain yang juga berbicara kepada kita, bukanlah sesuatu yang sopan. Orang lain tersebut akan merasa bahwa dia tidak dihargai oleh kita.
Apa susahnya membiarkan orang lain menyelesaikan ucapannya, lalu kita secara teratur menyampaikan pendapat kita sendiri?
Sebagian dari temen-temen gue berniat dan ingin jadi asisten (nantinya). Apakah nantinya, kita (si calon asisten masa depan) ingin diperlakukan seperti itu juga? Tidak dihargai? Apa kita mau saat kita berbicara, orang yang kita aja bicara itu malah berbicara dengan orang lain, sibuk mengeluhkan kehidupannya sendiri dan tidka memperhatikan omongan kita?
Apabila kita menghargai orang lain, sebenarnya kita juga menghargai diri kita sendiri.
Gue punya sebuah kepercayaan yang gue tanamkan dalam diri gue sendiri. Apa yang kamu tanam, itu pula yang kamu dapat. Karma.
Bagaimana kamu memperlakukan orang lain, maka kamu akan mendapatkan perlakuan yang serupa pula. Kalau kita tidak menghargai orang lain, maka orang lain tidak akan menghargai kita. Kalau kita tidak mau mendengarkan orang lain, maka orang lain tidak akan mau mendengarkan kita.

Makanya mulut itu cuma satu, sementara telinga itu dua.
Kita butuh lebih banyak mendengar dibanding berbicara.

Atau mungkin, di masa depan, Tuhan akan menciptakan satu telinga lagi. Tepat di bawah mulut.

Bullshit We Made

Sunday, August 5, 2012

From here

Everything running wild on my mind. Now.

 Akhirnya, setelah sekian lama sering tertunda, sekian waktu saya enggan membahasnya, akhirnya waktu yang saya harapkan tidak akan pernah muncul itu datang. Ya, sekarang.

Dan sekarang, saya akan berbicara tanpa mengindahkan lagi yang namanya ‘Jaga-hati-mereka-dong, Rhyms’. No, I’m done! Tidak ada lagi istilah jaga perasaan di sini. Saya blak-blakan saja ya.

Kemarin, sekte-fanbase-apapun-namanya yang saya ikuti itu, bergejolak. Again.

Karena apa?


Karena sebuah postingan ‘like a lil shit in my backyard’. Kemarin, ada seseorang yang sebut saja namanya ‘Bunga’ memposting sebuah gambar di rumah itu. Gambar yang mungkin buat orang yang heterogen akan menanggapinya biasa-biasa saja, tapi yeah... buat orang yang sudah atheis seperti saya itu seperti seekor kecoak di piring makan saya.

Reaksi saya pertama kali mendapati gambar itu?

“What the hell going on?”

Saya tidak mau lagi munafik di sini. Jujur saja, saya jengkel liat postingan begitu di rumahku. Kayak saya ingin ambil cabe rawit satu liter, terus saya ‘cabein’ mukanya.

Nih orang nyadar nggak sih, ini tuh tempatnya siapa? Apa aja yang boleh dipublikasikan di tempat itu?! Di sana tuh bukan tempat umum! Bukan grup yang bisa disinggahi setiap pairing apa pun yang dia suka, yang dia sayang, yang dia cinta dan seenaknya mempublikasikan tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya itu!

Kemarin, ada yang bilang kayak gini :
“ Kan gak ada maksud apa-apa.” ; “Dia mungkin gak nyadar apa yang dia posting ini.”
Oh yeaaah? Reaallyyy? Are you sureee?

Aduh, maaf kata nih yee sebelumnya... Si Bunga ini gak lagi trance kan waktu memposting gambar itu? Gak lagi sakaratul maut kan? Gak lagi kerasukan pocong-aborsi-karena-hamil-tiga-bulan-dan-berubah-jadi-kuntilanak- kan?

Kalau saya memposting sebuah gambar di sebuah grup, otomatis akan saya perhatikan baik-baik grup itu. Tidak bisa teliti? Lupa? Dicek setelah memposting, sudah benar ini grupnya atau nggak. Jadi nggak ada alasan dia itu khilaf atau lupa atau trance.

Kok bisa-bisanya.

Alasan mati kalau ada yang dia bilang gak teliti! 

Itu baru yang memberikan postingan, belum yang memberikan respon atas postingannya itu.

And, I know. This is my fault.

Di grup itu, di sekte itu, di rumah itu gak semuanya murni cuma cinta sama satu pairing doang. Hampir sama rata antara yang heterogen sama penganut NH-Garis-Keras (macam FPI-nya NHL lah). Dan tidak diragukan juga, kalau di grup itu banyak laki-laki dan perempuan-perempuan ‘hipokrit’ kayak saya. Manusia-manusia labil bermuka dua, yaa... semacam itu lah.

(Ada yang marah dengan paragraf di atas? Oww... Jangan tersinggung. Cuma satu dua orang kok yang hipokrit di rumah itu. Tenang saja.)

Awalnya, saya memberikan komentar peringatan kepada Si Bunga ini. Saya harus berlaku adil kepada setiap anggota keluarga saya. Sama seperti pelaku ‘maaf-saya-masih-labil’ yang dengan sengaja ‘salah posting gambar’ beberapa bulan yang lalu.  Bila ada salah satu anggota yang melakukan kesalahan, they’re must face it! Hadapi kesalahan itu, bertanggung jawab, dan bereskan sendiri.

Saya jadi admin di sana untuk mengawasi mereka, bukan tukang bersih-bersih sampah-sampah pikiran mereka!

Do and Don't at Hospital

Friday, May 25, 2012

From here

Ahoooyyy guyyysss (masuk panggung dengan tampang loyo)...

Aaa... Selama beberapa hari ini, gue ngeden di rumah sakit. Ini karena
si Pangeran sakit muntaber dan terpaksa mesti rawat inap di rumah
sakit As, salah satu rumah sakit baru di Kendari.

By the way, gue mau komplain dulu nih yee...
Rumah sakit, kalau belum siap ya jangan dibuka dulu. Please, lengkapi
dulu peralatannya. Mulai dari genset, air bersih, sampai pembagian
kapasitas ruangan, dll.

Why genset? Karena, kalau di rumah sakit ndak ada genset, lalu ada
pemadaman listrik, mau bagaimana? Apa nanti operasinya pake lilin? Ini
mau operasi apa mau ngepet?

Why air bersih? Please deh, di rumah sakit tuh banyak orang. Sekamar
bisa dapat 4 pasien. Belum lagi jumlah penjenguk dan penjaganya. Dan
coba bayangkan, hanya ada satu kamar mandi dengan satu drum plastik di
setiap section...
Bakalan berasa kayak di Af(r)ika, kurang air...

Kapasitas ruangan, why? Ruangan rawat luasnya 5 x 8, diisi 6 ranjang.
Keliatannya sih luas, kalau belum ada penghuninya...

Nah, sekarang gue bakalan sharing IMHO gue kalau berada di rumah sakit.

LAKUKANLAH :

1. Patuhi rambu-rambu rumah sakit. Kalau disuruh untuk 'lepas alas
kaki', tolong dipatuhi. Apalagi kalau di kamar mandi, lepas tuh
sandal. Emangnya dapur umum apa, masuk pake sandal. Akhirnya, air
keburu habis cuma buat 'membersihkan' pasir-pasir yang ada di lantai
kamar mandi.

2. Penjenguk harap sadar diri. Ini rumah sakit, bukan rombongan
karyawisata. Masuk ruang inap ya dicicil-cicil dong, jangan
pengunjungnya masuk semua. Pengap tuh kamar, berisik, bikik pasien gak
bisa istirahat.

3. Kalau udah liat ada pasien yang tidur, jangan berisik! Polusi suara tauk!

JANGAN LAKUKAN :
1. Men-setting volume nada dering dengan volume full! Kalau perlu
di-silent aja, kasih nada getar, atau diatur ke volume yang lebih
kecil. Karena sekali lagi, it's a sound pollution. Dan itu mengganggu.

2. Mendengarkan musik tanpa pakai headset. Ampun deeehhh, bagusan juga
kalau lagu yang diputar lagu klasik, bisa bikin pasien tidur. Lah ini
lagu yang diputar lagu disko, mana bisa istirahat orang...

3. Bercakap-cakap dengan volume sangkakala. ingat, ruang inap bukan
milik pribadi, jadi berbisiklah kalau mau bicara, kalau perlu... Pake
kata sandi aja sekalian, atau semapur kek, sandi morse kek, sms kek...
Kakek...

Gue cuma bisa bagiin itu, karena itu yang gue rasain selama ngejagain
Pangeran. Dia nih masih bayi, rewel, dan butuh suasana yang tenang dan
damai. Dan dengan banyaknya polusi suara yang bertebaran di ruang
rawat, itu bikin nih anak makin bawel, gak bisa tenang.

Satu anak nangis, yang lainnya ikut-ikutan nangis. Mpret! Parade
nangis dah semua...

Semua itu balik ke kesadaran masing-masing pasien dan penjaga dan
penjenguk. Sadar diri karena kita ini sedang bersama orang sakit,
bukan lagi arisan. #gak nyambung dah

Ketika NHL terkena Badai, tsaaahhhhh

Tuesday, April 19, 2011

Ahoyyyyyy...
Entah ini hari kayak ada yang mau saya kunyah mukanya. ndak tahu kenapa. Padahal, barusan kemarin senang-senang perasaanku, sekarang ehhh... malah ada yang ingin gue kunyah.
Ini gara-gara baca page ripiu di fanfic salah satu NHL *entah bisa dibilang NHL atau gak*. Emang, kalau gue nilai diri gue sendiri, gue emang sebel sama ending fic itu. Sumpah nah, sebeeeellllllll bangeeeeeeeettt.
Lillahi ta'ala. Wallahi. Gue jenggkel, sa pedoko.
Tapi mau diapa lagi? Toh? Klise. Mau diapa lagi? Itu haknya author. Sekali lagi HAKnya author.
Pernyataan klise.
Itu haknya author.
Ededehhhh...
Gue bisa ngertilah kalau ada NHL yang gak setuju dengan ending dari fic itu. Tapi memaki-maki authornya? Hell no. Sama kambing. Ishhhhh jengkelku.
Belum lagi, ada yang mengadudomba NHL. Sok ngata-ngatain NHL tuh cemen, busuk. Ihhhh kayak dia harum saja. Sama taiburi situ... baru banyak bicaranya. Heiii kalau kamu gak tahu apa-apa tentang NHL, JANGAN BANYAK OMONG LUUUUU. Jangan banyak bicaramu, jangan suka pacoddokeng.
Yang authornya juga, kalau memang ada 'CRACK' di dalam ficnya, pasang memang warning baek-baek, besar-besar, banyak-banyak. bilang "CRACK, CRACK, CRACK. Gak Suka Crack Keluar Aja'
Jangan terlalu gila mau dibaca juga. Sudah tahu NHL itu sebagian besar fanatic, masih jalan jugaaaa.
Met aja deh buat yang digituin. Met... naaahhh. Met.

Wokkeh it's time to cool heads.

*jadi yang tadi itu apaaan?*
*curhatan*
*SEMESTA MENANGIS*

*ngomong ala konsuler toilet*
KEEP STAY COOL'
Slogan ini seakan minta dibuktikan dengan hadirnya sebuah fic dengan ending yang cukup pro dan kontra di FNI baru-baru ini. NHL yang selama ini 'tenang dan dingin-dingin' saja akhirnya harus terkena badai juga.Entah harus menyalahkan siapa, atau memang tak ada yang pantas tuk disalahkan, kemarin NHL pun kena batunya juga. Sebagian NHL pun terbawa emosi sesaat.

Masalah ending suatu fic, yang tidak sesuai harapan para pembaca, itu bukan urusan saya, karena yang 'memiliki' jalan cerita suatu fic adalah author, bukan 'readers and reviewers' apa lagi saya yang gila ini. Namun kita pun tak bisa menyalahkan RnRers yang menuntut kepuasan mereka. Karena tujuan mereka membaca fanfic adalah untuk sebuah kepuasan atas pair favorit mereka.
lantas, mau dibawa ke mana pro kontra ini?

*Mau dibawa ke mana by Armada mengalun dari kejauhan*

Ada di otak kita masing-masing. bagaimana setiap komponen NHL menyikapi hal ini.
Apakah NHL akan terbawa emosi dengan memaki-maki author yang bersangkutan?
Apakah slogan Keep Stay Cool hanya akan dianggap angin lalu saja?
Apakah auhtor yang bersangkutan akan BERHENTI menulis fic NH?
Apakah gue gak bisa merasakan nikmatnya OL sebebasnya besok? *jyaaah curhattt looo*

Setidaknya ini pelajaran buat kita, NHL keluargaku tersayang tercinta, dan paling membuat geregetan. Bahwa NHL bisa juga kena masalah. mwuahahahahaha...
NHLku, keluargaku. Jangan egois ya Sodara. Biar bagaimanapun endingnya suatu fanfic, terima saja dengan lapang dada. Karena walau bagaimanapun, tidak semua author menulis sesuai dengan keinginan kita. Ada author yang menulis untuk kepuasan dirinya sendiri, dan kita tidak punya hak untuk mengubah hal itu. Biarkan author melepaskan imajinasi mereka. Kalau memang kita tidak suka dengan fic/ endingnya/ pairnya atau apalah itu, tenang... ada aspal yang bisa kita goreng, ada laut yang bisa kita bakar, dan ada tembok yang bisa kita pukul. tinggal pilih saja mana yang kalian suka... mwuahahahahaha... *konsuler sesat*
sesakit apapun kita untuk menerima hal itu...
jangan egois friendss, karena NHL yang egois sesungguhnya bukanlah NHL sejati.

Dan daku punya lagu sableng buat NHL semua, yang tau lagu aslinya, nyanyi bareng yapppp...

Original song
EX-FRIENDS by Tipe-x
 *edited be 'Cool NH'*

Jangan pernah ganggu NHL
NHL gak akan mengganggumu
Jangan coba usik NHL
NHL gak akan mengusikmu

Urus saja semua OTPmu
Kami cuma gak suka digangu-ganggu
Gak peduli siapapun yang mengganggu
Pasti kami tetep Stay Cool

Kami  bukannya gak peduli
Cuma gak mau gila urusan
Flamer pun kita cuekin
Karena mereka cuma pecundang

Urus saja semua OTPmu
Kami cuma gak suka digangu-ganggu
Gak peduli siapapun yang mengganggu
Pasti kami tetep Stay Cool

Urus saja semuaOTPmu
Kami cuma gak suka digangu-ganggu
Gak peduli siapapun yang mengganggu
Pasti kami tetep Stay Cool


Keep Stay Cool NHL
and
Keep Lovin Peace.
Karena damai adalah inti dari kebersamaan kita.

Bila Tak Ada Semangat Untuk Menulis

Sunday, March 13, 2011

Ahooooooyyy sodaraaaa..
Hari ni, Rhy mau sharing sedikit beberapa hal yang Rhy tahu. Bagi sebagian orang, menulis itu adalah sebuah hobi, kebiasaan, dan apapun namanya. Menulis adalah wadah untuk mencurahkan isi hati, membagi ilmu, dan juga… mengais rejeki, xixixixi…
Namun terkadang, rasa malas datang menghinggapi kita untuk menulis. Tampilan Ms Word yang imut-imut itu kayaknya udah gak menarik hati, kursor yang berkedip-kedip nakal udah gak menggoda lagi, dan keyboard dengan segala susunan hurufnya yang manis-manis sudah gak bikin nafsu lagi *halaaaahhh*. Nah, biasanya rasa malas itu ‘dikompori’ oleh beberapa faktor. Bosanlah, gak ada ide yang assik, suasana yang kurang menudukung, fasilitas yang minim, ataupun faktor-faktor lainnya yang… weuuu gak enak banget!
Terkadang juga, kita lagi kebanjiran ide.. beuuuhhh… ide udah numpuk-numpuk di kepala sudah kayak kopra yang dijejali dalam karung goni. Tapi.. ya itu, bawaannya malas! Nah, berdasarkan rasa malas itu, Rhy mau bagi-bagi sedikit tips. Kalau mau diikuti Alhamdulillah, mau ditambahkan juga boleh. Yoweww ini dia!
* Memotivasi diri sendiri.
Tumbuhkanlah motivasi dalam diri untuk mengusir rasa malas itu, motivasilah dirimu untuk tetap menulis. Pikirkanlah apa tujuan kamu menulis, untuk siapa kamu menulis, dan apa yang akan kamu tulis. Nah dengan begitu, kamu akan termotivasi dengan sendirinya.

* Mood.
Kadang kita gak nulis kalo mood lagi gak dapat. Ada okenya kalo kita yang membuat mood kita itu menjadi ‘indah’. Ciptakanlah ia. Mungkin dengan mendengarkan musik, jalan-jalan keluar, baca-baca cerpen atau novel, makan, tidur, dan… *ini mau nulis apa mau bikin berat badan naik?* nah, kalau mood buat nulis itu gak mau datang-datang juga? Gimana? Apa kita akan berhenti? Ohhh… ora isssooo. Menulis tanpa mood? Maka tulislah apa saja yang kita alami, rasa apa saja yang kita rasakan saat ini. Bagaimana perasaan kita saat rasa malas itu menyerang kita, bagaimana tersiksanya kamu saat ‘pengolah kata’ di otak kita mendadak blank, maka ungkapkanlah. Ungkapkanlah segalanya dalam tulisan kamu. Mari bantai rasa malas itu dengan menulis curahan hati kamu. (ini udah gue terapkan dan berhasil lho!)

* Menulis dimana saja dan kapan saja.
Ide, kadang datang disaat yang ‘gila-gilaan’. Terkadang ide datang saat kamu sedang serius-seriusnya melakukan sesuatu dan tiba-tiba… Tringgg!! Ide datang dengan segala ke-brilian-annya. Dan apa yang akan kamu lakukan? Membiarkan ide itu pergi? Ohhh… tidak bisa. Jangan membuang waktu dan ide yang dengan sukarela mampir di otak kamu. Ambillah secarik kertas dan tulislah apa yang ada di pikiranmu. Biarkan ide itu mengalir apa adanya.
Nah, untuk itu, buat kamu yang lagi getol-getolnya pengen nulis disarankan buat bawa catatan dan pulpen kemana-mana, sehingga pas ada ide langsung di’caplok’ deh. Gak bisa bawa catatan? Gampang ada ponsel dan benda-benda lainnya yang bisa dipakai buat membantu
Tak perlu mengembangkan ide cerita pada saat itu juga, bisa aja kita catat ‘kecil-kecil’ dulu, baru nanti setelah ada kesempatan baru kita kembangkan. Kan yang penting, ide itu sudah tersimpan, toh?

* Jauhkan rasa ingin dipuji.
Singkirkan, singkirkan rasa ingin dipuji itu! Kadang, kita sudah gede kepala duluan saat membayangkan orang-orang mengomentari tulisan kita dengan kata ‘Keren! Bagus banget! Dan bla-bla-bla…’, sehingga keinginan untuk dipuji itu telah menjadi tujuan utama kita dalam menulis. Coba bayangkan kalau seandainya karya yang kamu buat yang kamu bayang-bayangkan akan mendapat pujian tapi nyata-nyatanya tidak? Wah bisa frustasi berat tuh. Kenapa? Karena pencapaian yang diinginkan gak tercapai dan pada akhirnya kita jadi loyo, lemes dan lesu buat nulis lagi. Pujian itu, hanyalah ’efek samping’ dari karya buatanmu, pujian hanyalah bonus karena kita telah mau menulis dengan sepenuh hati. Jangan sampe deh kamu jadi kehilangan semangat, frustasi ampe stress dan ngamuk-ngamuk gaje gara-gara hal ini. Ihhh jijay bo!

* Banyak-banyaklah membaca.
Banyak membaca bisa membantu kita dalam memperluas kosa kata, mengembangkan ide dan lain-lain. Semakin banyak kita membaca, maka akan semakin banyak kosa kata yang kita miliki, dan biasanya apa yang kita baca itu akan mempengaruhi isi dari tulisan kita. Membaca juga akan memperluas pengetahuan kita,sehingga tidak jarang ide-ide itu muncul dari apa yang kita baca. So, mulai dari sekarang… sering-seringlah membaca! :D

Nah itu dia tips-tips dari Rhy, yang dikumpulin dari berbagai sumber dan pengalaman. Semoga membantu!!! :DD

Ini Tuh Gue Bangeeets!

Sunday, December 12, 2010

Habis nonton 'The Hurricane' saia gak sengaja menemukan hal yang menarik dalam percakapan aktornya...

"Menulis itu adalah keajaiban. Kekuatannya lebih besar daripada kekuatan tinju."

Saia juga pernah membaca sebuah kutipan...

"Tulisan akan tetap dalam keabadian, sementara ucapan akan terbang bersama angin..."

Weiitts,
dan setelah memikirkan hal itu, saia menarik sebuah kesimpulan bahwa...

Emang bener dah, orang yang punya tulisan oke, bakal lebih diingat dibandingkan orang yang banyak omong.

Dan, gue emang mengakui kehebatan sebuah tulisan. Tulisan ntu lebih hebat dibandingkan mesin waktu. Kalo dengan mesin waktu yang gak jelas adanya itu kita mesti ngatur sana-sini, mesti melakukan persiapan ini-itu. Tapi coba dengan sebuah tulisan, dengan sebuah buku, kita bisa mau ada di waktu/masa kapan aja. Kita bisa mengenang masa lalu dengan tulisan, kita bisa melihat sejarah dengan membaca sebuah catatan. Tak hanya itu, kita bisa membayangkan masa depan dengan sebuah impian yang tertulis di dalam sebuah buku.

Gak hanya itu men, tulisan juga mampu membuat kita berkeliling dunia, bahkan sampe ke luar angkasa untuk melihat alam semesta. Dengan membaca sebuah buku, meskipun kita ada di penjara bawah tanah sekalipun, kita masih tetap bisa berjalan-jalan ke kutub utara. Hebatkan?! Kita yang ada di indonesia saat ini, bisa berjalan-jalan ke Jerman, Ke Prancis, Ke Jepang hanya dengan membaca sebuah buku (weww udah mulai ngaco nih, tak apalah...). kita yang ada di bumi ini, bisa mengetahui ke adaan alam semesta hanya dengan membaca artikel, buku, ataupun ensiklopedia. Weiittsss, kita gak bakalan bisa baca kalo gak ada tulisan.

Gue pun sempet mikir (sableng), Emansipasi wanita di Indonesia mungkin gak bakalan ada kalo gak ada R.A. Kartini yang curhat lewat surat-suratnya yang dikirim buat sohibnya di Belanda sana, orang-orang bakalan kesulitan buat mengingat nomor telepon kalo gak ada yang namanya ‘buku telepon’ alias catatan nomor telepon, kita bakalan susah belajar bahasa inggris kalo gak ada benda yang namanya kamus, yang nota benenya adalah ‘kumpulan tulisan-tulisan’, dan bakalan susah kita-kita ngedepin ulangan kalo gak ada ‘catetan kecil-kecil’ yang dibuat pada secarik kertas yang suppper imut *yak, buka aib*.

Woaaahhhh... tulisan, catatan, buku, dan apapun namanya... emang top dahhh...

Rhynnie.

Setan-setan.....

Sunday, August 22, 2010

Say hello friendss, Rhy-rhy kembali lagi.. dengan segala ketidak jelasan yang dimilikinya. Huahahaha...
Yaphz, mari kita bahas tentang Tanah air kita. Nah yang mana nih yang tanah air? Musik? Ah dah sering.. film? Malas... artis? Bosen..
Nah gimana kalo kita ngebahas soal hantu... hantu.. hantu... hihihihi...
Pastinya nih, kalo kita-kita pada ngimongin makhluk-makhluk kayak beginian, pasti bawaannya Hororrr... takut, nyeremin, ngegigit, nyelekit dan bahkan kadang bikin ketawa. Kan biasanya tuh kalo habis nonton aksi para hantu ini, terkadang kita jadi takut buat jalan sendirian. Sekalipun itu Cuma mau ke kamar mandi doang atau bahkan ke dapur buat minum. Pasti selalunya mau ditemenin. Itu sih kalau saya, maklum penakut. Nah, kalau sobat sendiri? Gimana?
Bila kita-kita ngomongin macam hantu-hantu ini, kita bakalan menilik mereka dari segi penampilan, incaran mereka, hal yang identik dengan mereka, dan pastinya hal yang paling mereka takuti.. secara yang beginiankan penting juga. Ya nggak? So, kalau waktu kemunculan mereka bisa dibilang kala menjelang malam sampai menjelang subuh tiba. Jadi, kita juga mesti waspada pada saat-saat beginian. Apa lagi kalau sedang berada di tempat yang sepi-sepinya.
Kita mulai dari yang lokal-lokal dulu..
1. Kuntilanak
Yo wiss, ini dia saya simpan di urutan pertama. Kenapa? Karena saya paling ngeri sama nih mahkluk satu. Makhluk yang digambarkan dengan wanita berambut panjang awut-awutan , berwajah pucat, dan berbaju putih panjang banget, dengan kaki yang tidak berpijak ditanah. Wuih nyeremin. Dari beberapa info yang Rhy-rhy dapat, nama hantu ini berasal dari kata ‘kuntil’ dan ‘anak’. Jadi ceritanya tuh, mereka suka nyulik anak-anak dan entah mereka apakan dah. Nama mereka sendiri tuh ada banyak, nggak tahu nih yah kalau di daerah lain. Tapi kalau di daerah Rhy-rhy sendiri biasanya tuh disebut Kandole, Kabuna, dst.
Yang mereka kadang lakuin tuh mulai dari gangguin wanita hamil sampai nyulik anak-anak kecil, dan hal yang mereka takuti antara lain adalah ayat-ayat suci Al-qur’an *pastinya* dan benda-benda tajam semacam pisau, gunting, dan paku. Nah pasti yang suka nonton filmnya Suzanna nih pasti tahu. Kayak malam satu suro itu, dimana si bintang yang identik dengan bunga melati ini berperan sebagai Suketi. Kuntilanak yang di ubun-ubunnya di tancapkan paku. Beuhh, cantik-cantik tapi nyeremin. Kalau yang sekarang yang lagi gandrung itu kayak hantu casablanca kuntilanak merah, kuntilanak 1 & 2, dan paku kuntilanak.


2. Leak

Di urutan kedua ada Leak. Leak ini, dipercaya oleh masyarakat Bali *katanya..* sebagai penyihir jahat. Makhluk ini bercirikan kepala dengan organ-organ dalam tubuhnya yang tampak melayang-layang bersama kepala ntu. Yah, macam hati, jantung, paru-paru, usus dan lain-lain tuh pada nempel di tulang belakangnya. Nah makhluk macam ini kayaknya bisa di identikan dengan semacam dukun santetlah, tapi ini buat yang di daerah saya, nggak tahu mah kalau yang di daerah lain. Kebanyakan muncul dimalam hari, membawa organ-organ melayang mereka dan meninggalkan tubuh mereka di pohon-pohon besar atau pohon-pohon yang berumpun macam bambu atau pohon pisang. So, kalau malam hindari pohon bambu dan pisang. Wkwkwkwk...
Di daerah saya, makhluk ini sering di sebut ‘poppo’. Nah kalau kamu cukup berani buat nanganin nih makhluk, ketika kamu mendapati tubuh dari Leak ini, kamu bisa memasukan benda-benda kecil kedalam tubuh mereka yang lubang. Secara gitu, isinya dah pada terbang semua. Kamu bisa ngisi pake batu, pasir, atau kayu-kayu kecil. Karena *ini juga menurut sumber luar/ sepupu* hal ini bisa mencegah mereka untuk masuk kembali dan menyatu dengan tubuh yang telah mereka tinggalkan, dan biasanya tubuh mereka itu akan mengeluarkan bau yang sangat tajam. Entah, hal ini belum bisa diketahui lebih lanjut. Hanya saja mungkin, ketika si kepala ini tidak bisa kembali lagi ke tubuh mereka karena telah ‘berisi’. Tidak tahu, apakah si kepala tetap gentayangan atau menghilang secara misterius.
Katanya sih, makhluk yang seperti ini tuh hanya manusia biasa. Dan mungkin karena suatu hal semisalnya dendam mereka jadi mempelajari ilmu-ilmu hitam dan menakut-nakuti orang yang mereka dendami tersebut. Biasanya, keluarga si manusia Leak ini bisa malu, karena ketahuan bahwa salah satu dari anggota keluarga mereka adalah Leak. Hal ini tentu bisa berdampak pada psikologis mereka dan juga pada masyarakat sekitar tentunya. Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa Leak takut bila tubuh mereka ditemukan dan ‘diisi’ oleh orang lain, so pasti mereka benar-benar menyembunyikan tubuh mereka.

3. Pocong
Yahhh. Pocong kuenya..pocong kuenya.. pocong kuenya sekarang juga.. *digeplak pocong* wkwkwk... potong kalee bukan pocong. Yaphz kita rileks dulu, jangan terlalu tegang dengan semua yang ada. Huahaahahah.. *kayaknya yang setan nih si penulis.. bukan yang ditulis..*
Pocong, pastinya bisa dilihat sebagai makhluk yang dibungkus kafan dan kalau jalan loncat-loncat. Bila di film-film tanah air, sering di identikkan dengan wajah yang hitam, mata berongga, dan pastinya sih loncat-loncat tadi.
Orang bilang sih, dan meskipun ini belum terlalu jelas, hal yang membuat si pocong ini gentayangan tuh karena tali pocongnya lupa di lepas. Wuhhh, kacau banget nih kalau kejadian. Habis sudah... masa depan para penggali dan penjaga kubur. Hiiii...
Mungkin sih, mereka tuh bakalan ngegentayangin orang yang lupa nyabut tali pengikat mereka atau bahkan nyamperin orang-orang buat bilang
“Mas.../Mbak... lepasin tali pocong saya dong..”
Tidak!!! Nyeremin banget! udah kencing duluan saya.. mana sempat lagi ngebantuin melepas tali pocong kalau udah pingsan ditempat? Atau paling nggak sudah lari ngibrit duluan nyari tempat perlindungan. Tapi, kalau yang di film-film ntu, biasanya mereka-mereka ini jadi pocong karena dendam mereka belum terbalaskan. Seperti yang di film pocong 1 & 2. Nah, kalo ngadepin nih setan, baca doa aja dah... mudah-mudahan doanya dikabulin, wkwkwkwk...
Nah, kayaknya segitu dulu deh, jadi sekarang lebih milih ngadepin yang mana? Bonyok yang murka gara-gara kita suka pulang telat atau kuntilanak, leak, atau pocong? *lha apa hubungannya?*
Hehehehehhe.....

Cuma Buat Senang-Senang

Saturday, July 3, 2010

Don’t angry be happy, hehehehe..
HAI-HAI...
PrenkzZz.. masih ingat tho dengan saia? Si author bla-bla-blanya FFN? Yang fanatik banget dengan pairing NaruHina?. Hehehhe... kali ini, saia tidak akan membahas mengenai masalah pairing tersebut, ataupun malah curhat gaje tentang perut saia yang lapar*?*. tapi yang kali ini akan saia tulis adalah..
Ngomongin flame/flamer yang memang gak pernah ada habisnya.
Mengenai kisruh FFn akhir-akhir ini.
But, pertama-tama saia bakalan mohon maaf dulu, bila nanti ketika kamu-kamu semua baca nih tulisan gaje bakalan merasa bahwa kata-kata dalam tulisan gaje ini rasanya seperti cabe rawit alias pedas abis. Lagipula, saia menulis kayak begini untuk membuat perasaan saia lega, dari pada saia simpan dalam hati dan malah jadi penyakit hati? Gimana? Gomenasai before it (lha, apa coba?)
Yo! Check it out, baby!
-
MENGGUNAKAN dalil atas nama persaudaraan dan kepedulian sesama author, ada beberapa orang yang membuat fict-fict yang kurang lebih berisi fight back terhadap flamer. Memang, semua orang sudah tahu bahwa flame itu adalah kata-kata/pendapat/ kritikan pedas yang diberikan seseorang kepada kita—author. Saia mungkin tidak bisa bependapat banyak mengenai perasaan kita ketika mendapatkan flame, orang saia belum pernah (alhamdulillah) mendapatkan flame. Tapi, setidaknya saia bisa merasakan sedikit kepedihan dari teman-teman yang mungkin pernah di flame. Yang pasti kita bakalan merasa sakit hati dan sedih.. (gak tahu ya buat yang pernah mendapat flame langsung. Hehehe...).
Lantas, bagaimana kita bersikap menanggapi flame (ini menurut saia ya..)
* kalau seandainya flame tersebut benar-benar membangun, tidak menghujat dan memaki, tidak bernada menjatuhkan, mungkin kita dapat sedikit bersyukur akan hal ini. Karena itu membuktikan bahwa ada orang yang mau memperingati dan menunjukkan kesalahan kita. Mengatakan bahwa kita salah dalam tata bahasa (alias miss typo nyebar dimana-mana, dan saia sadar dalam fict saia masih banyak hal-hal yang demikian. Hiks..), alur cerita yang gaje, pengembangan character (mary sue dan bashing yang gak ketulungan), ‘pernak-pernik fanfict’, de elel. Kita harus ehmm.. sedikit ‘bersyukur’ ada yang memberitahu kita akan hal itu. meskipun caranya sedikit ekstrem.
* bila kita mendapat flame yang asli menghujat dan mencaci maki kita, bernada kasar bin nyolot wal alay bin nyakitin hati, seharusnya kita gak usah peduli dengan hal itu. coz, kenapa kita mau sibuk ngurusin orang yang kurang kerjaan? yang pembendaharaan katanya hanya kata p@#!#$r, F%^k, dan sederet kata-kata yang musti disensor lainnya. Menanggapi hal-hal seperti itukan hanya akan membuang-buang tenaga dan pikiran kita. Toh seharusnya kita asyik mikirin lanjutan cerita, malah jadi mikirin flame. Oh, no...Mungkin, kalau kita di flame ala junk begitu, mending kita lihat balik fict buatan kita. Kalau fict kita memang hancur dan bikin sakit mata (introspeksi diri buat yang biasanya dengan sengaja melakukan kesalahan), kita harus berusaha untuk membuat karya yang lebih baik lagi, supaya flame itu ndak datang lagi. Namun, kalau karya kita emang bisa dibilang COOL bin TOP, kenapa kita mesti pusing dengan flame-flame itu? flamer-flamer itu paling sirik kali sama kamu-kamu yang punya fanfict yang KEREN ABIS!
Lalu, berlanjut dari adanya junk flamer. Berbondong-bondong (atau beberapa?) author yang terbakar esmosi... eh, emosi karena fanfictnya di-flame atau fanfict teman/ author lain di-flame, maka diapun (author) membuat fanfict ‘Fight Back’ untuk si flamer tersebut. Fanfict yang dikhususkan kepada junkflamer. ASTRADA... tahu gak sih? Bahwa mereka-mereka (junkflamer) itu Cuma pengen eksis, dan kamu-kamu malah melancarkan keinginan mereka dengan membuat ‘Fanfict Fight Back’ khusus untuk mereka.
Dan munculah fanfict yang menyatakan/ mengatasnamakan/ mengumandangkan (ye mengumandangkan, adzan kaleee..) untuk menjaga perdamaian di FFn kita tercinta ini. Fanfict macam itu dibuat untuk menyatakan apa ya.. perang terhadap flamer? Hujatan terhadap junkflamer?.. saia tidak tahu pasti..
Demi rasa persaudaraan, maka lahirlah fanfict-fanfict yang digunakan untuk menyadarkan Flamer. Tapi, ujung-ujungnya apa? Pas di page feedback (Review) orang-orang malah makin kisruh, dan mulai ikut-ikutan mencaci maki. Lha, padahal untuk menjaga perdamaian, tapi kenapa isi reviewnya tak lebih seperti mengajak perang? Ckckck... lalu, si flamer yang dibicarain ikut-ikutan me-review (padahal sudah ada warning ‘FLAMER DILARANG BACA’, wkwkwk...), si flamer jadi ‘panas’ dan langsung ngata-ngatain si author ‘Fanfict Fight Back’ tersebut dengan kata-kata yang seharga dengan sampah.
Lha... nanti? Kemudian? Lalu ujung muaranya kemana? (ye, muara.. lo kata sungai..)
Page review yang seharusnya menjadi tempat untuk mengutarakan perasaan setelah membaca fict, tempat memberikan concrit, pujian dan lain sebagainya, malah jadi tempat untuk saling mencaci maki, saling melempar kata-kata kotor, alias buka ‘forum’ di tempat yang tidak seharusnya. Lha, jadi orang-orang bakalan berpikir, fanfict ini dibuat untuk apa? Untuk perdamaian atau untuk membuat FFn makin kacau? Ckckckck... tragis..
Saia tahu, dan saia cukup sadar serta juga merasakan bahwa emang flame itu rasanya.. beuuhhh... sakit, pedih, perih hati ini ketika mendapatkannya. Tapi, setidaknya kita jangan terbakar api kemarahan begitu mendapatkan flame. Setidaknya, kita selami dulu flame itu. Kita baca baik-baik, kita cari, apa sih yang sebenarnya yang membuat flamer nge-flame fanfict kita. Kita jangan terbawa emosi ketika mendapatkan flame, karena itu bakalan membuat kita rugi (dan FFn makin kacau)
PrenkzZz, kalau seandainya kita mau menunjukkan ke flamer bahwa apa yang dia lakukan itu salah (dalam hal ini memberikan junkflame), maka kita harus memacu diri untuk membuat fanfict yang lebih berkualitas. Kita bungkam flamer-flamer alay itu dengan karya-karya yang COOL BANGET! gak perlu mempedulikan orang-orang yang sok eksis bin sok tahu wal sok benar tapi bahlul kuadrat (wkwkwk...). kita jadikan junkFlame sebagai salah satu motivasi yang membuat kita setingkat lebih tinggi dan menjadi terkenal.. (lha, emang bisa?).
And then, buat si flamer atau flamer yang maha agung atau flamer tingkat tinggi atau flamer yang biasa-biasa aja atau junkFlamer (lha, flamer kok tingkatannya banyak amat ya?)...
Buat mbah-mbah flamer di luar sana, ‘tak mohon.. kami sebagai author (atau mungkin saia sendiri) masih banyak kekurangan dalam menulis fanfict. Yang mana butuh saran dan kritikan dari banyak pihak. Tapi, tolong dong.. kalau memberikan kritikan juga jangan terlalu pedas sampai bikin sakit perut dan BAB kurang lancar *?*. Jangan malah membuat kreatifitas kita jatuh dan mati (lha?).
(pedas mode : ON)
Dan buat mbah-mbah Flamer alay bin gak tahu diri. Tolong ya.. kalau ngasih flame itu juga harus berdasarkan logika, pake otak, bukan pake emosi. Ndak usah memaksakan kehendakmu terhadap si author. Yang bisa lo kritik tuh masalah yang udah saia tulis diatas tadi. Masalah tata bahasa, alur, pendeskripsian (maybe..), dan masalah-masalah lainnya. Jangan yang lo kritik masalah pairing, genre, dan rating. Lo (flamer) sinting ya? Sampe mau maksain kehendak lo dengan ngata-ngatain orang? Masalah hal-hal intern seperti pairing dkk itukan suka-suka author. Lo gak punya hak buat nentuin hal-hal macam ntu.
(wah, jangan-jangan nanti setelah pair war, ada juga lagi genre war dan rating war, wkwkwk..)
Dan..
Please dong ih! Kata-kata yang mbah flamer gunakan.. kata-katanya itu jangan terlalu kasar. Malah pake kata-kata yang mesti disensor lagi. Emang, ndak ada ya kata-kata yang lebih sopan?
Ckckck, jangan sampai nanti... fanfictnya rate K+ ---> T, ehhh.. malah reviewnya yang rate M gara-gara penggunaan kata-kata yang yah.. gitu deh. Hihihihi...
-
SO friends.. we are the big family oh FFn, especially FNI. Jangan kita jadikan masalah-masalah ini sebagai jalan buat ‘perang’, tetapi jalan untuk membawa kita menjadi lebih baik lagi. Author, Reviewer, Reader, dan Flamer adalah satu didalam FFn ini. Tanpa mereka, mungkin.. kita bakalan ‘pincang’ kali ya? Kalo nggak ada author, apa yang mau kita baca? Apa yang mau kita review?. Tanpa Reader dan Reviewer , siapa yang bakal memberikan author pujian dan dukungan? Tanpa Flamer, siapa yang bakal mengkiritisi kita lagi? Siapa yang dengan ‘panas’nya memotivasi kita untuk lebih baik lagi? Iya nggak?
So, kita jaga damai FNI kitorang! Bukan dengan Fanfict Fight Back, bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan karya yang emang OKE punya.
FRIENDS... pada akhirnya, saia memohon/ meminta maaf yang sebesar-besarnya bila kata-kata saia ini terkesan menggurui teman-teman (dan senpai-senpai) sekalian. Ditengah-tengah ‘panas’ FFn saia malah dengan sotoy nulis-nulis essay gak jelas begini. Saia, yang notabenenya baru gabung di FFn malah sok-sok menasehati. Saia dengan seenak jidat malah sok menasehati, tapi diri sendiri kagak ditahu udah bener apa belum.. waduh...
Sekali lagi, saia memohon maaf bila ada pihak yang tersinggung atas essay sotoy bin GaJe ini. ¬^_^v
(SORRY berat, bila ada yang tersinggung.., jangan marah lama-lama ya.. :D)

Regards,
R.A.B.