Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Mutlak I

Thursday, February 4, 2016

ada tiga hal yang mutlak
di muka bumi ini

kematian
hambatan
kangen

sedikit demi sedikit
lama-lama air mata.

Sudah Waktunya

Friday, November 20, 2015

here

Sudah waktunya.
Segala tentangmu
dihimpun
dimasukkan dalam kotak
dipak sebaik-baiknya.
diselotip.
ditulisi atasnya dengan spidol hitam.
'Cinta terlama yang pernah kumiliki sampai usia 21'

Bertahun-tahun kamu lenyap bersembunyi.
Lantas suatu hari kamu muncul.
Bayanganmu jadi nyata.
Lalu berbulan-bulan kamu mendiami lagi tempat yang lama.
Berbulan-bulan menjadi gelombang besar.
Berbulan-bulan menebar guncangan.
Melakukan vandalisme di setiap sudut kepalaku.

Sudah waktunya.
Coretan-coretan yang kau buat dihapus.
Bukan berarti aku tidak menyukaimu lagi.
Namun setiap hal punya masa dan tempat.
Masamu sudah habis.
Tapi tempatmu masih istimewa.
Kamu yang paling baik di mataku.
Sampai saat ini.

Maka kau kusimpan baik-baik.
Dalam kotak kenangan dengan ukiran paling indah.
Dan tempatnya paling tinggi.

Sekalipun kau cuma kenangan.
Paling baik.
Sekalipun cuma kenangan.

Aku tahu,
Mengubah rasa menjadi kenangan tidak akan mudah.
Apa lagi ini kamu.
Tapi, harus tetap berusaha kan?

Biarlah,
Perasaanku, kamu,
Pula alasan-alasan mengapa kau kusukai
Dan mengapa hanya kujadikan kenangan saja
Menjadi cerita paling dalam.

It's Okay

Saturday, November 14, 2015

here

Sometimes I take a wrong step. 
and I can't go back to make it better and right. 
It’s hurt and torturing.
In the end,
I just curled up and everything will fade away.
Even my self.
Drown.
Lost.
I need a person to bring me from this anxiety. 
but, how can I know there's a person?  
person that will go back and take me with.
to tell me it's okay if I lose, 
do something wrong,
and everything not in their place. 
it's okay to make a mistake.
not to be perfect. 
it's okay if I be a kids with imagination
 and not a perfect robot.

When We Know

Monday, October 26, 2015

here
When we know something
We'll see everything differently
intention in every move
attention in every gaze
hope
and we'll talk in the way we never think before
smile for little things
and figure out never ending story
but how could we know

[The Realities of Loving Someone Silently] Don't

Saturday, September 19, 2015


Don't give so high expectation for this kind of feeling
Don't pour to much hope for this kind of love
Because to much didn't make for this thing.

You don't have to feel so special
because little things he do to you
Smile and say hay
He do it for everyone else
You,
Just one in million people he know.

You, can't expect he know your feel
because you, didn't ever show him
You can't just send 
a random signal 
a weak wave
an awkward smile
and want him to know you

You, need to do more.
If you can't
Then don't.

Bi

Friday, September 18, 2015

Layaknya jalan raya dengan dua jalur.
Perasaan kita hanya bisa saling melewati namun tak bisa beriringan.
Layaknya dua sisi koin.

Kita hanya mampu saling membelakangi dan memeluk diri-sendiri.

Tentang Perasaan yang Berlayar Sendiri

Wednesday, September 16, 2015

here
Malam ini begitu sepi
dan hatiku kebas
kau begitu jauh
dan bahagia

Genggamanmu tak lagi kosong
Jok belakang motormu tak lagi sering kosong
handphonemu selalu ribut
kabar yang sampai padaku

In The Rainy Night

Saturday, September 12, 2015

here
It's rainy night
we sat in the cafe
jazzy music play along
with the smell of cafein

You look at me
with question mark in your face
me, looking down
have no brave to stare back

Keras Kehidupan!

Wednesday, June 3, 2015

here

Kenyataan itu pedis, jendral....
Sementara kenangan rasanya begitu kecut.

Masa lalu lengket begitu sesak
sementara harapan jaraknya jutaan tahun cahaya

Terpuruk saja sekarang
susah payah menambal luka

menghapus jejak dengan 
menggoreskan kerikil pada tiap bata
yang ditulisi

Sumpahi saja mereka
Lalu mengepak dengan tangan
menuju luar angkasa

mengejar apa?
rasanya tak ada yang berubah

Bila besok aku tak kembali
katakanlah, aku sudah lelah
hendak terlelap
di pangkuan rembulan.

Mengkhayalkan Kue Lebaran

Thursday, May 14, 2015

ehre

Mengkhayalkan Kue Lebaran

Chocolate chocochips, nastar, kue keranjang dan keju
Mentega dua kilo dan terigu sekian-sekian kilo
Duduk di depan oven berjam-jam
Dari subuh hingga waktu berbuka tiba
Aroma adonan yang terpanggang
Butiran-butiran tepung di udara
Kilap-kilap kuning telur sebagai hiasan
Kecut kismis yang dicuri-curi makan

Kue lebaran pernah membuatku marah
Karena si pembuatnya enggan membuatkan kue favoritku
Karena pernah membuatku merasa malu
Hanya menghidangkan satu jenis kue saat teman-temanku datang

Kini kue lebaran membuatku perih
Pembuatnya pergi ke rumah yang jauh
Yang jaraknya tidak bisa di tempuh
Dengan duduk berjam-jam di dalam mobil
Dan malam-malam yang suntuk di kapal laut

Pergi tanpa mengajarkan resep kue kering favoritku
Resep yang takarannya dikira-kira dengan perasaan
Namun mampu  menenggelamkan luka.

Membuat sendiri, itu mudah.

Namun akan kah dia tetap menjadi kue favorit bila rasanya tak lagi sama?

Sedih yang Tertawa

Friday, February 6, 2015

Aku sedang sedih hari ini,

Jadi biarkan aku tertawa sampai suaraku serak dan tenggorokanku sakit,
Sampai bibirku berkedut nyeri,
Sampai jantungku kebanjiran,
Dan tulang keringku ngilu  dilalap dingin.

Sehingga esoknya,
Aku bisa memulai hari yang baru,
Dengan secangkir kopi pahit,
Berlari-lari di tengah padang rumput,
Kemudian tertidur di ujung subuh.

Aku tidak berharap kamu mengerti ini,
Cukup lihat dan tinggalkan lilinnya di depan pintu.

Satu Toples Gula

Saturday, January 3, 2015

here

Semanis gula.
Senyummu itu semanis gula.
Bikin gerahamku ngilu memikirkannya.
Ibarat satu toples gula dimasukkan ke dalam satu cangkir kopi.
Manis. Bikin eneg.
Tapi, bagiku tidak.
Aku akan selalu ingin menambah toples demi toples senyumanmu 
ke dalam cangkir kopiku.
ke dalam hatiku.
sampai ngilu berkali-kali.

Mengapa Begitu Berbeda

Friday, December 26, 2014

here

Mengapa begitu berbeda dahulu dengan sekarang
Ketika dulu aku hidup dengan kebebasan yang memenuhi paru
Kini aliran ketakutanlah yang terpompa oleh jantungku

Mengapa begitu berbeda dahulu dengan sekarang

Aku Ingin

Monday, December 8, 2014

Aku ingin lupa
 kepada setiap titik kenangan
 yang kau lukiskan di galaksi pikiranku

Aku ingin lupa
pada setiap jejak rasa
yang kau tinggalkan di setapak hatiku

Karena mengingat
hanya akan menjadi sungai
yang mengalir deras lalu bah
memporak-porandakkan bendungan hati

Ketika Hati Perlu Bicara

Thursday, November 27, 2014

here
(Untuk Temanku yang Risau Hatinya)

Teman,
Tidakkah kamu menyadarinya…
Ada yang salah dengan kita.

Mengapa kita menjadi alien satu sama lain

Apa Salahnya Jika Aku Suka Padamu?

Monday, November 17, 2014

here

Apa salahnya jika aku suka padamu
Toh rasa ini aku yang rasa
Hati yang kupakai adalah hatiku
bukan hati yang lain
Yang sakit hatiku
bukan yang lain jika suka ini

Lagu Untuk Jiwa Yang Sendiri

Wednesday, November 12, 2014

here

Kadang, kesal dan amarah
hanya mampu kita telan sendiri
Terlalu kikir untuk dibagi
Namun, untuk apa membagi luka yang memanaskan mata dan meninggalkan jejak luka?
Hanya menambah hati yang susah,
dan hati-hati yang susah akan menyalahkan kita karena menyusahkan mereka.

Kadang, senang dan bahagia
kita bungkus rapat dan dimakan sedikit demi sedikit
semili demi semili
Terlalu pelit untuk dibagi.
Mengapa kita perlu membagi bahagia kita,
ketika orang lain pun enggan membagi bahagianya?

Rasa-rasa kita adalah rasa yang rahasia
Rasa yang sembunyi
Yang disimpan dalam kotak dan kuncinya di buang
di kawah gunung
Biar leleh ia dengan panas bumi
Dan rasa-rasa ini cuma kita yang tahu.

Jiwa kita adalah jiwa yang sendiri
yang berkelana mengumpulkan rasa
lalu disembunyikan

Jiwa kita adalah jiwa yang sendiri
yang enggan tinggal dalam satu lautan rasa
karena kita butuh banyak rasa
butuh banyak luka
butuh banyak rindu
butuh banyak kasih
untuk di makan sendiri

Maka kita berkelana
masuk gunung
turun lembah
terbang ke laut
menyelam di langit

mencari rasa

Jejak-Jejakmu

Monday, November 10, 2014

here

Jejak-jejakmu

Kamu, suka sekali lalu lalang di hatiku
Meninggalkan jejak serupa ngilu,
merembes sampai ke jemariku dan membuatnya bergetar
Lalu kaku aku.
Kau ambil detakku
Lebih dari yang bisa kuberi.
Dan
Kamu pergi.

Rindu

Saturday, September 20, 2014

Sa rindu masa lalu.
Di mana saya bisa nakal tanpa perlu memikirkan akibat dari kenakalan saya.
Di mana ketika saya pulang terlambat ada Bapak dengan kumis tebalnya menunggu di depan pintu untuk memarahi saya.
Tapi, ah. Sekalipun hati gentar ketika berhadapan
Toh besoknya, nakalnya diulangi lagi.

Sa rindu masa lalu.
Yang cuma main boneka sama-sama mama.
Yang adik tertidur di telapak kaki mama
dengan aku yang mengusik minta diperhatikan.

Senja yang Terlalu Lama Menunggu Malam

Wednesday, September 10, 2014

Rintik-rintik lelah tak surutkannya
Berdiri dengan tumit yang mulai pegal
Toleh kanan kiri
Mencari
Menunggu

Sepoi angin mendinginkan ujung jemari
Sementara hati kehilangan hangat
gigil
dingin sekali.

Kenapa tak sampai juga?