Showing posts with label Ulang tahun. Show all posts
Showing posts with label Ulang tahun. Show all posts

Welcome, New Age!

Monday, October 2, 2017

golden, babe

23.
I'm turning 23 today.

Ulang Tahun Mama: Apa jii Hari Ibu, Maaf yang Tidak Sampai, Serta Harapan Untuk Hari Esok

Sunday, December 27, 2015


Aku tahu, hari ini tidak tepat kelahiranmu.  Angka 27 Desember hanya asal-asalan kau tulis ketika gurumu meminta mu pulang bertanya kepada nenek.  Jalan pulang terlalu jauh, sementara tanggal kelahiran dibutuhkan sekarang.  Baru beberapa meter dari sekolah kau berhenti, lantas memilih dengan asal di antara angka 1 sampai 31 dan kau memilih 27 entah mengapa. 
Namun, meskipun sejarah penanggalan kelahiranmu seperti ini, aku mengikut saja. Karena begitu menyedihkan rasanya tidak bisa merayakan apa-apa.
Bagaimana keadaan di akhirat? 
Jangan menjawab karena aku hanya iseng bertanya. 
Bagaimana Tuhan? 
Marah kah ia pada anak gadis mu ini? yang bahkan ketika kau hendak pergi dia tak ada di sampingmu? 
Hidup memang bajingan. 
Aku paling tua dan paling singkat di sampingmu.
Terlalu bodoh untuk sekedar menebak pertanda.
Tapi, penyesalan memang tidak ada gunanya dan aku harap mama mau berdoa di sana agar anak-anakmu tegar. Agar kami tidak tumbuh menyusahkan orang lain. Cukup Mama saja yang kami buat susah, tidak perlu orang lain.
Ma, Mama pergi di saat aku belum siap. Meskipun aku sudah berada dalam dua puluh lingkaran umur, kedewasaanku sama sekali nol. Rasanya, aku dipaksa dewasa ketika aku masih ingin bermanja-manja denganmu. Kita mengalami kebersamaan yang sangat singkat.
Saat ini, anak-anak gadis yang lain mungkin sedang bermanja-manja dengan ibu mereka. Bercerita tentang lelaki yang mereka sukai, pula tentang lelaki yang mengejar-ngejar mereka. Tapi aku di sini hanya mampu bercerita di depan layar kaca. Berharap kamu membacanya dari atas sana.
Aku gila mungkin. Mana mungkin di alam bazrah tersedia laptop dan jaringan internet.
Tapi, aku tulis saja lah, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tentang hidupku setelah Mama pergi. Semoga Tuhan menyampaikan. Tuhan punya banyak cara untuk melihat, pula mengajakmu melihat anak-anakmu.
Ma, bulan desember ini adalah bulan yang berat. Terlebih lagi tanggal dua  satu, yang katanya hari ibu. Ingin kuhilangkan tanggal itu dari bulan desember. Tidak perlu ada dua satu, langsung dua-dua saja dan bulan desember genap bertigapuluh hari. Hari itu semua orang mengganti display picture mereka dengan foto bersama ibu mereka, dengan ucapan selamat hari ibu.
Sementara aku, di sore harinya dibuat menangis oleh adik sendiri. Alan. Alan menelpon, kupikir ada sesuatu yang gawat terjadi di rumah. Ternyata, dia hanya ingin menelpon saja.
“Rin,”
“Apa?”
“Hari ibu ini hari.” Katanya. Aku ingin langsung menjawab, tapi entah mengapa, leherku tercekat. Aku berusaha sebaik mungkin mengatur napas, dan menelan duri di tenggorokan. Namun Alan dengan cepat menanggapi jeda sunyi di percakapan telepon kami. “Yaaaaa kasihan…. Da menangis eeeee….”
Pecah.
Saat itu, aku tidak peduli bahwa aku tidak menutup pintu kamarku, sehingga teman kostku dengan mudahnya melihat aku menangis.  Aku pun tidak peduli menjadi kakak yang lemah di  hadapan adikku sendiri. Aku menangis saja. Sedikit meraung-raung kemudian sesenggukan. Lantas mengutuk kehidupan yang brengsek.
Mengapa tidak ada lagi yang bisa ku sms bila uang di ATM sudah tidak ada?
Mengapa tidak ada lagi yang bisa kudengar gosipnya setiap akhir minggu lewat telepon?
Mengapa tidak ada sosok yang menjadi alasan utama aku menginstal aplikasi ‘Skype’ di laptopku?
Mengapa aku harus menjadi yatim piatu?
Mengapa orang-orang yang bisa kupanggil ‘Pak’ dan ‘Bu’ adalah guru-guruku.
Mengapa begitu sulit bilang Mama, Papa?
Mengapa aku tidak bisa menghadiahimu kue, dengan angka 48 (gila!) di atasnya, dengan gonjrengan gitar Alan yang mengiringi lagu selamat ulang tahun yang Aku nyanyikan bersama Nur? Mungkin aku akan kabur dari perkuliahan demi membawa sekotak kue ulang tahun untukmu, yang kemudian akan kamu marahi namun ujung-ujungnya kamu tidak bisa berlaku apa-apa lagi karena aku yang nekat hasil turunan sifat nekat darimu datang dengan ceria.
Ma, kini aku tumbuh sendiri. Seperti sebatang pohon yang hanya satu-satunya di muka bumi. Berada di hutan belantara tanpa teman satu spesies. Aku terluka dan menyembuhkan diri sendiri. Berkelana seorang diri, terlalu takut menjadi beban hidup orang lain. Tidak ada tempat untuk bersandar karena tempatku bermanja-manja sudah pergi.
Kehidupan ini ingin kukutuk tapi aku terlalu pengecut kepada Tuhan.
Ingin marah tapi tolol rasanya memaki takdir.
Jadi kukatupkan bibir rapat-rapat dengan geligi yang saling bergesek lantas menyumpah dalam hati ‘kenapa?’
Aku tahu, banyak yang lebih sial dari pada diriku. Lebih mengerikan jalan hidupnya disbanding diriku.
Tapi aku tidak ingin melihat ke bawah.
Aku ingin melihat ke atas.
Ma, aku bingung menetukan arah hidupku. Setidaknya, bila engkau ada segalanya bisa lebih mudah. Sekarang, semua harapan dan beban ada di pundakkku. Dan hidupku tidak lagi milikku sendiri. AKu tidak bisa berlaku sesuka diriku dan semuanya menyiksa. Kadang ada keinginan untuk kabur dan menghilang, berharap alien menginvasi bumi, dan aku diculik, dibawa pergi ke galaksi yang jauh.
Setidaknya dengan begitu semua harapan orang-orang dan beban yang mereka layangkan apdaku bisa menghilang.
Egois aku ya?
Betapa menyakitkan bagi diriku yang paling singkat berada di sampingmu ketika kau menderita sakit. Berikut pula kekurang ajaranku selama merawatmu.
Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang kejam bukan kepalang?
Bahkan,
Astaga sial.
Maaf pun tak sempat kuucapkan padamu.
Sadis.
Dan aku sungguh malu kepada mata orang-orang yang selalu saja menanyakan, “Apa pesan terakhir mamamu?”
Aku hanya mampu menggeleng, dan berkata, “tidak ada pesan apa-apa. Dia pergi dengan tenang.”
Lalu mereka berkata, “Kasihan.”
Kasihan.
Apa maksud?
Mereka orang-orang yang terlalu terbiasa pada drama-drama anak yatim piatu di televisi, yang termakan pada cerita-cerita kejam atau kisah-kisah inspiratif dari mereka yang tidak berbapak dan beribu.
Kalau bukan yang yatim piatu di timpa musibah bertubi-tubi,
Ya mereka akan mengukir prestasi seluas langit setinggi jagad raya.
Kalau bukan dikasihani, ya dikagumi dengan cara yang menyakitkan.
Kami anak-anakmu seperti piala yang dipandang-pandangi dengan rasa iba yang ganjil.
Mereka menaruh harapan yang harus kami penuhi.
Itu terlalu berat untukku, Ma.
Aku ragu pada diriku sendiri.
Aku tidak suka.
Ma, kedewasaanku, Alan, dan Nur tumbuh tidak pada waktunya. Kedewasaan datang terlalu cepat. Kami mulai membahas hal-hal yang tidak seharusnya kami bahas. Pikiran-pikiran kami mulai tercemar.
Masalah pembagian harta, tanah, uang. Orang-orang mulai meracuni kami dengan hal-hal gono-gini.
Bayangkan.
Maaaaaa….
Kenapa kamu pergi cepat sekali?
Aku masih ingin pelukan, juga nasi goreng lezat bukan kepalang buatanmu.

The Year of Desperation, Lost, and Finding My Self Again

Friday, October 2, 2015

here
Hola!
Selamat Dua Oktober, Rin!
Tahun ini menjadi tahun yang panjang, membosankan, dan meledak-ledak.
Segala hal di luar sana berjalan begitu cepat, sementara aku terus menghentak-hentakkan kaki di tempat. Setiap orang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama dan aku pun masih memberikan jawaban yang itu-itu saja. Ada banyak guncangan, satu ledakan besar, dan waktu berlalu biasa saja.
Harusnya tahun ini, aku melaju secepat kilat. Namun sayangnya, jiwaku lumpuh untuk sementara waktu yang sementaranya entah sampai kapan.
Harusnya. Harusnya. Harusnya. Namun. Namun. Namun.

Happy Birthday, Mom :D

Saturday, December 27, 2014

here, diedit dengan seperlunya

Rasanya terlalu muluk, 
kalau saya membawa-bawa waktu.
Lamanya saya dikandung, disusui, dirawat hingga bisa menjadi sosok manusia yang menulis tulisan ini.
Ada banyak yang ingin saya ucapkan,
namun semua lebur dalam kelu, bingung harus memulai dari abjad yang mana dulu. 

Selamat Datang, Dua Puluh!

Thursday, October 2, 2014

heah!


Hari ini
Hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun, usiamu
Bahagialah kamu...

-Jamrud - Selamat Ulang Tahun-

Bonjour, Rin! 
Di awali dengan lagu, akhirnya kamu, Rin, bertemu denganku.
Ikhlas tidak ikhlas, sembilan belas harus kamu lepaskan, kamu masukkan dalam sebuah kotak, kamu kunci, dan kamu simpan dalam sebuah ruang yang kamu sebut sebagai kenangan. Umur belas terakhir  kamu ini... sepertinya datar ya, tapi, bisa juga tidak sih.Hehehe...

Kapan Saya Bisa Berjalan Santai dengan Mama?

Sunday, December 29, 2013

Happy birthday, Mom. The Queen of Our Heart

Hari ini saya ke berkunjung ke salah satu pasar dan pusat perbelanjaan di Makassar dalam hal mengobservasi, untuk tugas salah satu mata kuliah. Sekalian refreshing bersama teman-teman, meninggalkan tugas-tugas lainnya menumpuk dan nantinya akan dikerjakan semalam suntuk karena dikerja helline. Mengobservasi yang menjadi objek tugas sih hanya butuh waktu lima belas menit, namun mengobservasi apa yang menjadi 'pencuci' mata bisa sampai

Good Bye, 18. Hello, 19.

Wednesday, October 2, 2013

Satu pertemuan tengah malam, dengan dentang jam 12 kali. Menjadi peralihan, dari tahun-tahun yang disebut masa lalu, menuju tahun yang sedang melangkah ke masa depan.
18.
Bagaimana?
Apakah hidup selama satu tahun belakangan ini sulit bagimu? Apakah kedewasaan telah sempurna mengiringimu? Apakah setiap emosimu telah mampu kau taklukkan?Apakah… kau berjalan dengan ringan dan bahagia?
Tidak tahu pasti.
Jelasnya kamu pun sudah harus kulepaskan sekarang. Kedatangan sosok yang akan menggantikanmu tak mampu kuelakkan dan dia pun harus diterima. Entah senang atau pun lelah dengan hidup.
18.
Kamu, kamu telah mengajarkan saya banyak hal kemarin. Tentang menjadi dewasa yang tidak begitu mudah. Tentang alasan-alasan  mengapa saya harus terus melangkah maju. Tentang kelalaian yang membuat sakit.Tentang kekalahan yang membuat kecewa. Tentang hidup yang tidak selamanya mulus.

New Phase, New Hope

Tuesday, October 2, 2012

Aku, dalam pertukaran fase.

Tanpa terasa, 365 hari fase hidup telah saya lalui dengan baik, mengulang jejak pada hari ini. Mengisi ulang tenaga dalam semalam, untuk saya pakai 365 hari kedepan. Hari-hari di mana saya akan melanjutkan satu babak transformasi saya, melanjutkan pencarian saya, menapaki impian saya.

Saya tak lagi dan tak bisa lagi sama dengan saya yang setahun lalu. Yang dulu masih mengenakan pakaian putih-abu-abu, duduk di dalam kelas yang penuh, masih kekanak-kanakan, manja. Saya tak lagi mencemaskan katerlambatan, tidak lagi dipatok bangun pada jam 05.00, tidak lagi harus apel pagi.

Saya tidak lagi tinggal di rumah saya. Tidak lagi duduk berhadapan saling bercengkrama dengan Mama dan adik-adik saya. Tidak lagi bisa bergelung bermanja-manja di dalam selimut setiap akhir pekan. Tidak lagi bisa pelit ketika makan es krim. Tidak lagi disuruh ini-itu sama Mama.

Tidak ada kekacauan teriakan, keisengan, atau sibuknya adik-adik saya yang berlarian dan jail di depan saya. Tidak ada lagi suara ribut mesin jahit saat saya sedang menonton Tv. Saya tidak lagi harus menyapu rumah sebesar lapangan sepak bola itu.

Will You Marry Me?

Tuesday, December 27, 2011

Rhyme A. Black
PresenT
Will You Marry Me?
A special fanfic for Hinata’s Birthday, 27th December 2011
Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei
0o0
BIG WARNING : OOC. OOC. OOC. Alternative Universe. Misstypo.
0o0
I hope you enjoy this story
1... 2... 3... TAKE... ACTION!!!
~0o0~
Pict from here

Seharusnya, hari ini adalah hari yang membahagiakan di dalam hidupnya. Melewati sepanjang hari yang istimewa ini bersama sang kekasih, berjalan-jalan di tempat yang menyenangkan, makan malam yang romantis sembari memandangi bulan.
Itulah yang ada di dalam daftar rencana ‘Hari Yang Menyenangkan’ wanita yang bernama Hinata Hyuuga di hari ulang tahunnya ini. Namun sepertinya, pernyataan bahwa ‘Manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang memutuskan.’ harus berlaku padanya. Wanita cantik itu sudah merencanakan hari ini berdua dengan kekasihnya, Naruto. Tapi sayang, rencana tinggallah rencana.
Akhir-akhir ini, Naruto lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dibanding bersama Hinata.  Kekasih Hinata itu lebih sering menghabiskan waktunya bersama kamera tersayangnya, dibandingkan dengan Hinata.

17 Tahun? Udah Siap?

Sunday, October 2, 2011

pict from here
Gak nyangka, hari ini adalah awal dari angka baru yang menjadi lencana umur gue. Waktu hidup gue di dunia udah berkurang setahun jumlahnya. Di tahun tujuh belas hidup gue, gue akan dianggap dewasa.
Tapi apa gue siap buat jadi dewasa?
Saat ini, ditemani dengan detik-detik yang berdetak berirama berjalan maju menuju tahun yang berikutnya, gue termenung. Tahun ini, adalah awal dari tahun-tahun berat yang bakalan gue jalani esok.
Gue nengok ke jejak-jejak hidup yang gue buat kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu...

Gue enam belas tahuuuunnn

Saturday, October 2, 2010

Saat ini, menjadi saat-saat yang begitu berkesan buat gue. 2 oktober, hari kelahiran gue. Enam belas tahun silam, bunda gue berjuang buat ngelahirin gue ke dunia ini, menyusui gue, membesarkan gue dengan kasih sayang. Enam belas tahun silam, bapak gue mengalami ketegangan dan kekhawatiran menunggu gue sebagai anak pertamanya lahir, memeluk gue, menyayangi gue, menafkahi gue, mendidik gue. Enam belas tahun silam, nenek gue mengingat masa-masa silamnya yang juga berjuang sebagai seorang wanita untuk melahirkan seorang anak yang akhirnya menjadi bunda gue. Sampe akhirnya gue lahir, nenek gue menyayangi gue dan memberikan kasih sayang seorang nenek kepada cucunya.
Umur gue udah nambah satu tahun. Dari lima belas menjadi enam belas. Gue telah beranjak dewasa, gue sekarang ada di saat-saat gue udah gak bisa bertingkah kayak anak kecil lagi dan harus belajar bagaimana caranya bersikap dewasa. Gue udah gak bisa lagi nangis guling-guling di lantai cuma buat beli mainan, sekarang adalah saatnya gue buat bersabar hati kalo pengen memiliki sesuatu.
Saat-saat pergantian umur ini, hanya gue lalui dengan biasa-biasa saja. Gue cuma bisa menjanjikan traktiran bakso buat temen-temen gue. Gak lebih. Gak ada pesta-pestaan, gak ada acara potong kue, gak ada. Yang ada hanyalah sebuah pengharapan, agar diumur gue yang ke enam belas ini gue bisa lebih baik lagi dibanding tahun-tahun yang lalu.
Gue sendiri gak nyangka, waktu cepat benget berlalu. Perasaan baru deh tahun kemarin gue digendong-gendong sama tante gue, dicebokin ama tante gue, disuapin sama nenek gue. Eeeh, sekarang ini, malah gue yang gendong-gendong anak tante gue, nyuapin anak tante gue.
Waktu begitu cepat berlalu. Alan adek gue udah masuk kelas satu SMP, Nur udah kelas empat SD, dan gue udah kelas dua SMA. Usia bunda juga udah gak muda lagi, dan gue jadi mikir gimana yah wajah papa kalo ngeliat anaknya udah pada besar-besar sekarang.
Saat ini gue cuma mau bilang…
Gue kangeeeennnnn bangettttt sama papa. Pengen ngedengerin omelannya lagi. Pengen di pelototin sama dia lagi, pengen dijewer lagi, pengen disuruh ngapalin perkalian dari satu sampe sepuluh. Yang anehnya, walaupun udah kelas dua SMA, gue gak pernah bisa ngapalin tuh perkalian.
Wah, gue jadi pengen nangis neeehhh…
Maaf ya buat papa, kalo Rhynni gak bisa jadi dokter seperti yang papa inginkan. Cita-cita Rhynni bukan itu pa. Hati Rhynni gak ada di situ. Rhynnie pengen jadi guru pa, kalo perlu jadi programmer aja deh yang lebih okenya. Maaf bangetttt pa, Rhynni gak bisa. Mending, Nur aja deh yang jadi dokter. Cita-cita Rhynni udah bulat pengen jadi guru, walaupun ada celah pengen jadi yang seperti papa inginkan pasti gak bakalan nyampe deh. Biarlah nanti Rhynni dengan ridho Allah SWT (Insya’ Allah) yang menentukan ke mana Rhynni bakalan melangkah selanjutnya.
Gue bukan lagi anak-anak yang bisanya cuma nangis doang kalo gak dapat mainan ato permen. Gue sekarang adalah seseorang yang mesti berusaha mandiri demi meraih apa yang gue inginkan. Gue sekarang udah gak bisa lagi terus-terusan merengek sama bunda buat minta ini-itu. Gue ngeri ngeliatnya, ngeliat dia siang malam nyari duit buat gue and adik-adik guegue kasihan, dia sendirian banting tulang buat ngebiayain kehidupan kita berempat. Gue tahu, gue udah banyak salah sama bunda. Sering buat dia marah and ngomel-ngomel , buat dia khawatir, and lain-lainnya deh.
Rhynni minta maaf ya bun, Rhynni gak bisa ngasih apa-apa buat bunda saat ini…
Gue cuma bisa bisa berharap dan berdoa. Moga-moga aja bunda dikasihkesehatan dan umur yang panjang. Biar nanti bunda bisa ngeliat anak-anaknya pada sukses semua. Gue jadi guru, Alan jadi Tentara, dan Nur yang katanya pengen jadi Desainer.
Gue merenungi setiap langkah-langkah gue yang lalu. Jejak-jejak yang gue buat disepanjang hidup gue ini. Gue sada, gue punya banyak dosa yang entah mungkin nantinya bakalan tambah banyak. Gue berharap agar gue selalu tetap dalam lindunganNya. Umur gue udah berkurang satu, gue gak tahu sampe umur berapa gue hidpu. Itu semua masih misteri. Oleh karena itu, (Insya Allah) gue bakalan menggunakan sisa umur gue ini untuk menjadi sosok insan yang lebih baik lagi….