Madnesses! Arghrhrrhrg!!!

Sunday, June 9, 2013

I think I mad with my self!!!!

uwargrggrgrgrgr!!!

Biarkan Aku

Friday, June 7, 2013

#MonologueOfTheDay


"Biarkan aku yang jadi mataharimu, biarkan aku yang menghapus kelabu di wajahmu dan menggantinya dengan pelangi. Sandarkan sedihmu padaku, dan akan kutukar dengan bahagia dan senyummu. Biarkan aku merasai bagaimana beratnya menjadi dirimu, cukup denganku. Karena cuma aku satu-satunya orang yang mengerti kamu. Cuma aku yang bisa."

ereh

Dari Hati yang Selalu Diam

Wednesday, June 5, 2013


here
~0o0~
'Tidak capek, suka sama dia?
Hari itu, sisi rasional diriku bertanya, seusai diriku mendapati dirimu bersenda gurau dengan orang lain. Rasa ini seperti sebuah kesalahan, menyakiti diriku sendiri dan membuat diriku memaki diri sendiri. Lelah menyimpan rasa ini, tapi enggan untuk mengutarakan semuanya. Takut bila nantinya kamu akan menjauh, terlebih lagi malu. Aku bukanlah seseorang yang mudah untuk mengatakan apa yang kurasa.
Aku lelah dengan perasaan ini. Lelah menyukaimu dari jauh, namun perasaan ini tak mau pergi. Setiap kali kau ada, duduk di sampingku, tersenyum padaku, bercanda denganku, rasa berdesir-desir itu kembali hadir meskipun aku telah berusaha untuk membuang rasa yang dulu kusimpan dalam-dalam. Aku hampir berhasil melupakanmu, tapi hatiku seolah menjadi Judas untuk diriku. Berkhianat. Hal-hal yang membuatku menyukaimu datang kembali seperti putaran film yang melambat, setiap kenangan-kenangan itu seperti adegan slow motion yang dibuat seolah-olah

Senyum dan Genggaman yang Jatuh Cinta

Monday, June 3, 2013


 Rhyme A. Black
PresenT
A NaruHina Fanfiction
Senyum dan Genggaman yang Jatuh Cinta
WARNING : OOC. OOC. OOC. Romance kurang jelas. AU.
Naruto always and always belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Semoga kamu makin naksir sama Tuan Matahari dan Nona Kelabu! :D

frgt th source*
~0O0~
 Gadis berambut biru tua itu tersentak sehabis melakukan service. Entah, mungkin tangannya salah urat, terkilir atau apalah ketika memukul bola Volly tadi. Jelasnya, kini bagian atas telapak tangannya berdenyut-denyut, memerah dan terasa perih. Di tengah lapangan, teman-teman setimnya berebut memukul bola, sementara ia masih berada di belakang garis service. Mengibas-ngibas, menekan-nekan, memijit bagian telapak tangannya yang nyeri, namun rasa itu tak kunjung mereda. Malahan denyutannya makin parah, membuatnya sedikit membungkukkan badan guna meredam sakitnya.
Ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi gerak-geriknya.
Tiba-tiba saja, Guru Olahraga yang saat itu sedang menjadi wasit pertandingan meniup peluitnya, membuat pertandingan yang sedang seru-serunya terhenti.
"Oii, ada apa Hyuuga-san?"
 Si gadis yang dipanggil sontak menoleh pada suara yang memanggilknya. "Aa—ano... ta—tanganku..."
"Tanganmu kenapa, Hinata-chan?" Pemuda pirang itu sudah ada di dekatnya, tepat berdiri di sampingnya.
"Mu—mungkin keseleo, Nnnaa... Naruto-kun." Cepat-cepat ia menundukkan kepalanya, berada di samping pemuda ini membuatnya merasa tak karuan.
"Sensei, tangannya keseleo!" teriak pemuda yang dipanggil Naruto-kun itu kepada Guru berambut ala John Lennon yang sedang berdiri di dekat tiang net.
"Oh, sebaiknya kau beristirahan dulu Hyuuga-san. Hei kau, Yamanaka-san silakan ganti posisi Hyuuga-san." perintah guru itu cepat.  Setelahnya seorang gadis berambut pirang panjang yang dikuncir satu memasuki lapangan menggantikan posisi Hinata. Sementara itu, Naruto tanpa izin langsung saja menarik tangan Hinata dan membawanya ke pinggir lapangan yang diteduhi pepohonan.
"Sini coba kulihat tanganmu." Naruto meneliti telapak kanan Hinata, kemudian memijat bagian di antara jempol dan jari telunjuk yang tampak memerah.

The Feeling [Second Pieces]

Wednesday, May 15, 2013



here
Sudah hari ketiga sejak percakapanku dan Rhea tempo hari di perpustakaan kampus. Tiga hari pula Rhea tampak sedang menjaga jarak denganku. Entah mengapa aku merasa ada yang salah dengan diriku, dengan kejadian hari itu, dengan perkataanku, dengan perasaanku. Di dalam hatiku aku merasa ucapanku begitu keterlaluan, dan jauh di dalamnya lagi, di bagian paling dasar aku merasa sedang mengingkari sesuatu.
Aku tidak tahu mengapa aku merasa seperti ini, merasa merindukan suara Rhea yang bercerita tentang lelaki-lelaki yang ia kagumi, yang ia suka, yang ia dekati atau yang sedang ia jauhi. Aku rindu pada anak-anak rambutnya yang jatuh di pipinya, atau pada wajah jahilnya, atau pada matanya yang menyipit curiga. Aku rindu pada senyum cerianya ketika tengah berkisah tentang petualangan hatinya, meski ada rasa iri yang kadang hinggap padaku. Aissshh sialan! Kenapa omonganku jadi kedengaran kayak orang habis putus cinta?

The Feeling [First Pieces]

Monday, May 13, 2013



"When I see you, I fell in love with you. And you smile because you know it."

-Arrigo Boito-

Aku tidak bisa mengerti Rhea.
Rhea, si gadis yang begitu mudah jatuh cinta pada setiap laki-laki yang ia anggap baik, tampan, kaya, cerdas, sekalipun orang laki-laki itu baru sepersekian detik ia temui. Dalam satu perkenalan dia bisa mengidentifikasi laki-laki mana saja yang bisa ia taksir mana yang tidak. Dia seperti punya radar tersendiri untuk laki-laki yang ia angggap memenuhi kriterianya. Tinggi. Atletis. Beralis tebal. Baik hati. Penyayang. Sempurna. Kriteria tipikal yang akan disebutkan setiap wanita bila diminta untuk mendeskripsikan laki-laki idaman mereka. Tapi bagi Rhea berrbeda, ia tidak terlalu memperhitungkan fisik yang mumpuni meskipun terkadang pesona raga lelaki menahan matanya sesaat. Ia tidak akan kenyang dengan melihat bungkusnya saja, ia perlu tahu isinya juga. Dalam hal ini. Otaknya. Kepalanya. Kecerdasan. Tidak perlu sekelas Einstein, cukup untuk bisa menandingin lontaran kalimat dari Rhea yang kadang-kadang perlu imajinasi tinggi serta daya analitis yang kuat, dijamin Rhea rela menghabiskan berjam-jam bersama lelaki 'nyaris Einstein' itu.
Tapi kembali lagi. Rhea begitu mudah jatuh cinta pada fisik sekalipun fisik bukan incaran pertamanya. Bingungkan? Saya saja yang sudah bertahun-tahun jadi sahabatnya bingung dengan konsep hati Rhea yang aneh.
Kakak seniornya di sekolah menengah. Tampan, anggota Paskibraka, ahli pelajaran eksak. Ada sekian minggu Rhea berusaha untuk menambah tinggi badannya agar bisa masuk dalam pasukan pengibar bendera pada acara17-an di sekolahnya. Dengan melibatkan tiang gantungan, obat cina, melakukan gerakan-gerakan menarik-narik kaki dan tangan, pada akhirnya ia bisa sukses masuk ke lingkarna paskibra. Endingnya? dia bisa dekat dengan senior incarannya itu. Ujungnya? baru tiga hari perkenalan dia sudah ogah bertemu cowok tinggi itu. Alasannya?
"Tuh cowok nggak bisa diajak ngomongin Dan Brown, larinya malah ngomongin girl band. Kampret."
Atau yang sedang terjadi sekarang ini. Rhea seorang gitaris band indie jebolan kampus tetangga. Alasan ketertarikan; bisa main gitar, alisnya tebal, tampang oriental ala boyband korea. Dia bela-belain beli gitar ratusan ribu, belajar main gitar sampai jari-jarinya melepuh, beli buku chord-chord gitar, dan si gitaris mulai memperhatikannya saat dia manggung di sebuah festival musik kampus dengan skill pas-pasannya. Endingnya? Dia makin dekat sama cowok gitaris itu, malah sempat diajari main gitar dengan cara picisan film-film Hollywood. Biasalah, si cowok di belakang, sambil memposisikan tangannya pada tangan si gadis, sesekali dengan gerakan yang tidak disengaja tapi sebenarnya disengaja si cowok menyentuh jemari si cewek yang sedang berusaha membentuk kunci C G A Minor dengan tangan yang gemetaran. Lalu mereka saling berpandangan, tersenyum, lalu seisi dunia menghilang dan menyisakan mereka berdua sebagai pemilik bumi ini.

Si jatuh yang berkali-kali patah.

Thursday, May 2, 2013



Sebuah percakapan. Dini hari.
"Kamu berdetak terlalu cepat."
"Dan aku sudah bosan memikirkan dia."
"Katakan padanya agar ia tidak jatuh terus-terusan. Capek saya berpikir terus. Memikirkan orang yang sama."
"Tapi dia tuli, sepertinya."
"Atau buta. Badannya sudah dijahit sana sini, tapi dia tidak bosan-bosan jatuh juga."
"Kamu tahu kejadian kemarin? Saat Mata melihat lelaki itu di seberang sana bersama gadis lain. Aku bisa menebak mengapa jantung marah-marah kemarin, dia tidak bisa mengontrol infeksi rasa yang diberikan kepadanya. Memompa darah terus menerus."
"Saya kasihan sama tubuh ini. Gara-gara kebodohan segumpal daging yang bahkan tak eksis di dalamnya, dia terpaksa menderita."
"Padahal ia bisa bangkit, dianya saja yang tak mau."
"Tidak bisakah kita beristirahat sekarang? Kantong hitam di bawha saya sudah semakin besar. Saya harus kelihatan oke besok pagi. Tubuh ini mau presentasi."
"Saya juga mau tidur, dari tadi Alam Mimpi sudah gedor-gedor pintu mau masuk. Tapi si bodoh ini tidak mau keluar dari Alam Khayal."
"Kenapa kita harus seperti ini?"