Dreams : Sky

Monday, February 7, 2011

"Langit itu indah ya, seperti kamu."
Pict from here

"Ahahahahaha!"
"Radiiitttt!!! jangan kencang-kencangg!!"
"Ahahahaha! ini hebat Riiettt!"
"Ta-ttapi.. a-aakuu.. ta-ta-takuuuttt."
"Ahahahaha!!!" tawa pemuda berambut cepak itu makin kencang, sekencang laju sepeda yang mereka naiki itu menuruni bukit. Dua anak manusia itu baru saja pulang sekolah, pelajaran tambahan karena akan menghadapi UN mengharuskan mereka pulang sore. Tapi tak apa, itu menjadi momen manis untuk mereka berdua.
Raditya, pemuda yang duduk di sadel depan sepeda itu tertawa riang saat angin menerpa wajahnya, menuruni bukit dengan sepeda yang berkecepatan tinggi sudah menjadi hobinya sejak kecil. Dia sudah anti dengan segala ketakutan akan jatuh, tergelincir, rem blong, atau apapun namanya. Berbeda dengan gadis yang sedang memeluk erat pinggangnya. Gadis itu semakin mempererat pelukannya dan memejamkan matanya kala laju sepeda itu semakin kencang.
"Ririet.. ke pantai yuk." ajak pemuda itu, mata coklat kehitamannya menangkap siluet pesisir pantai yang kini tidak jauh darinya. Gadis yang dipanggil Ririet itu mengangguk dalam diam, masih berkosentrasi untuk tetap mempererat pelukannya. Oh.. rupanya sekarang pelukan itu butuh konsentrasi.
Pemuda bertubuh jakung itu memperlambat laju sepeda hitam bermotif kobaran api miliknya. Menarik napas lega ketika maniknya memandang lurus pada hamparan pasir putih yang tersapu buih ombak. Segaris senyum tipis terukir di wajahnya, kemudian diapun menoleh pada gadis yang masih terus saja mencengkram bagian depan kemeja sekolahnya itu.
"Oiii.. oiii Ririet, udah nyampe nih. Jangan nyuri kesempatan terus dong buat meluk-meluk gue."
Bletak!
"Wadaaawww.. kok gue dijitak sih?" tanya Radit sembari mengelus-elus kepalanya.
"Emangnya yang nyuri kesempatan siapa? Weekkkk.." gadis berlesung pipit itu memeletkan lidahnya, turun dari sadel sepeda dan berlari-lari kecil menyongsong angin. Radit tersenyum, menatap pada salah satu maha karya Tuhan itu. Disandarkannya sepeda miliknya pada salah satu pohon kepala yang tumbuh di sana, sebelum akhirnya berlari menyusul gadis yang terlebih dahulu bermain dengan ombak.

“Radit.. boleh nanya sesuatu nggak?” Tanya Ririet
“Boleh… boleh, mau nanya apa?”
“Kenapa kau begitu menyukai langit?” tanya Ririet.
“Karena…” pemuda itu berhenti sejenak, memandang pada sepasang bola, mata bening yang balas memandanginya dengan rasa penasaran. Mengintip sejenak dibalik manik yang bagai berlian itu, “karena langit adalah hidupku..” jawab Radit dengan tangan yang direntangkan matanya terpejam seolah meminta agar angin sore membawanya ke langit, “aku ingin agar angin membawaku padanya… aku sangat mencintai langit. Dan aku berjanji, suatu saat nanti aku akan terbang kepadanya.”
Ririet terdiam. Kemudian Radit membuka matanya, memperlihatkan suatu pengharapan pada Ririet
“Riet…” Radit memanggilnya pelan, “kamu mau kan jadi langitku?”
~0o0~
THE END.
Setan yang rasuki saia pas bikin nih cerita gaje… hahahaha.

Ini Tuh Gue Bangeeets!

Sunday, December 12, 2010

Habis nonton 'The Hurricane' saia gak sengaja menemukan hal yang menarik dalam percakapan aktornya...

"Menulis itu adalah keajaiban. Kekuatannya lebih besar daripada kekuatan tinju."

Saia juga pernah membaca sebuah kutipan...

"Tulisan akan tetap dalam keabadian, sementara ucapan akan terbang bersama angin..."

Weiitts,
dan setelah memikirkan hal itu, saia menarik sebuah kesimpulan bahwa...

Emang bener dah, orang yang punya tulisan oke, bakal lebih diingat dibandingkan orang yang banyak omong.

Dan, gue emang mengakui kehebatan sebuah tulisan. Tulisan ntu lebih hebat dibandingkan mesin waktu. Kalo dengan mesin waktu yang gak jelas adanya itu kita mesti ngatur sana-sini, mesti melakukan persiapan ini-itu. Tapi coba dengan sebuah tulisan, dengan sebuah buku, kita bisa mau ada di waktu/masa kapan aja. Kita bisa mengenang masa lalu dengan tulisan, kita bisa melihat sejarah dengan membaca sebuah catatan. Tak hanya itu, kita bisa membayangkan masa depan dengan sebuah impian yang tertulis di dalam sebuah buku.

Gak hanya itu men, tulisan juga mampu membuat kita berkeliling dunia, bahkan sampe ke luar angkasa untuk melihat alam semesta. Dengan membaca sebuah buku, meskipun kita ada di penjara bawah tanah sekalipun, kita masih tetap bisa berjalan-jalan ke kutub utara. Hebatkan?! Kita yang ada di indonesia saat ini, bisa berjalan-jalan ke Jerman, Ke Prancis, Ke Jepang hanya dengan membaca sebuah buku (weww udah mulai ngaco nih, tak apalah...). kita yang ada di bumi ini, bisa mengetahui ke adaan alam semesta hanya dengan membaca artikel, buku, ataupun ensiklopedia. Weiittsss, kita gak bakalan bisa baca kalo gak ada tulisan.

Gue pun sempet mikir (sableng), Emansipasi wanita di Indonesia mungkin gak bakalan ada kalo gak ada R.A. Kartini yang curhat lewat surat-suratnya yang dikirim buat sohibnya di Belanda sana, orang-orang bakalan kesulitan buat mengingat nomor telepon kalo gak ada yang namanya ‘buku telepon’ alias catatan nomor telepon, kita bakalan susah belajar bahasa inggris kalo gak ada benda yang namanya kamus, yang nota benenya adalah ‘kumpulan tulisan-tulisan’, dan bakalan susah kita-kita ngedepin ulangan kalo gak ada ‘catetan kecil-kecil’ yang dibuat pada secarik kertas yang suppper imut *yak, buka aib*.

Woaaahhhh... tulisan, catatan, buku, dan apapun namanya... emang top dahhh...

Rhynnie.

Orang Keren, Jauhi Flame, Budayakan Report Abuse

Tuesday, December 7, 2010

“Adalah hak setiap orang untuk mengutarakan pendapatnya...”

Dongo X Dongo = Dongo Kuadrat
Dongo + Dongo = Dongo-Dongo
Lo-lo pada pasti bingung, ngapain gue bikin perhitungan dongo-dongoan kayak gini.
Sekedar refreshing and pengingat kita aja friends...
(Selanjutnya, junker alias pembuat fict junk bakalan disebut sebagai orang dongo, kenapa? Sewot? Saia gak peduli... apa lagi kabarnya yang bikin ntu fict junk adalah salah satu author oke di FFn... aiyaaahhh gak ambil pusing dah...)
Beberapa hari yang lalu, ada salah satu ‘sodara’ kita yang dengan segenap ke’dongo’annya membuat sebuah fict yang bisa dibilang sih junk gitu sama temen-temen yang lain. Ya, kalo gue ngeliatnya sih... ya emang tuh fict udah bener-bener mengerikan. Tapi, yang membuat gue lebih heran lagi, adalah orang-orang yang dengan ‘dongo’nya rela buang-buang waktu, tenaga, pikiran dan keringat hanya buat ngeflame tuh fict junk. Ckckkc... heran gue. Rasa-rasanya, gak ada bedanya deh, antara ntu fict junk sama flame yang ada di page ripiunya, sama-sama TAJAMMM...
Why?
Coba deh, kita telusuri gimana hebohnya... gimana euphoria penghuni FNI kalo nemu fict ‘junk’. Beuhhhh... konser Metallica aja kalah kali ya? Saking hebohnya ntu FNI (yaphz, dan saia tidak memungkiri bahwa saia juga sempat ikut-ikutan heboh).
Gue, kalo habis ngebaca fict junk pasti sebelum gue Report Abuse, gue liat page ripiunya dulu. Gue pengen ngeliat gimana reaksi masyarakat FNI terhadap Permasalahan yang ada di tubuh FNI saat ini. *politik mode : on*. Kalo di fict-fict junk seringkali kita temukan ‘penampakan’ jalan cerita yang ngawurlah, isinya curhatanlah, hujatanlah... ck, biasa. Tapi, yang anehnya adalah, masih... masih... masihhhh ada juuugaaa masyarakat yang dongo-dongonya mau di dongo-dongoin sama orang dongo.
Ck, fict junk... kalo kita liat dari kualitas flamenya, gak ada perubahan dari tahun-ke tahun. Selalunya gitu-gitu aja. Statis. Kenapa ? Fictnya aja udah ancur, parah. Tapi... liat flamenya, LEBIH PARAH dibandingkan dengan isi fict junk itu sendiri. Naudzubillah dah! Kalo baca fict junk bisa bikin orang-orang pada sakit mata, baca flame-nya fict junk malah bisa bikin sakit mata tambah parah, bahkan bisa menyebabkan katarak.
Heran deh, katanya sok-sok’an bilang kalo apa yang si author fict junk bikin itu adalah memperkeruh suasana di FNI, bikin rusak, bikin sakit mata. Namun, si flamer tidak melihat... dia tak bercermin pada dirinya sendiri... apakah, apakah yang dia tulis di page ripiu itu tidak menyulutkan api?
Air keruh ketemu air keruh... ya tambah keruh deh.
Bagai api kesiram bensin, ya apinya tambah besar deh.
Kalau mau mikir ala orang sableng (kayak yang bikin nih tulisan), sebenarnya bukan hanya fict junk itu yang membuat FNI itu makin parah keadaannya, tapi juga reaksi yang diberikat masyarakat FNI atas adanya fict junk itu sendiri. Seperti hukum III Newton :
Sigma aksi = Sigma reaksi.
Mau dapat reaksi, ya kudu bikin aksi. Nah, mungkin seperti itulah pemikiran author junk fict di dalam ruang lingkup FNI ini. Mereka membuat aksi dengan bikin fict yang sumpah! Ngeri gue bacanya. Nah sebagai reaksinya, muncullah flame-flame yang.... innalillahi mengenaskan.
Sebenarnya, terserah deh... terserah orang-orang mau bikin fict apa di FNI. Mau bikin fict junk kek, fict ancur kek, fict alay kek, fict yang isinya tentang CURHATAN kek, terserah deh... kita gak usah peduli dengan hal-hal GAK penting macam begituan. Masa bodo lah, karena sesungguhnya, reaksi dari kitalah yang mereka tunggu-tunggu. Karena fict junk mereka super laku berat, bahkan yang Cuma 50 sampe 90 kata doang bisa dapat respon diatas rata-rata... ya mereka gak bakalan kapok, yang ada mereka makin ngelunjak.
Sering gue baca flame kayak gini :
(maaf kata-katanya gak gue sensor)
Flamer pertama : “FICT APAAN NIH? ANJINK! SAMPAH! TOLOL LO BIKIN FICT SAMPAH KAYAK GINI! KE LAUT AJA LO! SAMPAH! BABI! ANJING! BIKIN ANCUR FNI AJA LO!! DASAR KUTU BUSUK!!!”
(komentar gue : separah-parahnya ntu fict junk, lebih parah lagi flamenya...ngaku-nya cinta FNI, tapi kok...)
Flamer kedua : “ Permisi, wah... wah... ada apa ini? Oh, ada sampah ternyata. Ckckck, kok ada ya manusia bego kayak lo? Sampah kok di publish bikin rusuh FNI aja lo. Ckckck... sampah”
(komentar gue : lo udah tau ini sampah, masih juga flame, kenapa gak di RA aja?)
Flamer ketiga : “gue heran banget sama fict lo, baru liat summarynya aja gue udah gue udah tau kalo lo mau ngebash/ngeflame chara ini. Kamu itu seneng ya liat FNI jadi rusak? Hah, moga-moga tuhan membukakan pintu hatimu...”
(komentar gue : mereka berkomentar sopan, sangat sopan... tapi, mereka mau-mau saja di ‘dongo-dongo’in sama orang dongo. Kenapa gak di REPORT ABUSE SIH?! Gemes gue!!)
Flamer keempat : “Hei njink! Seneng lo ngeliat fict lo dapat review lebih dari 100? Seneng lo? Gue kagum sama lo yang bisa bikin huebohhh FNI. Nih fict gak pantas di sebut fict. Ini tuh pantasnya di tong sampah, bukan fi FNI. pergi lo! Ngotorin FNI aja lo”
(komentar gue : gue jadi mikir, gimana ya kalo seandainya junker alias orang dongo yang buat fict junk ngebales nih flame dengan kata-kata “Flame lo juga pantesnya di tong sampah.” Waduh... gawat tuh)
Flamer kelima : “gue tau, lo pasti Cuma cari SENSASI kan? Selamat ya lo berhasil”
(komentar gue : udah tau kalo si orang dongo lagi nyari sensasi, lha... kenapa lo malah memuluskan jalannya?)
Flamer keenam : “Oii, oiii nyadar dong lo! Liat hasil apa yang udah lo perbuat!! Udah puas lo bashing chara-chara –tiiiiiit-? Udah puas lo?”
(komentar gue : yah, gue Cuma bisa bilang kalo orang dongo yang bikin ntu fict junk udah ketawa-ketawa setan gara-gara baca nih flame.)
Ckckckck... ketawa gue, sekaligus miris ngeliat orang-orang yang sok pasang tampang ‘MENGHUJAT FICT JUNK’ tapi gak nyadar kalo flamenya juga gak kalah parahnya dibanding fict junk itu. Mulai dari yang memaki-maki dengan kata-kata aneh, pokoknya semua dah... maki-makian bahasa daerah keluar, dari sabang sampe merauke... semua penghuni kebun binatang diabsen, dari hewan jinak sampe hewan liar disebutin satu-satu, dari yang kata-katanya super sopan tapi dalemnya ‘tajam’ juga. Apakah itu cara menyadarkan orang dongo? Gak! Yang ada malah lo sengaja bikin diri lo tuh jadi DONGO KUADRAT. Lebih parah dari pada orang dongo.
Sekarang... mari kita melihat dari sudut pandang orang sableng (namanya aja sableng, jadi pasti pemikirannya sableng juga)
Orang dongo yang bikin fict junk, ibarat peribahasa yang berbunyi “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Sekarang, kita tinggal memilih... mau jadi ‘anjing yang menggonggong’ atau ‘kafilah’ yang berlalu.
Kemungkinan pertama. Kalau kita memilih menjadi’ anjing yang mengonggong’, sekeras apapun lo berkoar-koar ngeflame tuh fict, ‘kafilah’ bakal tetap berlalu, bahkan mungkin sampe ketawa-ketawa and ngejekin ‘anjing yang menggonggong’
Tapi coba, kalo lo milih menjadi kafilah.
Sekeras apapun ‘anjing menggonggong’, kalo kafilahnya cuek bebek aja, gak terpengaruh sama gonggongan anjing, si anjing bakalan capek sendiri. Mau ntu anjing menggonggong sampe lidahnya melet-melet juga, kita sebagaa kafilah harus tetep tampil keren. Jangan mau terpengaruh.
So, pengen jadi apa nih?
Percuma lo-lo pada teriak-teriak “lo ngancurin FNI! lo bikin rusak FNI! gue benci sama lo yang bikin Sampah kayak gini”. Itu semua percuma man, karena gue yakin... orang dongo yang bikin fict junk itu pada ketawa di luar sana melihat reaksi kita yang ‘mencak’mencak’. Kasian, kasian buat kita-kita yang mau-maunya di dongo-dongo’in.
Jadi,buat kita yang merasa sebagai kalifah, buat kita yang merasa perlu menjaga kedamaian di republik FNI ini, kita rame-rame REPORT ABUSE ntu fict gak mutu. Gak perlu kita melet-melet, capek-capek berkoar di dunia maya buat nyadarin ntu orang dongo.
Semakin banyak report abuse, semakin banyak kedamaian...
Semakin banyak flame, berarti anda telah mempersiapkan senjata nuklir untuk memperburuk suasana republik democrazy FNI. wuakakakakak...
So, teman-temanku sesama pecinta FNI, mending kita patahkan hukum newton, kita bikin hukum sendiri...
Kalo hukum newton bilang :
Sigma Aksi = Sigma Reaksi
Kalo hukumnya masyarakat FNI :
Sigma Aksi > Sigma Reaksi
Gue bukannya mau ngajakin berantem sama Tuan-tuan Flamer yang terhormat ataupun ngebelain ntu Orang Dongo yang nyari sensasi ala ‘skandal artis sama anggota DPR’. Kagak. Gue Cuma mau berpendapat bahwa, gak perlu lo semua... tuan-tuan flamer kemakan sama fict junk-nya orang dongo. Temen-temen gak perlu buang-buang waktu, tenaga, and pikiran hanya karena memikirkan kata apa yang pantas buat orang dongo yang sekarang ini pada nangkring di FNI. hanya satu yang pantas buat mereka...
REPORT ABUSE!!!
Yo!!! Budayakan Report Abuse!!!

(Gue tahu, banyak yang gak setuju akan tulisan sableng ini. Pasti. But, ini hanyalah sebuah ungkapan atas apa yang terjadi saat ini. Gue ngaku, gue masih baru di bumi FNI ini, gue masih buta sama permasalahan yang ada di FNI. Ini Cuma pendapat, setuju gak setuju, terserah anda...)

Kemalasan membawa kesengsaraan

Monday, November 29, 2010

Holaaaa..... *pasang tampang melas*
Ni hari, kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi. gue tuh sumpeeekkkk banget. Gak tahu deh kenapa. Bawaannya bete, bete, dan bete. Hah... lagaknya, dah kayak gak ada hal menarik aja di dunia ini. Nih aja nih ya, gue ngetik nih postingan berasa jari-jari saia pada keder semua saking males and betenya gue. Huft.
Gak tahu nih, akhir-akhir ini semangat gue buat bikin cerita karangan (bukan batu karang yee) menurun drastis. Dari 80% menjadi -80%, jungkir balik 180 derajat tau gak! Huh! Sebeeellll... sebel banget, ntu ya, dimana kita udah punya ide cerita buat dituangkan, waktunya udah pas, suasana yang mendukung ( dalam hal ini altar waktu dan tempat), but... tiba-tiba aja semangat gue ilang, langsung males pas ngeliat tampang Microsoft Word yang biru dengan kursor yang berkedip-kedip di tepi kiri layar kerja. Chaos.

Bahkan, udah belasan! Udah belasan artikel-artikel tentang menulis yang gue baca. Mulai dari artikel menulis cerpen sampe menulis laporan keuangan, dari nulis pake arang sampe pake keyboard, gak ada yang menggugah semangat gue untuk menulis. Bawaannya malas. Huwaaaa.... apa yang terjadi padaku???
Kini, mungkin kalo lo punya mata super atau gak kekuatan telepati kayak Carmen di Spy Kids, lo pasti bisa ngeliat gue lagi menatap dengan nanar jari-jari tangan gue yang kurus-kurus, menatap jari-jari kaki gue yang bau *yueekkksss* . Rasa-rasanya udah banyak ide cerita yang nangkring di atas kepala guengantri buat di tuliskan dalam sebuah lembaran MS Word, hati gue trenyuh ngeliat ntu jari-jari gak bisa bergerak dengan lincah merealisasikan ide cerita yang menyumbat akses masuk kedalam otak gue. Bahkan, gue sampe curiga, gara-gara ide bikin fanfict atau cerpen yang tidak terealisasikan inilah rumus-rumus fisika dan juga persamaan kimia gak bisa menembus jaringan otak gue(ya elah, itu mah lu-nya aja nyang malas).. Pokoknya nyebelin-nyebelin-nyebelin!!!
Stuck pikiran gue. Rasanya ada yang kurang kalau ide-ide yang ada dipikran gue ini gak bisa guekeluarkan dalam bentuk tulisan. Sakaw rasanya. Tapi... huweeee.... semangat gue gak ada. Bahkan, gue udah nyobain mantra pencari ide buatan gue yang super gaje ntu. Rasa malas gue gak mau hilang-hilang. Agrhgrhrghraghaghrgrhrghr!!! Bete nih! Gak enak banget! Rasa-rasanya ada yang kurang gitu dari hidup gue. Ihiksss...

Resensi Buku, Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur!

Sunday, November 28, 2010

Huahhhh... lega rasanya saia habis ngerjain nih tugas Bahasa Indonesia, yaitu meresensi buku. Nah... silahkan dinikmati hasil resensi dari saia yang kacangan ini. heuheuheu...

Resensi Buku
Pemberontakan seorang Muslimah

Judul Buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Nama pengarang :Muhidin M. Dahlan
Jenis buku : Fiksi
Penerbit : ScriPtaManent bekerja sama dengan Melibas, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2003, Cetakan 12, april 2008
Tebal Buku : 264 hlm. ISBN : 979-99461-1-5

Muhidin M Dahlan, atau biasa disapa dengan sebutan Gus Muh adalah seseorang yang sehari-harinya, selain terus membaca, menulis dan jalan-jalan, juga bergiat di indonesia buku (iBUKU) jakarta. Pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PPI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sepertinya, Muhidin M Dahlan tidak pernah lelah mengguncang dunia tulis menulis tanah air kita dengan karya-karyanya yang kontroversi. Selain novel ‘Adam Hawa’ dan ‘Kabar Buruk Dari Langit’, penulis yang pernah menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, kembali mengeluarkan novel terbarunya berjudul ‘Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!’
Nidah Kirani, seorang muslimah yang taat dan tegas dalam menegakkan syari’at islam. Seorang muslimah yang kesehariannya beputar antara shalat, tadarus Al-quran, dan berdzikir. Masuk ke sebuah pesantren mahasiswa demi meraih impiannya menjadi seorang muslimah yang islam secara kaffah.
Pertemuannya dengan salah satu aktivis kampus, membawanya berkelana ke dalam sebuah perjalanan sufi yang begitu diimpikannya. Melalui jalan dakwah dan jemaah yang diikutinya, dia mengukuhkan niatnya untuk menegakkan syariat islam di bumi pertiwi ini. Namun, bongkahan-bongkahan kekecewanan menimpa dirinya, organisasi garis keras dimana ia mengharapkan pencapaian tegaknya syariat islam di Indonesia malam merampas pemikiran kritis dan juga imannya. Dirinya yang selama ini selalu didikte olah dogma-dogma agama mulai merasa gerah dengan semua aturan-aturan yang merontokkan sifat kritisnya. Bahkan, Tuhan yang selama ini ia sembah dan agung-agungkan layaknya tidak mendengarkan doa-doa dan pengaduannya.
Sampai akhirnya kekosongan batin menyerang dirinya, pertahanan agamanya runtuh dan dengan mudah tergantikan dengan pemikiran bahwa “ Tuhan itu bullshit!”. Dirinya memberontak. Tidak ada lagi sembah-menyembah menghadap kiblat, atau lantunan suara merdunya membaca ayat-ayat Tuhan. Yang ada hanyalah rasa frustasi yang dilampiaskan kepada free sex dan obat-obat terlarang. Dari segala yang dilaluinya itulah ia pun mengenal hitam-putih dunia yang begitu keras berkoar-koar meneriakkan penegakkan moralitas. Terbukalah semua topeng-topeng kemunafikan dari aktivis-aktivis yang pernah menjamahnya. Bahkan, seorang dosen bersedia menjadi germonya dalam dunia malam, yang ternyata adalah anggota DPRD yang bersikeras berjuang menegakkan syariat islam di Indonesia.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh kita yang mau diajak berpiir kritis, turut membuka hitam-putih perjuangan penegakan syariat islam. Menampilkan logika-logika yang luar biasa, buku ini mengungkap hal-hal yang tabu di masyarakat, membongkar kemunafikan manusia yang berdiri di atas perjuangan agama, ideologi, dan penegakkan syariat.
Sayangnya, imajinasi dari novel ini agak sedikit memaksa, diksi yang sedikit vulgar, dan juga buku ini dikemas dalam bahasa yang cukup padat dan masih banyak istilah-stilah yang asing didengar oleh telinga kita. Sehingga membutuhkan pemikiran dan penalaran yang cukup tinggi dalam membaca buku ini.
Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini memberikan warna baru dalam perjuangan penegakan agama. Buku ini mengajarkan kepada kita bahwa beragama harus ikhlas agar tidak tertimpa kekecewaan sebagaimana tokoh di dalam buku ini.
---------------------------------------------------------------------------

Brrrrr.... rada-rada merinding saia baca and nulis resensi buat nih buku, wuaaaawwww

Rasa Benci Yang Aneh

Monday, November 8, 2010

ARGRGGARFGRFGRFRHRGRGGRGGR!!!!!

Entah mengapa, saia jadi pengen nulis yang beginian. Ni perasaan, sumpah! Udah gak bisa saia tahan-tahan lagi. Perasaan ini bukanlah perasaan kasmaran, atau suka atau cinta ke seseorang. Ini cuma rasa benci. Rasa benci yang aneh, karena saia ngerasaain rasa benci ini tanpa suatu alasan yang jelas.

Saia benci sama seseorang. Suer deeehhh!! Beneran, tuh orang sama sekali gak punya salah apa-apa sama saia. Orangnya baik, lumayan nyolot, sedikit rese.... Pokoknya biasalah... Tapi kok....

Mengapa saia malah benci sama dia?

Saia ngerasa ini adalah sebuah perasaan yang aneh. Ckckckc, kayaknya saia sudah ada pada tahap dimana saia menjadi orang yang 'aneh' *lha pada dasarnya saia aneh, ihiks...*. Berbagai kemungkinan pun mulai menyusup masuk ke dalam pikiran saia, apakah saia ini gila? Sinting? Gaje? Atau kurang waras? *ya elah sama aja dodol!*

JYAAAAHHHH!!!! APA YANG TERJADI PADAKU??!!

Dan, jujur saja... perasaan yang seperti ini tuh menyiksa hati. Eating Liver alias Makan Ati!
pokoknya, saia jadi ngerasa seperti orang paling aneh, paling buruk, paling jahat sedunia! ya Tuhannn.... tolong hapus perasaan ini, hapus perasaan benci ini dari hatiku... ihiks.... ini sungguh menyiksa!

Hiks... Hiks... Hiks... nyebelin! punya perasaan aneh seperti ini tuh menyiksa! sumpah! Lillahi Ta'ala menyiksa! Ni perasaan 'benci' ngebuat saia benci diri saia sendiri. Makan ati. Dongkol sendiri. Bahasa Perancis lamanya ntu PEDOKO.


Huftttt, mudah-mudahan saja... Setelah curhat-curhat gak jelas kayak gini... Perasaan saia bisa tenang, dan akan hilang selama-lamanya...


Mudah-mudahan....

Pengalaman LKS, brrrrr....

Thursday, November 4, 2010

Kemarin, mungkin adalah hari yang bakalan gue kenang sepanjang masa, yeah menurut gue begitu, makanya gue nulis di sini, soalnya kalo gak di sini gue mau curhat dimana *tanya laut, wkwkwkw*
Gue kan ikut LKS, itu tuh Latihan Kepemimpinan Siswa. Sebenarnya udah lamaaaaa banget gue pengen ikut yang kayak begituan, tapi selama ini gue selalu ragu buat ikut yang begituan. Maklumlah, kan selama ini LKS itu selalu di identikkan dengan penyiksaan lah, dibentak-bentaklah, dan hal-hal aneh lainnya. But, menurut gue, gak gitu kok. Tergantung bangaimana orang itu menilai LKS. Bagi gue, LKS bahkan bisa jadi ajang buat seru-seruan, bisa melatih mental kita, dan bisa saling mengenal dengan kakak kelas.
Dan ini adalah sebagian kecil dari pengalaman gue ikut LKS, tapi Cuma LKS ruangan, karena LKS lapangan gue gak pergi.
Kemarin, gue ditanyain lagi, jabatan apa yang gue inginkan. Langsung aja gue jawab dengan setegas-tegasnya *menurut gue*
“SIAPP!!! SEKRETARIS PRISMA KAK!!!”
Beeeuuuh, tapi masih ditanyai lagi, terus gue ditawarin jabatan lain lagi yaitu sebagai sekretaris II OSIS deh kalo gak salah, gue ditanyain lagi
“Dek, kalo saya tawarkan kau sekretaris II OSIS, ko mau dek?”
Gue jawab “SIAAPPP! TIDAK MAU KAK!!!”
Ditanya lagi, “Kenapa ko tidak mau dek?”
“SIAP! KARENA SAYA INGIN JADI SEKRETARIS PRISMA KAK!!!” ntu gue jawab dengan setegas-tegasnya *menurut gue*
“Kenapa kau lebih pilih PRISMA (Perhimpunan Remaja Islam) dibandingkan OSIS dek?”
Jlegerrr! Gue langsung mingkem, gue gak tahu mesti jawab apa, bahkan gue ditanyain sampe tiga kali berturut-turut. Mungkin tuh kakak kelas udah eneg kali liat gue yang cuma diam seratus ribu bahasa daerah. *wkwkwkkwkw*
Terus gue ditanyain/dibentak/diteriakin lagi. Bahkan frekuensi ketegangan suara ntu kakak kelas ditambah, getarannya mungkin dari 300 MgHz naik jadi 100.000 MgHz, volume suara naik didukung dengan ekspresi supper duper galak. Wuhhhh, saia bahkan gak berani untuk sekedar menarik napas, jadi selama saia dipelototin saia cuma bisa menarik napas pelan-pelan *ihikkksss, nyesek*
“Dek, kalo ditanya itu JAWAAAAAABBBBBB!!!” tuhhh kan, saking gemesnya ntu kakak kelas jumlah huruf A dan B nya aja jadi banyak gitu, ckckck...
Terus, maklumin aja. Gue kan orangnya suka kagetan. Kalo ngomong suka gak dipiir lagi, mana tuh kakak kelas udah nungguin jawaban dari gue, langsung aja gue nyerocos...
“SIAP!! KARENA PRISMA LEBIH BAIK DARIPADA OSIS KAK!!!”
Jlegerrr.... gerrr... terdengar suara petir... dan guepun keblingerrrr....
Yak sodara-sodara....
1... detik... Kakak kelas diam....
2... detik... kakak kelas diam....
3... detik... kakak kelas masih mingkem....
4... detik.... gue pingsan--- eh, gak ding. Langsung gue diteriakin lagiiiii....
“APAAAAA???!!! BISA-BISANYA KAMU BILANG BEGITU DEKKK!”
Waduh! Salah ngomong dah gue. Sontak, semua kakak panitia yang akhwat alias yang cewek-ceweknya pada ngerumunin gue. Emang dah, gak enak banget dikerumunin terus ditanya-tanyain.
“Astaga dek, bisanya kamu bilang begitu...” kata kakak kelas pertama.
“Emangnya, dia kenapa kah ini anak kak?” tanya kakak kelas kedua.
“Masa’, dia bilang PRISMA itu lebih baik daripada OSIS!! Ihhh, ngerinya!” jawab kakak kelas yang lainnya.
“Ooooh, begitukah. Sini kau. Ikut. Saya.” Perintah salah satu kakak kelas.
Dan tahukah kalian... gue dibawa kemana???
TIDAKKKK!!! DEMI AYAM BAKARNYA BU’ LE SUM YANG PALING MAKNYUSSSS!!!
KAKAK KELAS... JANGAN BAWA DAKU KE SITUUUU!!!
Sumpah. Ini. Tak. Akan. Saia. Lupakan. Seumur. Hidupku.
Saia dibawah berjalan melintasi lapangan...
Melewati teman-teman kelompokku *kelompok sembilan tercinta :D*...
Melewati kakak kelas/ panitia lainnya....
Menuju... menuju...
Sumber suara. Alias tempat dimana lo bakal gila-gilaan dah disana. Kalo lo udah berdiri di ‘Sumber suara’, lepaskanlah rasa tidak percaya dirimu, putuskanlah urat malumu, lalu pas pulang LKS seretlah mukamu di aspal *wkwkwk...*.
Sumpah nah. Saia sungguh tidak mengira bahwa saia akan dibawa kesana. Di sumber suara, lo bakal di suruh ngomong pake microphone, pokoknya suara lo yang cempreng sekalipun bakalan kedengaran di seantero sekolah, lo bakal di liat-liatin banyak orang, dan yang pasti... lo bakal dipelototin kakak kelas!! Ikhwan wal akhwat!.
Pas nyampe di sana, kakak kelas yang ngebawa gue ngomong sama salah satu panitia.
“Kak, kita tanya dulu ini anak. Masa dia bilang OSIS itu lebih jelek... eh, masa PRISMA itu lebih baik daripada OSIS. Kita tanya dulu kak.”
Kemudian, saiapun ditanyai pake microphone sama tuh kakak ketua panitia.
“Dek, apa tadi yang kamu bilang dek?”
Pertama, saia masih mingkem.... ceritanya sedang menyusun strategi agar tidak salah ngomong lagi. Tapi, yang namanya otak udah ‘Blank’ gak ada dah strategi-strategian lagi. Rasa-rasanya, menghadapi kakak panitia seperti menghadapi soal ulangan fisika yang susahnya naudzubillahi min dzalik. Dan, untuk kedua dan ketiga kalinya saia ditanya, saiapun menjawab.
“SIAPPP!! PRISMA LEBIH BAIK DARIPADA OSIS, KAK!”
Jlegerrr... puyeng ane/saia/awak/gue/aku.
Terus, saia kemudian dinasehatin.. bla-bla-bla. Lalu disuruh kembali ke barisan.
Ihiksss... tapi, yang namanya kesengsaraan karena salah ngomong, emang gak bakalan pernah berakhir. Ihikksss... pas selesai itu, saia ditanyain lagi, kenapa begini-begitu, saia tadi ngomong apa, alasannya apa, dan berderetan pertanyaan lainnya. Wufffttt...
Lalu... ihiksss... saia dibawa kembali menuju sumber suara, terus diceramahin lagi di sana. Kemudian saia dibawa lagi sama salah satu kakak panitia akhwat, dan diberi tugas nyariin tanda tangan semua sekretaris ORDIBASIS (Organisasi Di Bawah OSIS)s ebagai tanda maaf dan menyesal karena dengan Pdnya saia ngomong bahwa PRISMA itu lebih baik daripada OSIS dan juga karena saia terlalu merasa sempurna buat bisa jadi seorang sekretaris.
Akhirnya, dengan berbesar hati dan bermuka tembok, saiapun nyariin seluruh sekretaris ORDIBASIS. Bagaikan mencari upil di tumpukan jerami, upsss... bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami... rasa-rasanya mustahil banget dah saia bisa ngedapetin semua ntu tanda tangan sekretaris ORDIBASIS. Lha wong Sekretaris ORDIBASIS yangs aia tahu Cuma seberapa.
Akhirnya, saiapun menggunakan strategi :
1) Malu bertanya jalan terus..
2) Mau bertanya putuskan urat malumu...
3) Bacalah segala petunjuk, lalu beraksi... (papan nama, tempat nongkrong, suasana, dan nama serta jabatan yang tertera di jas OSIS mereka)

Pertama... *beuh lagak gue kayak detektif aja*
Saia gunakan strategi ketiga, baca segala petunjuk. Dan yaphzzz! Target pertama ditemukan! Gue nguber-nguber ntu kakak kelas... sambil bilang
“Kak... tanda tangannya dong kak, kak tanda tangannya dong kak... kak.. saia tahu kok, kakak sekretaris ORDIBASIS.... *sambil menyebutkan nama ORDIBASIS*”
Dan sumpah. Jawabannya kakak kelas yang saia mintai tanda tangan beraneka ragam. Dari di senyumin, sampe dicuekin. Dari dikatain ‘Saya bukan artis’ sampe ‘KO CARI DULU SEKRETARIS YANG LAINNYA BARU SAYA MAU TANDA TANGAN’. Ihiksss... saat itu, daku merasa bagaikan kulit kacang...
Dan alhamdulillah, saia berterima kasih sekali pada kakak sekretaris KOPSIS (Koperasi Siswa) yang telah memberikan tanda tangannya sebagai sekretaris pertama yang tanda tangan di buku gue. Ihikksss... padahal ntu yee, saia udah nyolot kalo dia itu adalah sekretaris PERSIK (Persekutuan Siswa Kristen). Tapi dia tetap saja tersenyum dan mengatakan.. “carilah jabatanku yang sesungguhnya” plus disuruh nyariin jabatan temannya yang satunya lagi. Nah disinilah saia menerapkan strategi ‘Mau bertanya Putuskan urat malumu’ saia bisikin temen saia
“Coy.. coy... kakak yang itu jabatannya apa?”
“Bendahara KOPSIS”
Asssiiiikkk! Langsung daku menghadap sama tuh sekretaris KOPSIS dan menjawab perintahnya tadi... dan karena jawabanku benar... saia dikasih tanda tangannya!!! YEYYYYY!!! I DID IT!!
Akhirnya... ada juga yang menorehkan tinta hitam di buku saia yang udah bulukan... ihiksss... mungkin kalo gak inget lapangan, saia mungkin udah peluk-peluk mesra tuh kakak, ku cium keningnya, dan kujabat tangannya... *tapi didalam mimpi, hihihi... lo kata saia berani. Wuuuu...*
Dan saiapun kembali melanjutkan pencarianku.. mencari sekretaris ORDIBASIS lainnya, demi permintaan maaf atas kesalahanku... ihikss.. walaupun air becek terinjak, dicuekin, dibentak-bentak... daku tak akan menyerah... YEAHHH!!!
Namun, pencarianku harus terhenti, karena seluruh kelompok disuruh berbaris dan main games. Lalu, setelah itu kita berdoa untuk pulang.
Nah, disinilah... keanehan terjadi.
Sebelum pulang, sudah menjadi kebiasaan bahawa seluruh penduduk kelas saia selalu ke kelas dulu sebelum pulang. Nah, entah mengapa... setelah saia duduk di tempat dudukku... saia jadi ngerasa nyesek, tertekan, takut, dan akhirnya saia nangis...
Ya ampunpinpunpenpon.... apa yang terjadi pada diriku. Wuh... pokoknya, ndak tahu deh. Langsung aja saia nangis. Dan pada saat itulah saia langsung nyadar, apa peyebabnya saia nangis... mungkin karena saia merasa tertekan kali ya, gara-gara tadi diteriak-teriakin. Tapi kok, kenapa saia nangisnya baru sekarang? Kenapa bukan dari tadi?
Kayak baru saia sadar... dari apa yang tadi saia lakukan, kayaknya semua beban langsung tumpah begitu saja. Errrhhhhghghghgg, langsung dah... daku menjadi pesimis... dan, pas temen-temen nyadar saia nangis, mereka langsung ngerumunin saia lagi. Saia disuruh..
“Sabar Rin, memang begitu kakak panitia... dia Cuma tes saja kau itu..”
“Sudah Rin, nda usah kau menangis... saia saja pernah dikasih begitu...”
“Saia malah lebih parah daripada kau...”
Waduhhhh... kok temen-temen pada curcol sih???!
Entah saia kalap atau apa, saia ngomong “ Uuuuh, sudah deh, saia nda pantas ambil itu jabatan. Nda ada pemimpin cengeng, nda ada... nda ada pemimpin yang tidak bisa menjaga perkataannya dengan baik... ih kasian, kamu ambil saja itu jabatan... sudah kau yang pantas untuk itu jabatan...” saia bilang gitu ke temen saia yang juga pengen ambil jabatan Sekretaris PRISMA.
Ih, pokoknya, pada saat airmataku keluar, saia merasa jatuh... drop... kayak saia merasa tidak pantas. Ihhh, bagaimanakah. Wuuuh, gak pantas lah pokoknya. Bahkan sampe di depan gerbang sekolah buat nyetop angkot, naik angkot, terus naik ojek sampe pulang ke rumah, saia masih tetep nangis. Mungkin, orang-orang yang naik di angkot pada heran kali ya.. kok saia bsia nangis... mungkin yang ada dipikiran mereka... ‘Wah, kayaknya nih anak lagi patah hati, nangisnya sampe sesenggukan gitu’.
Ihiksss, pokoknya sampe saia masuk di kamar tidur, saia masih tetap sesenggukan. Untung aja dah, bunda gak lagi ada di rumah pas saia pulang. Coba kalau dia liat mata saia sembab, mutiara dari hidung udah meler-meler, wah... pasti saia ditanyain yang macem-macem dah...
Ihikss... untuk pertama kalinya daku ikut LKS...
Untuk pertama kalinya daku ditanya-tanyain tentang jabatan...
Untuk pertama kalinya daku nguber-nguber kakak kelas buat minta tanda tangan..
Dan untuk pertama kalinya juga daku NANGIS di angkot... waduh, sinetron banget tahu ngaaakkk *fitri tropica mode : ON!*
Namun, ada sesuatu yang mengherankan. Kan, biasanya tuh, saia kalo maju ke depan ‘Forum’ saia biasanya udah ngalamin yang namanya panas dingin, keringetan, muka memerah, dan badan gemetaran... tapi, pas saia disuruh ngomong pake mic di ‘Sumber suara’ kok saia sama sekali gak merasa gemetar dan kawan-kawan ya? Sumpah. Saia sama sekali gak merasa malu. Padahalkan, kalau dihitung-hitung yang ngeliatin saia banyak banget, kaka panitia, teman-teman kelompok akhwat dan juga ikwannya. Hmm, mungkin itu adalah salah satu keuntungan saia ikut LKS. Setidaknya... saia udah tidak MALU-MALU LAGI!!! Wakakakak...
GOD SAKE FOR LKS!!!
Yah, seenggaknya apa yang terjadi kemarin, ada hikaah yang bisa saia ambil. Saia gak boleh sembarangan ngomong lagi, kalo perlu diem aja dah kalo emang gak bisa jawab, karena diam itu emas, jadi kalau mau cepat kaya maka jadilah orang pendiam *pepatahsesat*. Terus, rasa malu yang berlebihan akan menghalangi diri kita untuk maju, seseorang yang cengeng, tidak konsisten, tidak bisa menjaga lisannya, penakut, tukang nyontek, tidak akan bisa menjadi seorang PEMIMPIN!!
Hmmm, saia jadi ragu...
Saia bisa nggak ya?
Kalau ada memang yang lebih mampu dan lebih pantas dibandingkan saia, maka pilihlah dia... karena jangan sampe ada penyesalan dikemudian hari...