[FFan] UNTitled pt. 1
NaruHina Fanfiction
By. R.
-
By. R.
| here |
Kenapa kita harus terlibat dalam hubungan
yang seperti ini Hinata?
Kata-kata Naruto
kembali terngiang dalam telinga Hinata, dan rasanya seperti ada pisau tak kasat
mata yang mengiris hatinya. Meninggalkan perih pada luka yang belum sembuh
benar. Salahkah ia bila ingin bahagia juga? Salahkah ia bila ingin meraih
cintanya?
Dan mengapa Naruto
tak mau juga berpaling?
Ah, dia juga seperti
itu kan?
Kenapa Hinata tak
mau juga berpaling dari Naruto?
"Kalau kau
melamun terus, bisa-bisa rumah ini kebanjiran loh Hinata."
Selamat Datang, Dua Puluh!
Thursday, October 2, 2014
| heah! |
Hari ini
Hari yang
kau tunggu
Bertambah
satu tahun, usiamu
Bahagialah
kamu...
-Jamrud -
Selamat Ulang Tahun-
Bonjour, Rin!
Di awali
dengan lagu, akhirnya kamu, Rin, bertemu denganku.
Ikhlas
tidak ikhlas, sembilan belas harus kamu lepaskan, kamu masukkan dalam
sebuah kotak, kamu kunci, dan kamu simpan dalam sebuah ruang yang kamu sebut
sebagai kenangan. Umur belas terakhir kamu ini... sepertinya datar ya,
tapi, bisa juga tidak sih.Hehehe...
Rindu
Saturday, September 20, 2014
Sa rindu masa lalu.
Di mana saya bisa nakal tanpa perlu memikirkan akibat dari kenakalan saya.
Di mana ketika saya pulang terlambat ada Bapak dengan kumis tebalnya menunggu di depan pintu untuk memarahi saya.
Tapi, ah. Sekalipun hati gentar ketika berhadapan
Toh besoknya, nakalnya diulangi lagi.
Sa rindu masa lalu.
Yang cuma main boneka sama-sama mama.
Yang adik tertidur di telapak kaki mama
dengan aku yang mengusik minta diperhatikan.
Di mana saya bisa nakal tanpa perlu memikirkan akibat dari kenakalan saya.
Di mana ketika saya pulang terlambat ada Bapak dengan kumis tebalnya menunggu di depan pintu untuk memarahi saya.
Tapi, ah. Sekalipun hati gentar ketika berhadapan
Toh besoknya, nakalnya diulangi lagi.
Sa rindu masa lalu.
Yang cuma main boneka sama-sama mama.
Yang adik tertidur di telapak kaki mama
dengan aku yang mengusik minta diperhatikan.
Entahlah [Ini Intinya Apa]
Thursday, September 11, 2014
| here |
Pikiran Radit
mulai meliar. Baginya perempuan yang sedang patah hati itu bisa berbahaya,
tidak terkecuali Rhea. Terutama Rhea. Setelah berhari-hari gadis itu mengurung
diri di dalam apartemennya, kini gadis itu sama sekali tak nampak batang
hidungnya di sudut mana pun Radit mencarinya. Sama seperti hari-hari kemarin
sejak Rhea patah hati setelah putus dari pacarnya yang tukang selingkuh itu,
Radit rutin mengunjungi rumahnya hanya untuk tahu bagaimana keadaan gadis itu.
Well, meskipun kekecewaan yang selalu ia dapati karena Rhea tak kunjung mau
membukakan pintu untuknya, tidak mau membagi luka dengannya. Dia sudah lelah
dengan beratus-ratus nada sambung yang terputus dari teleponnya dan juga sudah
putus asa mengirimi sms-sms tak berbalas ke Rhea. Dan sekarang ia merasa
seperti menghadapi bencana.
Senja yang Terlalu Lama Menunggu Malam
Wednesday, September 10, 2014
Rintik-rintik lelah tak surutkannya
Berdiri dengan tumit yang mulai pegal
Toleh kanan kiri
Mencari
Menunggu
Sepoi angin mendinginkan ujung jemari
Sementara hati kehilangan hangat
gigil
dingin sekali.
Kenapa tak sampai juga?
Berdiri dengan tumit yang mulai pegal
Toleh kanan kiri
Mencari
Menunggu
Sepoi angin mendinginkan ujung jemari
Sementara hati kehilangan hangat
gigil
dingin sekali.
Kenapa tak sampai juga?
Bangun Pagi-Pagi
Thursday, August 21, 2014
Aku
bangun dengan jantung yang melonjak kaget dan tangan yang refleks meraba-raba
sebelah tempat tidur. Ku temukan tanganmu di sana. Dan pikiranku semakin
terlonjak membuat mataku terbuka sepenuhnya. Benar-benar kurasakan kerut-kerut
seprai karena beban tubuhmu, lalu hangat yang menjalar karena kau berbalik ke
samping, memberiku keleluasaan untuk menatap wajah tidurmu.
Di
sini.
Di
dalam kamar yang gelap, yang tirainya pelan-pelan terang karena sinar matahari
pagi. Ada kamu di sampingku, balas menggenggam tanganku dalam tidur. Pupil
Subscribe to:
Posts (Atom)