Ruang Baru di Rumah Ini

Monday, March 30, 2015

here

Anggap saja tempat yang baru di ‘rumah’ ini adalah ruang rahasia yang tersembunyi dibalik rak-rak buku di dalam perpustakaan, yang bila ingin dimasuki kita perlu menggeser buku yang tepat, atau memalingkan wajah patung ke arah matahari terbit. Sebuah ruang baru yang tercipta di mana sang penguasa ruangan baru tersebut ‘bebas’ mengeluarkan suaranya.

Loh, bukan-kah rumah ini dibuat untuk itu? Mengapa masih perlu ruang rahasia yang lain?

Karena saya adalah manusia yang berlapis-lapis.
Kalau orang lain Cuma butuh dua lapis.
Saya tujuh pun mungkin tak cukup.

Terlalu banyak warna, terlalu banyak wajah, terlalu banyak rahasia untuk ditampung dalam lapisan-lapisan dalam diri saya.

Maka kini saya mulai membuat ruangan baru lagi.
Di dalam tengkorak kini sudah terbentuk partisi-partisi.
Di dalam hati kini mulai menyusun batu-batu pembatas.
Dan ruangan dalam rumah ini adalah wujud fisiknya.

Ruangan ini akan menjadi tempat saya menyampah, mengumpat, memaki, menyesali.
Karena enggan rasanya mengotori tembok-tembok rumah ini yang sudah saya tata sedemikian sucinya.

Bisa berdarah mata orang-orang bila melihat kejahanaman yang akan tertulis nanti.
Di sini, akan ketahuan seberapa biadabnya mulut saya ini.

Eh tapi kan kenapa malah diumumkan di sini? Diperlihatkan di sini?
Ya suka-suka saya dong, saya yang punya rumah! (Ha!)

#Terbuktilah aku yang memang ingin punya rahasia yang tak lagi rahasia.
#AkuAlienDariGalaksiAntahBerantah

Mungkin, sekarang-sekarang ini, ruangan itu akan sering-sering saya kunjungi dan saya pasangi perasaan.
Dan lama-kelamaan semakin jarang saya gantungi perasaan.

Karena kini saya sedang penuh.
Dan sesuatu yang penuh itu tidak baik bila terus terisi.
Nanti dia meluap-luap lalu banjir lalu saya kena paru-paru basah.
(Ha!)

Jadi,
Setelah ke Sembilan puluh Sembilan sisinya saya cat dengan warna putih tulang, dengan penerangan dari cahaya kunang-kunang, dan kursi dari gelembung—gelembung yang melayang, ruang itu saya beri nama:

Recovery Pelan-Pelan

(Tak usah berharap nama bagus dari bahasa antah-berantah lah, suka-suka saya ini kasih nama. Kekekkekeke). 

No comments:

Post a Comment

Kalau menurutmu, bagaimana?