New Phase, New Hope

Tuesday, October 2, 2012

Aku, dalam pertukaran fase.

Tanpa terasa, 365 hari fase hidup telah saya lalui dengan baik, mengulang jejak pada hari ini. Mengisi ulang tenaga dalam semalam, untuk saya pakai 365 hari kedepan. Hari-hari di mana saya akan melanjutkan satu babak transformasi saya, melanjutkan pencarian saya, menapaki impian saya.

Saya tak lagi dan tak bisa lagi sama dengan saya yang setahun lalu. Yang dulu masih mengenakan pakaian putih-abu-abu, duduk di dalam kelas yang penuh, masih kekanak-kanakan, manja. Saya tak lagi mencemaskan katerlambatan, tidak lagi dipatok bangun pada jam 05.00, tidak lagi harus apel pagi.

Saya tidak lagi tinggal di rumah saya. Tidak lagi duduk berhadapan saling bercengkrama dengan Mama dan adik-adik saya. Tidak lagi bisa bergelung bermanja-manja di dalam selimut setiap akhir pekan. Tidak lagi bisa pelit ketika makan es krim. Tidak lagi disuruh ini-itu sama Mama.

Tidak ada kekacauan teriakan, keisengan, atau sibuknya adik-adik saya yang berlarian dan jail di depan saya. Tidak ada lagi suara ribut mesin jahit saat saya sedang menonton Tv. Saya tidak lagi harus menyapu rumah sebesar lapangan sepak bola itu.

Yang sekarang ada hanyalah Saya dalam tubuh ini. Berdiri sendiri.
Saya yang datang jauh-jauh ke tempat di mana saya duduk sekarang. Cari ilmu, ke kampung orang.
Warna saya yang berubah, dengan jadwal yang tidak tetapnya, tanpa apel pagi.

Dulu saya hanyalah seorang anak yang kadang mesti dibangunkan saat pagi, sekarang saya harus bangun sendiri. Saya yang dulu hanya menunggu masakan terhidang di atas meja, kini harus mempersiapkan apa yang akan saya makan hari ini. Saya yang dulu tidak perlu capek-capek mencuci, kini harus terbiasa menyikat baju tiga kali seminggu di dalam kamar mandi yang harus dibagi. Dulu saya bisa berpindah-pindah dari kamar tidur ke depan TV, kini hanya ada kamar ini, kamar sekaligus rumah saya.

Saya yang dulu tidak perlu memikirkan biaya hidup saya, kini harus pintar-pintar memanajemen semua keperluan saya. Jauhnya saya tidak bisa membuat saya bebas menuruti keinginan saya. Tanpa berhemat, saya yang akan kelaparan.

Saya yang sekarang jauh dari Mama, punya tanggung jawab yang lebih besar lagi untuk 365 hari ke depan. Tanggung jawab atas apa yang saya pilih. Atas angan-angan saya.
Mandiri.
Terkadang, penyesalan itu ada. Setiap kali saya memikirkan berapa banyak materi yang Mama korbankan untuk saya agar bisa bertahan di tempat ini, saya seperti ingin mengulang waktu, membatalkan semua yang saya ambil. Harganya terlalu besar, pengorbanannya banyak. Saya pun enggan bertahan, tapi Mama memperjuangkan saya. Mama tidak pernah bilang tidak bisa, Mama hanya meminta saya menunggu.

Saat itu, saya sadar betapa egoisnya saya. 

Kesadaran yang membentuk tujuan baru saya.
Saya tidak bisa seperti dulu lagi.

Berhasilnya saya, adalah putaran balasan dari semua pengorbanan Mama sejak saya meninggalkan rumah.
Tanpa mengizinkan ruang untuk gagal.

Mama yang saat ini sendiri. Berjuang sendiri untuk saya. Untuk membayar buah dari manja saya. Mama yang tak lagi sehat seperti dulu, yang tidak bisa saya tatap wajahnya saat berbicara, hanya mengandalkan suara lewat telepon saja. Titik balik dari fase pengulangan 365 hari ini, tidak ada pelukan dan senyum hangat yang bisa saya dapatkan langsung dari Mama. Hanya ada ucapan selamat.

Selamat untuk saya yang akan menjalani fase 365 hari ke depan.
Selamat untuk saya yang telah berganti warna.
Selamat untuk saya yang harus mandiri.
Selamat untuk saya yang harus menjalani setiap jengkal yang saya pilih.

Selamat, atas fase baru ini. Yang akan berputar, berliku mengikuti saya yang akan kembali. Dengan segala halang rintang dan pencapaian di masa depan. Dengan komitmen yang saya buat hari ini.

Saya mulai fase ini dengan harapan yang baru.

Pulang, dengan membawa kebanggaan.

Someday, will make this one! here


No comments:

Post a Comment

Kalau menurutmu, bagaimana?