[PoH]Renggut di Wajah Manismu

Sunday, February 26, 2012

Rhyme A. Black
PresenT
A NaruHina Fanfict
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Warning : OOC. AU. Misstypo.
Hope you enjoy it!
1... 2... 3... Take... Action!
~***~

Pict from here

"Melihatmu merenggut adalah hal termanis yang bisa kulihat di dunia ini..."
~***~

"Aduuuhh!!" perih menjalar di bagian belakang kepalaku, membuatku meringis dan menoleh ke belakang kemudian mendapati dirimu yang tengah nyengir kuda di belakangku. Selalu seperti ini, setiap pagi, di koridor yang sama. Kamu berjalan di belakangku dan menarik rambutku. Aku merenggut kesal, lalu berbalik meninggalkanmu. Aku sudah tahu kamu, semakin aku marah semakin kamu senang. Dan aku tidak ingin memberikan kamu kesenangan. Tidak sedikit pun.
"Aduuuhhh... aduuuhh... Kamu marah nih ceritanya?" tanyamu , seraya mensejajarkan langkahmu disampingku. Aku melirikmu lewat ekor mataku, dan mendapati mata biru cerahmu sedang berbinar-binar kesenangan.
"Nga—ngak tahu ih." jawabku singkat, berusaha mengacuhkanmu. Juga mengacuhkan jantung yang sudah berjungkir balik di dalam rongga dadaku.
Kamu hanya terkekeh, dan tangan kananmu merangkul bahuku sementara tangan yang lainnya kamu masukkan ke dalam saku celanamu.
Tolong. Sekali ini saja, kamu mengerti aku. Jangan buat aku semakin sesak napas dengan keberadaan dirimu di dekatku.
"Kamu iseng banget sih? Nggak ada kerjaan apa? Tiap pagi narik-narik rambut orang mulu..." omelku, namun pasti terdengar lirih di telingamu.
Dan lagi-lagi kau hanya terkekeh, membuat tiga goresan kedua pipimu itu makin terlihat dalam. "Kok tahu? Dukun yaa?"
"Da—dasar kurang kerjaan!" kataku, lalu berjalan cepat mendahuluimu.
"Ihhh ngambek, segitu aja marah." katamu lagi, menyusulku.
Namun aku hanya diam, tak ingin membalas perkataanmu lagi. Aku makin mempercepat langkahku, pintu kelasku sudah ada di depan mata dan itu adalah satu-satunya hal di pagi ini yang bisa aku temukan agar kamu tak terus mengekor di belakangku.
Namun, sepertinya kau tahu apa isi kepalaku. Dengan langkahmu yang panjang-panjang, kamu berjalan lebih cepat dan memutar tubuh tepat di depan mulut kelasku. menghalangi jalan masuk dengan tubuhmu yang jakung.
"A—aku... aku mau masuk, Naru-kun." kataku pelan berusaha melewati tubuhmu.
Tapi kau tetap bergeming. Malah melipat tangan dan menatapku dengan pandangan menyelidik.
"Naru-kun, aku mau masuk!" kataku lagi, mulai merenggut kesal. Kamu senang sekali mengacaukan moodku di pagi hari.
Dan juga membuat hatiku melonjak-lonjak kesenangan.
Aku melihatmu tersenyum lembut, membuatku menunduk menyembunyikan wajahku yang menghangat.
Kurasakan hangat napasmu di wajahku, kamu sedikit membungkuk di depanku. Lalu tangan berkulit kecoklatan milikmu meraih helaian rambut tersampir di bahuku.
"Rambutmu makin panjang ya? Dulu waktu es de gak kayak gini. Potongannya pendek banget, kayak cowok."
Mata putih keperakanku menatap wajahmu sekilas, sebelum kembali jatuh memandangi sepatuku.
Kamu menanyakan kenyataan yang ada di depan mata. Pertanyaan yang membuatku mengingat sejenak pertemuan pertama kita saat kita masih mengenakan seragam merah putih. Kamu yang dulu begitu sok jagoan—bahkan samai sekarang pun tetap begitu—pernah menantangku berkelahi karena aku yang begitu pendiam. Menurutmu aku begitu sok jual mahal tidak mau bergaul dengan kalian, anak laki-laki, padahal aku ini anak perempuan. 
Dari kecil kamu memang punya bakat mengintimidasi, karena ketakutan akan tingkahmu aku sampai menangis dan ibu guru datang menenangkanku—dan juga memarahimu. Setiap kali aku mengingat kejadian  itu, aku selalu saja ingin tertawa, mengingat wajah melongomu yang lugu ketika tahu kalau aku ini anak perempuan. Hmm, mungkin sejak saat itu kita mulai 'berteman'.
"Eheemmm. Tolong ya, kalau mau pacaran jangan di depan pintu. Pamali!" Suara deheman seseorang membangunkanku dari kenangan singkat tentang kita di masa kecil, kulihat kau melirik sebal pada sosok berambut kecoklatan dan berkulit pucat yang berdiri di belakangmu.
"Yeeee, sok tahu lu, Sai! siapa yang pacaran?! Rese lu." balasmu sengit, lalu menggeser tubuhmu, memberikan akses jalan kepada Sai untuk lewat. Dan kau pun kembali mensejajarkan tinggimu dengan tinggiku, menaruh tangan kirimu di kepalaku dan mengacak-acak rambutku.
"Belajar yang rajin ya, Tuan Putri. Dadaaaaahhhh!" katamu, sebelum kabur dariku.
Aku hanya mampu merenggut kesal sambil memperbaiki rambut hitam kebiruanku yang kau acak-acak tadi, menatap bayanganmu yang semakin jauh lalu menghilang di ujung koridor.
Sejujurnya, aku tidak pernah berharap kepadamu untuk menanyakan sepanjang apa rambutku, apa yang kupakai hari ini, bekal apa yang kubawa, atau mungkin belajar apa aku hari ini. Karena aku yakin kamu tahu semua itu, Naru-kun.
Aku selama ini hanya berharap, kamu menanyankan satu hal padaku. 
Bagaimana perasaanku terhadapmu.
Aku hanya ingin kau menanyakan hal itu. Agar aku bisa menjawabnya,
"Aku menyukaimu." lebih dari sekedar sahabat.
Dan aku tidak pernah menyesali rambut hitam kebiruan milikku ini, karena dari inilah aku bisa menjadi lebih dekat denganmu.
~***~

"Kalau ada orang di dunia ini yang bisa membuatmu merenggut kesal, Itu aku. Cuma aku."


------------------------------------
Selesaaaaiii!!! #gretek-gretekin jari #menguap
Gue gak tahu gimana alur cerita fanfic ini. Gaje sangaattt.
Aneh yaphz?

Dan aku mau mengucapkan...
Happy Birhtday Teteh Na, Abang Daniiii!!!

Cuma ini yang bisa gue kasih sebagai hadiah ulang tahun buat Teteh Na sama Abang Dani yang Ultahnya bulan Februari ini. Maaf ya, Teteh, Abang, Rhyme cuma bisa ngasih fanfic abal bin gaje begini. Hadeeeuuuhhh... ndak bermakna sekali ini hadiah beehhh...

#getok-getok tembok

#Fic ini ditulis dini hari, di tengah kegalauan gue memilih Universitas untuk menjadi tempat gue melabuhkan diri. Dan juga di tengah keresahan menjelang Try Out senin nanti. Dan juga di tengah kebingungan dan keresahan menjelang UN 2012
#Kendari, 26 Februari 2012 @ 03.00
#7Minggu menjelang UN2012


No comments:

Post a Comment

Kalau menurutmu, bagaimana?