Kenal Semuanya dan Nahkoda Ustadz

Monday, February 2, 2015

here

Postingan yang mengawali bulan Februari, bulan yang penuh cinta ini adalah postingan tentang gue yang pulang kampung dan masih tak jelas apakah akan kembali atau ndak.
Well, di sini gue cuma mau cerita tentang ppengalaman pulang kampung gue yang membosankan, tralalala....
Buat lo elo semua, yang sudah pernah atau sering pulang kampung naik mobil angkutan antarprovinsi, pasti salah satu atau salah dua dari teman penupang mobil kalian itu ada yang namanya 'Kenal Segalanya'. Siapa itu kenal segalanya? Dia adalah sesosok ibu-ibu atau bapak-bapak yang mengenal semua orang yang tidak lo kenal. Biasanya, setiap percakapan dengan orang ini akan diawali dengan...
"Dari mana, dek?"
"Dari Kendari..."
Kendari mana?"
"Kendari kota, kota lama..."
"Oh... kota lama, kenal sama bapak A? sama Ibu B? sama kakek C?"
Untung-untung kalau lo tahu sama orang yang dia maksud, dan bagus juga kalau lo bisa nyambung-nyambung omongan. Kalau ndak? Percakapan itu bakalan berakhir dengan garing dan tante-tante atau bapak-bapak itu akan beralih ke penumpang lain yang bakalan ditanya dengan pertanyaan yang sama.
Well, ditanya dengan orang yang seperti itu sih nggak buruk-buruk juga. Maksudnya kan ya biar keadaan di mobil nggak sunyi sepi kayak kuburan. But, terkadang pakem pertanyaan untuk membuka percakapan tuh selalu yang itu-itu aja. Ini berkesan bahwa kalau mau naik angkutan antarprovinsi, lo mesti tahu semua penduduk yang ada di kota asal lo.
Belum lagi nih, kalau seandainya si penanya mulai bawa-bawa nama pejabat yang katanya masih ada hubungan darah sama dia. ya Tuhannnn.... ini ibarat dapat pelajaran sejarah kota di dalam mobil. T.T
Tapi tak apalah, tak selamanya itu buruk karena dengan adanya orang yang seperti ini bisa melatih kita untuk ngomong sama orang asing, dan yang paling penting mendorong kita untuk tahu nama-nama pejabat daerah (apa deh)....

Nah, itu cerita di dalam mobil angkutan antarprovinsi, kalau yang selanjutnya ini giliran cerita pas di kapal feri.
nah, kan pas mau naik kapal tuh gue selalu dianterin sama teman mamaku, yang biasanya selalu dipanggil Puang Sul. Puang Sul dan istrinya dulu pernah tinggal di rumah gue, dan sekarnag sudah pindah ke Bajoe, Bone karena pindah tugas. Nah,  pas naik kapal, Puang Sul sempat kasih salam gitu sama nahkoda kapal. Pas gue liat tuh nahkoda... Busetttt... ustadz....
Dan cerita tak berhenti sampai di situ saja. Pas kapal sudah jalan, OTW ke Kolaka, kan makan waktu sekitar enam-delapan jam. Waktu itu gue habiskan dengan makan, tidur, dan baca novel. Nah pas edisi baca novel nih, yang bikin tengsin tapi menyejukkan hati. Kan gue baca novel sambil dengar musik. Pas lagi asyik baca novel ada yang nyeletuk di belakang gue.
"Wah, kalau baca beginian justru bikin kamu mengkhayal ini."
Besss... gue kaget nih, tapi gue abaikan aja karena paling ABK-ABK kapal yang gangguin. Lanjut aja baca novelnya. Eh, itu orang nggak pindah-pindah dari tempatnya, masih tetap berdiri di samping tempat duduk gue. Pas gue angakt kepala....
Astaghfirullah.... (harus alim, karena ini ustadz), ternyata itu Nahkoda Ustadz yang tadi. Langsung tutup novel gue, dan sok nunduk-nunduk kayak anak alim. Terus gue pikir pas gue tutup buku, Nahkodanya bakalan pergi. Ternyata, dia malah ceramah di situ, ini penumpang-penumpang di ruang eksekutif kena kultum tengah malam. Mulai dari perkara baca buku novel (cerita yang membuat kita mengkhayal) sampai membaca surah Yaasin di pagi hari. Dan itu semua karena gue kedapatan baca novel.
Ya kan gue nggak tahu kalau nahkoda kapal yang gue  tumpangi ini sering patroli...
T.T
Asli malu banget gue, lebih malu ketimbang pas kedapatan nonton Naruto di Perpustakaan waktu masih SMP dulu. Malu malu malu abiesss....
Malu nggak tahu kenapa.
Terus bagian menyejukkan hatinya di mana?
Kan ini kepulangan gue dalam rangka sesuatu-yang-tidak-bisa-disebutkan-kenapa. Dan gue tuh drop banget, karena masa depan perkuliahan gue ini berada diambang cuti atau tetap lanjut. Asli rasanya berat banget. Terlebih lagi kan semester enam ini adalah semester terberat terakhir dari delapan semester yang ada.
Dan pas mendengar kultum dari Pak Nahkoda tadi, ada beberapa hal menggugah gue untuk instrospeksi diri. Betapa gue selama ini jarang banget dapat siraman rohani plus mulai renggang-renggang gitu deh sama Tuhan. Well, mungkin Pak Nahkoda itu adalah sosok kiriman Tuhan untuk menyadarkan gue, si hamba yang kampret ini.

Ini aja deh, yang sempat gue cerita untuk perjalanan pulang kampung gue kali ini. Pelajaran yang bisa diambil adalah sering-seringlah nonton berita, baca koran, dan ngomong biar nggak kudet dan kalau mau baca novel, lihat-lihat dulu, ada ustadz atau nggak! Oke?

See you in the next post!

1 comment:

Kalau menurutmu, bagaimana?